Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaInfo PublikPemerintahanPeristiwaPolitik

Negeri Ini Masih Bernapas Karena Kasih Sayang”:

141
×

Negeri Ini Masih Bernapas Karena Kasih Sayang”:

Sebarkan artikel ini

Terima Kasih untuk Presiden dan Indonesia yang Tak Meninggalkan Rakyatnya

Oleh: Redaksi Buserkota.com

Jakarta
Di tengah lumpur yang belum mengering, jembatan yang terputus, dan perut-perut yang menunggu beras datang, Indonesia memilih berdiri di atas kakinya sendiri. Tanpa gemuruh panggung dunia, tanpa sorak bantuan asing, negeri ini bekerja dalam sunyi—menyusuri pedalaman, menembus hujan, memeluk warganya yang terluka.

Rasa haru itu yang disampaikan Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H, M.H. Bukan sekadar sebagai pakar hukum internasional dan ekonom nasional, melainkan sebagai anak bangsa yang menyaksikan bagaimana negara hadir ketika rakyatnya hampir menyerah.

“Saya bangga pada Presiden saya. Bangga pada Indonesia.
Di saat bencana datang bertubi-tubi, negara ini memilih menolong rakyatnya dengan kemampuan sendiri. Itu bukan sekadar kebijakan—itu adalah martabat bangsa,”

ujar Prof. Sutan Nasomal kepada para pemimpin redaksi media nasional dan internasional, dari Jakarta, melalui sambungan telepon seluler.

Negara Hadir, Cepat dan Manusiawi

Ucapan terima kasih itu ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Jenderal (Purn) H. Prabowo Subianto, yang bersama TNI dan Polri bergerak cepat memberikan bantuan kepada masyarakat di wilayah bencana—dengan kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang.

Pasca kunjungan Presiden ke Aceh yang dilanda banjir besar pada Desember 2025, sejumlah arahan strategis dikeluarkan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan. Arahan itu bukan sekadar administratif, melainkan menyentuh denyut hidup masyarakat.

Empat di antaranya menjadi sorotan:

  • Percepatan Pemulihan Infrastruktur
    Presiden menunjuk Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sebagai komandan percepatan perbaikan infrastruktur vital, termasuk pembangunan Jembatan Bailey Teupin Mane di ruas Bireuen–Takengon, dengan target rampung dalam satu hingga dua pekan.
  • Jaminan Kebutuhan Pangan
    Negara memastikan dapur rakyat tetap mengepul. Bantuan pangan dikirim lintas daerah agar tak satu pun warga terdampak dibiarkan lapar.
  • Bantuan Tepat Sasaran
    Presiden menegaskan penyaluran bantuan harus menyentuh langsung masyarakat terdampak, termasuk hunian sementara dan hunian tetap.
  • Menjaga Lingkungan sebagai Mitigasi
    Bencana bukan sekadar takdir, tetapi peringatan. Lingkungan harus dijaga agar tragedi serupa tak terulang.

Dalam rapat terbatas usai peninjauan, Presiden juga memberi perhatian pada logistik, kesehatan, dan pendidikan di wilayah bencana. Bahkan, polemik wilayah diselesaikan dengan keputusan pengembalian administrasi empat pulau ke Aceh—sebuah langkah politik yang menenangkan luka lama.

Di Balik Peta, Ada Manusia yang Bertahan

Namun, Prof. Sutan Nasomal tidak menutup mata. Di balik laporan resmi, ada kenyataan pahit yang masih harus dihadapi.

Puluhan jembatan dan akses jalan terputus. Daerah pedalaman terisolasi. Sumatera telah hampir sebulan bergulat dengan bencana alam. Pencarian warga yang hilang—terkubur lumpur dan air—masih berlangsung, dengan keterbatasan tim ahli dan luasnya wilayah terdampak.

“Tidak mudah membawa bantuan ke daerah yang jalannya sudah hilang.
Tidak cukup hanya TNI dan Polri. Dibutuhkan relawan besar, ahli, dan terlatih,”

tegas Prof. Sutan Nasomal.

Di beberapa wilayah, listrik dan jaringan internet masih padam. Ribuan warga mengungsi dalam kondisi lapar dan rentan penyakit. Air bersih langka. Gas dan bensin tersendat distribusinya. Beras dan kebutuhan memasak menjadi barang mewah.

Di sejumlah titik, bendera putih berkibar—tanda rakyat sudah di batas kemampuan bertahan. Hujan dan cuaca ekstrem terus memperberat penderitaan.

Solidaritas Adalah Nafas Terakhir Harapan

Prof. Sutan Nasomal menyampaikan apresiasi mendalam kepada para relawan kemanusiaan yang telah menembus pedalaman, membawa bukan hanya logistik, tetapi juga harapan.

“Setiap bantuan dari masyarakat Indonesia sangat berarti.
Pemulihan bisa memakan waktu lama. Yang penting sekarang, rakyat merasa tidak sendirian,”

katanya lirih.

Ia juga mengingatkan bahwa kelaparan dan penyakit dapat menyebar dengan cepat di wilayah bencana. Karena itu, perhatian Presiden dan sinergi pemerintah pusat, daerah, masyarakat, serta—bila diperlukan—bantuan dari luar negeri menjadi krusial.

“Ini bisa menjadi krisis panjang, bahkan setahun lebih.
Yang dibutuhkan bukan hanya bantuan, tapi keahlian dan kemanusiaan,”

tutupnya.

Indonesia dan Pilihan untuk Peduli

Di tengah reruntuhan dan luka, Indonesia memilih satu hal: tidak meninggalkan rakyatnya. Dan di sanalah, di antara lumpur, hujan, dan tangan-tangan yang saling menggenggam, negeri ini masih bernapas—oleh cinta.

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H, M.H
Pakar Hukum Internasional | Ekonom Nasional
Presiden Partai Oposisi Merdeka
Jenderal Kompii
Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *