Kisah Tragis Seorang Prajurit Muda yang Pulang Tinggal Nama
KUPANG |BUSERKOTA.Com)– Hidup Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23) seharusnya baru saja dimulai. Lima bulan lalu ia mengenakan seragam loreng dengan kebanggaan seorang prajurit muda. Kini, jasadnya terbujur kaku di peti mati, pulang ke tanah kelahirannya bukan sebagai pahlawan yang gugur di medan perang, melainkan korban kekerasan dari rekan seperjuangan.
Rabu (6/8/2025), pukul 11.23 Wita, di ruang ICU RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Lucky menghembuskan napas terakhirnya. Sebelum ke sana, tubuhnya sudah babak belur. Selang dan tangan kosong menjadi alat pemukul. Pelakunya bukan musuh, melainkan para senior di Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere—satu kesatuan yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi seorang prajurit.
“Bahwa memang benar telah terjadi pemukulan terhadap Prada Lucky Chepril Saputra Namo yang dilakukan oleh beberapa orang seniornya,”
— Kutipan laporan intelijen yang diperoleh media, Jumat (8/8).
Laporan Staf-1/Intel Yonif 834/WM itu menyebut jumlah pelaku mencapai 20 orang, dibagi dalam dua kelompok: pemukul dengan selang dan pemukul dengan tangan. Nama-nama mereka kini tercatat rapi dalam dokumen resmi.
Awal dari Luka
Kronologi bermula pada Minggu (27/7) malam. Lucky diperiksa terkait dugaan “penyimpangan seks (LGBT)” bersama seorang rekannya, Prada Ricard Junimton Bulan. Pemeriksaan berlangsung di kantor Staf-1/Intel.
Keesokan paginya, Senin (28/7), Lucky sempat mencoba melarikan diri saat meminta izin ke kamar mandi. Ia ditemukan di rumah seorang warga bernama Ibu Iren, yang disebut sebagai ibu asuhnya. Lucky kemudian dibawa kembali ke markas.
Tak lama setelah itu, sejumlah senior mendatangi kantor intel membawa selang. Mereka memukul Lucky bergantian. Padahal, perintah dari Danyonif TP/834 Letkol Inf Justik Handinata sudah jelas: “Tidak ada kekerasan dalam mendidik junior.” Perintah itu seperti angin lalu.
Pukulan yang Berulang
Kekerasan tidak berhenti di situ. Pada Rabu (30/7) dini hari, empat prajurit kembali mendatangi sel tempat Lucky dan Ricard ditahan. Mereka memukul dengan tangan kosong. Luka demi luka bertumpuk di tubuhnya.
Sabtu (2/8), Lucky mulai muntah-muntah. Bersama Ricard, ia dibawa ke Puskesmas Kota Danga. Ricard pulang, Lucky dirujuk ke RSUD Aeramo karena kadar hemoglobinnya sangat rendah.
Hari-Hari Terakhir
Minggu (3/8), Lucky sempat membaik. Ia bercanda dan tertawa saat dikunjungi Ibu Iren pada Senin (4/8) malam. “Dia makan, tertawa, saya pikir besok bisa pulang,” kata Ibu Iren. Tapi pukul 23.30 Wita, kondisinya memburuk dan ia dipindahkan ke ICU.
Selasa (5/8) dini hari, ventilator dipasang untuk membantunya bernapas. Namun takdir tak bisa diundur. Sehari kemudian, napasnya terhenti untuk selamanya.
Proses Hukum Berjalan
Sebelumnya, Komandan Kompi C Yonif TP/834/WM, Lettu Inf Rahmat, mengungkap bahwa pihaknya telah mengamankan empat prajurit berpangkat Pratu yang diduga terlibat pemukulan. Mereka kini berada di Sub Denpom Ende untuk pemeriksaan.
“Setelah olah TKP, kami temukan empat orang terduga pelaku. Tapi hasil intelijen menyebut jumlahnya jauh lebih banyak,” ujar Lettu Rahmat, Kamis (7/8).
Antara Norma dan Nyawa
Motif yang disebut-sebut sebagai “penyimpangan seks” kini memicu perdebatan. Sebab, apapun alasan yang melatarbelakanginya, kematian Lucky menjadi potret kelam bahwa di balik disiplin militer, masih saja ada ruang bagi kekerasan yang membunuh.
Lucky tak pernah sempat pulang membawa cerita kemenangan. Ia pulang dalam diam, tubuhnya terbujur di peti kayu, meninggalkan pesan yang mungkin tak sempat diucapkan: bahwa tak ada pendidikan yang pantas dibayar dengan nyawa.














