DENPASAR |BUSERKOTA Com —
Malam pergantian tahun seharusnya menjadi perayaan cahaya. Namun di Jalan Akasia XVI B, Denpasar Timur, waktu justru berubah menjadi luka. Denting petasan yang semula hanya letupan gembira, perlahan menjelma menjadi tombak amarah—menusuk seorang perantau asal Nusa Tenggara Timur, jauh dari tanah ibunya.
Adalah Kristianus Bayu AP Soares, akrab disapa Abay, pria asal Kabupaten Belu, NTT. Pada Rabu (31/12/2024) sekitar pukul 19.00 WITA, ia menjadi korban penyerangan menggunakan tombak di depan sebuah kos di Banjar Buaji Anyar, Kelurahan Kesiman, Denpasar Timur. Telapak dan pergelangan tangan kanannya robek, sementara luka tusuk bersarang di bagian bawah perut—luka yang bukan hanya mengoyak tubuh, tetapi juga rasa aman.
Abay malam itu datang dengan niat sederhana: menemui seorang kawan lama, Dino, di kos Jalan Akasia. Ia duduk di teras, menunggu, sementara temannya mandi. Di depan kos, beberapa anak bermain petasan—riak kecil kegembiraan khas malam tahun baru. Teguran Abay agar suara petasan dihentikan menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan.
Tak lama kemudian, suasana berubah. Seorang pria berinisial GK, yang diduga orang tua salah satu anak, datang bersama beberapa warga lain. Di tangan mereka, tombak. Tidak ada dialog panjang. Tidak ada ruang penjelasan. Yang ada hanya gerak cepat, amarah singkat, dan luka panjang.
“Saat saya mandi, korban masih menjawab ketika saya panggil. Tapi tidak lama kemudian, dia tak lagi menyahut. Ketika saya keluar, dia sudah tidak ada. Warga sudah ramai. Tak lama kemudian dia datang dengan luka di tangan dan perut, bilang habis dikeroyok dan minta dibawa ke rumah sakit,”
tutur Frelydino Nyongkianus Leki, saksi mata.
Warga sekitar panik. Malam yang seharusnya riuh oleh doa dan tawa mendadak dipenuhi teriakan dan langkah tergesa. Beruntung, warga lain segera melerai. Abay dilarikan ke RSAD Udayana, Denpasar Barat, untuk mendapatkan perawatan medis. Nyawanya selamat—namun malam itu telah meninggalkan bekas yang tak kasat mata.
Peristiwa ini bukan sekadar perkara kriminal. Ia adalah potret rapuhnya ruang toleransi, betapa tipisnya batas antara teguran dan tragedi. Dari petasan ke tombak, dari suara gaduh ke darah yang mengalir—semuanya terjadi dalam hitungan menit.
Kapolsek Denpasar Timur Kompol I Ketut Tomiyasa membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan bahwa pihak kepolisian telah melakukan penanganan sesuai prosedur hukum. Proses hukum berjalan, sementara luka—baik fisik maupun batin—memerlukan waktu untuk sembuh.
“Kekerasan tidak pernah lahir dari kekosongan. Ia tumbuh dari amarah yang tak sempat didinginkan, dari kata yang tak sempat dijelaskan,”
(Catatan Redaksi)
Bagi Abay, ia adalah seorang anak NTT yang merantau, membawa mimpi sederhana di tanah orang. Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi cermin—bahwa di tengah perayaan, kesabaran adalah ibadah paling sunyi, dan dialog adalah cahaya yang kerap kita padamkan terlalu cepat.
Malam tahun baru itu berlalu. Petasan habis terbakar. Darah telah dibersihkan. Namun pertanyaan tetap tinggal: apakah kita masih mampu menahan amarah sebelum tangan berubah menjadi senjata?
“Hukum akan bekerja, tetapi kemanusiaan harus dijaga. Kota yang besar bukan yang keras, melainkan yang mampu menyelesaikan luka tanpa menambah luka,”
(Refleksi)
Denpasar, dan kita semua, patut belajar dari malam ini—bahwa damai bukanlah slogan, melainkan keputusan yang harus diambil setiap detik, bahkan ketika emosi meminta jalan pintas.














