Ketika Cinta, Amarah, dan Media Sosial Bertabrakan di Tanah Rantau
KALIMANTAN |BUSERKOTA.Com)–Di tanah rantau yang seharusnya menjadi ladang harapan, seorang perempuan bernama Santri justru menjelma kabar duka. Dua hari dua malam ia dicari—seperti jarum jatuh di hamparan kebun sawit Kalimantan—namun yang ditemukan bukanlah kelegaan, melainkan luka, amarah, dan rekaman video yang terlanjur beredar ke mana-mana.
Ia bukan hilang.
Ia berdiam di kamar orang lain.
Kisah yang Menjadi Viral
Santri, pekerja kebun kelapa sawit asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan tak pulang ke rumah selama dua hari dua malam. Suami dan para tetangga menyusuri lorong-lorong pemukiman buruh, menebak-nebak nasib seorang istri di negeri orang.
Namun takdir berkata lain.
Santri ditemukan di kamar seorang pria beristri bernama Dedi.
Lebih dari sekadar keberadaan, detail kecil berubah menjadi api besar:
ia mengenakan kaus putih milik Dedi—sebuah simbol yang bagi sebagian orang cukup untuk menyalakan tuduhan, bagi yang lain cukup untuk meruntuhkan kepercayaan.
Amarah pun meledak.
Suami Santri diduga memukul istrinya hingga babak belur—sebuah kekerasan yang lahir dari rasa dipermalukan, cemburu, dan luka harga diri.
Peristiwa itu direkam.
Diviralkan.
Dikirim ke kampung halaman.
“Biar kita videokan, kirim ke kampung supaya orang tahu.
Suami kerja, dia tidur di kamar laki-laki beristri dua hari dua malam.
Perempuan tidak tahu malu.”
— Suara salah satu keluarga suami dalam rekaman
Media sosial pun bekerja seperti angin ribut: cepat, kejam, dan tanpa belas kasihan.
Bantahan di Tengah Tuduhan
Di hadapan suami dan aparat keamanan, Santri membantah.
Ia bersikeras tak melakukan apa pun yang dituduhkan.
“Au ka moe fa sa… mnao mlapor kau.”
Saya tidak berbuat apa-apa. Silakan lapor saya.
Namun di ruang publik digital, bantahan sering kalah cepat dari prasangka.
Video telah berbicara lebih dulu.
Netizen telah mengadili sebelum hukum bekerja.
Luka yang Lebih Dalam dari Perselingkuhan
Peristiwa ini bukan sekadar soal setia atau tidak setia.
Ia adalah potret rapuhnya relasi manusia di bawah tekanan ekonomi, jarak, dan kesepian.
Tanah rantau kerap membuat cinta seperti tanaman tanpa pagar:
mudah diinjak, mudah dicabut, mudah dirusak.
Namun ada garis tegas yang tak boleh dilanggar:
kekerasan bukan jawaban atas dugaan pengkhianatan.
Memukul pasangan—apa pun alasannya—adalah kegagalan paling telanjang dari cinta dan akal sehat.
Lebih menyakitkan lagi, kamera ponsel berubah menjadi senjata, dan media sosial menjadi ruang penghakiman massal yang tak mengenal asas praduga tak bersalah.
Siapa Bertanggung Jawab?
- Santri, jika terbukti melanggar komitmen rumah tangga, bertanggung jawab secara moral pada pasangan dan dirinya sendiri.
- Suami, bertanggung jawab penuh atas dugaan kekerasan fisik—karena hukum tak pernah membenarkan amarah sebagai alasan memukul.
- Pihak yang memviralkan, bertanggung jawab atas dampak sosial, psikologis, dan martabat manusia yang tercederai.
- Negara dan aparat, bertanggung jawab memastikan hukum berjalan adil, tanpa tekanan opini publik.
Dampak yang Tak Bisa Dihapus
- Trauma psikologis pada korban
- Stigma sosial yang melekat seumur hidup
- Keretakan keluarga besar
- Normalisasi kekerasan domestik
- Budaya viral yang mengalahkan empati
Sekali video menyebar, tak ada tombol hapus untuk harga diri.
Pelajaran untuk Suami-Istri dan Publik
Bagi pasangan:
- Masalah rumah tangga bukan konsumsi publik
- Kekerasan adalah tanda kalah, bukan menang
- Komunikasi lebih kuat dari kecurigaan
Bagi publik:
- Jangan cepat menghakimi
- Jangan membagi luka orang lain demi hiburan
- Empati lebih penting daripada sensasi
Santri, suaminya, dan Dedi adalah manusia biasa—bukan tokoh sinetron.
Namun ketika kisah mereka jatuh ke tangan media sosial, mereka kehilangan hak untuk salah secara manusiawi.
Di tanah rantau, mereka datang untuk mencari hidup.
Yang mereka temukan justru pengadilan tanpa hakim dan hukuman tanpa palu.
Dan kita, sebagai penonton, perlu bertanya pada diri sendiri:
apakah kita sedang mencari kebenaran—atau sekadar menikmati runtuhnya orang lain?














