Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Hukum & KriminalPeristiwa

Di Bawah Langit Puncak Jaya: Ketika Jejak Male Telenggen Berakhir di Honai Sunyi

176
×

Di Bawah Langit Puncak Jaya: Ketika Jejak Male Telenggen Berakhir di Honai Sunyi

Sebarkan artikel ini

PUNCAK JAYA [BUSERKOTA.Com] — Di tengah bisu heningnya lereng-lereng berkabut Puncak Jaya, pada Sabtu sore (19/7/2025), satu babak baru tercipta dalam sejarah panjang penegakan hukum di Papua Tengah. Male Telenggen, salah satu nama yang lama menghantui catatan hitam keamanan wilayah pegunungan, akhirnya ditangkap oleh tim Satgas Operasi Damai Cartenz dalam operasi senyap penuh ketegangan.

Penangkapan itu terjadi di sebuah honai terpencil di Kampung Wuyuneri, saat mentari mulai condong di ufuk barat. Male Telenggen, anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) dari jaringan Lekagak Telenggen, tak berkutik saat personel menjemputnya berdasarkan deteksi observasi udara yang sebelumnya mengintai jejaknya.

“Penangkapan ini adalah bukti komitmen kami dalam menjaga tanah Papua agar tetap damai. Male Telenggen termasuk DPO prioritas karena keterlibatannya dalam sejumlah aksi kekerasan berdarah,” ujar Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., Kepala Operasi Damai Cartenz, yang didampingi Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.Sos., S.I.K., M.H.

Nama Male Telenggen bukan sekadar catatan administratif dalam daftar pencarian orang. Ia adalah sosok yang diduga kuat terlibat dalam dua kasus kejahatan kemanusiaan: penembakan terhadap Serka Jefri di Sport Center, Kampung Luguneri, pada 15 Agustus 2024, dan pembunuhan keji terhadap warga sipil, Edi Hermanto, di Pasar Sentral Kota Mulia, 12 Juli 2025.

Dalam aksi terakhirnya, Male diketahui menjadi pengendara sepeda motor yang membonceng pelaku utama penembakan, Nanubingga Enumbi, menandai keterlibatan langsungnya dalam jaringan kekerasan yang mengusik damai di Tanah Papua.

Dari penggeledahan di lokasi, aparat berhasil mengamankan sejumlah barang bukti yang menyiratkan sisi lain dari keseharian pelaku:

  • 1 unit handphone merek Samsung
  • 2 buah noken
  • 1 buah noken kepala
  • 9 buah kalung
  • 1 buah jaket berwarna cokelat

Barang-barang itu—yang barangkali dulunya digunakan untuk menyamar, bersembunyi, atau mungkin sebagai simbol identitas budaya—kini menjadi saksi bisu dari runtuhnya sebuah persembunyian panjang.

“Kami masih mengembangkan penyelidikan lebih lanjut, terutama soal dugaan keberadaan senjata api yang masih disimpan oleh jaringan KKB Yambi,” ungkap Kombes Pol. Yusuf Sutejo, S.I.K., M.T., selaku Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjadi bagian dari barisan penjaga damai:

“Jika ada gerak-gerik mencurigakan di sekitar lingkungan, jangan ragu melaporkannya. Papua adalah milik kita bersama. Damai itu indah dan harus kita rawat.”

Kini, ketika malam mulai menyelimuti Puncak Jaya, dan langit menyimpan sunyi di atas honai yang telah lama jadi pelarian, satu pesan mengalir pelan namun pasti: kejahatan tak akan pernah abadi, selama cahaya keadilan masih menyala di dada para penjaga negeri.

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *