MIMIKA | BUSERKOTA.Com —
Pelabuhan Perikanan Poumako, di timur Mimika, biasanya menyimpan riuh yang sederhana: derit tali kapal, bau asin laut, dan harap para nelayan yang pulang membawa hidup. Namun pada Minggu, 11 Januari 2026, ruang sunyi di gerbang laut itu menyimpan ancaman yang lebih senyap—narkotika, yang menyusup tanpa suara, menunggu kesempatan merusak masa depan.
Ancaman itu tak sempat berlabuh.
Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Timika, bersama aparat gabungan, menghentikannya tepat di ambang pelabuhan.
Pengungkapan kasus tersebut dipaparkan dalam press rilis di Mako Lanal Timika, Rabu (14/1/2026), yang dihadiri Danlanal Timika Letkol Laut (P) Bekti Sutiarso, Ketua LAN Timika Mawar Soplanit, serta perwakilan BBNK Mimika.
Di hadapan awak media, Danlanal menegaskan bahwa operasi ini bukan sekadar penindakan, melainkan pesan moral tentang tanggung jawab negara menjaga ruang-ruang strategis dari kejahatan yang kerap menyamar dalam aktivitas harian.
“Pengungkapan ini adalah bukti keseriusan TNI AL dalam mendukung pemberantasan narkoba. Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku kejahatan narkotika, terutama di area strategis seperti pelabuhan,”
Letkol Laut (P) Bekti Sutiarso, Danlanal Timika.
Tiga Nama, Satu Ancaman yang Sama
Dalam operasi tersebut, aparat mengamankan tiga orang terduga pelaku berinisial AS (38), AJA (37), dan RFB (36). Dari tangan mereka, petugas menyita dua bungkus ganja kering ukuran besar dan sedang, satu paket sabu dalam plastik bening, alat hisap, serta uang tunai Rp330.000.
Barang-barang itu mungkin tampak kecil dalam timbangan ekonomi kejahatan, namun dampaknya bisa tak terukur—merambah rumah tangga, mematahkan produktivitas, dan menggerogoti ketertiban sosial.
Pelabuhan: Ruang Publik, Tanggung Jawab Bersama
Bagi Lanal Timika, keberhasilan ini melampaui statistik penangkapan. Ia adalah upaya menyelamatkan ruang publik—pelabuhan—dari menjadi simpul gelap peredaran narkotika.
“Kami ingin masyarakat merasa aman, dan percaya bahwa hukum hadir hingga ke titik-titik terluar,” ujar Danlanal, menegaskan bahwa pengamanan pelabuhan adalah bagian dari menjaga nadi ekonomi rakyat.
Ke depan, Lanal Timika berkomitmen memperketat pengawasan kawasan pelabuhan, melakukan pemeriksaan rutin kapal dan awak, serta meningkatkan sosialisasi kepada nelayan, pelaku usaha perikanan, dan pekerja pelabuhan agar berperan aktif melaporkan aktivitas mencurigakan.
“Sinergi adalah kunci. Kami akan terus bekerja profesional bersama BNN dan Kepolisian dalam penyelidikan dan penindakan,” tambahnya.
Refleksi Etik Hukum: Menjaga Keadilan, Menghormati Asas
Pengungkapan ini juga mengingatkan publik dan aparatur penegak hukum pada satu prinsip penting: ketegasan harus berjalan seiring kehati-hatian. Penindakan narkotika adalah keharusan, namun asas praduga tak bersalah tetap menjadi fondasi etis dalam setiap proses hukum.
Di sisi lain, kasus ini memberi pelajaran bahwa kejahatan narkotika tak selalu datang dari luar dengan wajah asing. Ia kerap menyelinap lewat jalur ekonomi rakyat, memanfaatkan kelengahan, dan menunggu celah. Karena itu, pencegahan tak cukup hanya dengan patroli—ia membutuhkan kesadaran kolektif.
Pelabuhan Poumako hari itu diselamatkan.
Namun perjuangan menjaga laut, darat, dan masa depan Mimika dari narkotika—adalah kerja panjang yang menuntut konsistensi, integritas, dan keberanian moral.














