Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Parang di Leher Senja: Nyawa yang Diselamatkan di Perbatasan

217
×

Parang di Leher Senja: Nyawa yang Diselamatkan di Perbatasan

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA | BUSERKOTA.COM“Kami datang hanya beberapa menit setelah laporan masuk. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin ceritanya sudah lain,” tutur Ipda Yusran, Kapolsek Tasifeto Timur, dengan nada lega namun masih menyisakan getar di ujung kalimat.

Siang itu, di Desa Sadi, Tasifeto Timur, matahari menimpa atap rumah beratap ilalang ketika warga tergopoh menyaksikan pemandangan mengerikan: seorang pria paruh baya berdiri di halaman rumahnya dengan leher bersimbah darah, parang masih tergeletak di tanah. Ia bernama DMB, umur 51 tahun, warga yang dikenal pendiam namun kerap diserang gejolak di kepala sejak beberapa bulan terakhir.

Tak ada yang berani mendekat. Warga hanya terpaku, antara takut dan iba, sebelum tubuh DMB ambruk di tanah. Dalam hitungan menit, personel Polsek Tasifeto Timur tiba di lokasi, mengamankan parang, lalu bersama warga mengevakuasi korban menggunakan sepeda motor menuju RSUD Mgr. Gabriel Manek SVD Atambua. Ambulans tak sempat datang — waktu terlalu berharga untuk ditunggu.

“Kami hanya berpikir bagaimana menyelamatkan nyawanya,” ujar seorang anggota Bhabinkamtibmas yang ikut menandu korban di jalan berbatu itu.

Luka sayat di leher DMB sepanjang enam sentimeter dan lebar tiga sentimeter. Dokter menyebutnya kritis tapi bisa ditolong. Nyawanya selamat — meski tipis setipis bilah parang yang melukainya.

Menurut Yuliana Abu Leto, istri korban, malam sebelumnya sang suami tampak gelisah, bicara sendiri, dan menyuruh mereka pergi dari rumah. “Dia bilang ada orang mau datang. Saya takut, jadi kami tidur di rumah saudara,” kisahnya dengan mata basah.

DMB memang pernah dirawat karena gangguan saraf. Warga pun mengaku kerap melihatnya marah-marah tanpa sebab. Hari itu, gejolak itu datang lagi — tapi Tuhan masih memberi jeda.

Kini DMB dirawat intensif di rumah sakit. Polisi menunggu saat yang tepat untuk memintanya bicara, mencoba menelusuri apa yang sesungguhnya mendorong seorang ayah mengarahkan parang pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Kapolsek Yusran mengingatkan masyarakat agar peka terhadap tanda-tanda tekanan jiwa di sekitar mereka. “Kadang orang tidak butuh nasihat panjang, hanya butuh didengar. Jika ada yang mulai tak biasa, laporkan, bantu, jangan biarkan sendiri,” katanya.

Di sebuah pelosok perbatasan, antara sunyi dan sepi, aparat dan warga hari itu menulis kisah kecil tentang kecepatan, empati, dan nyawa yang kembali dari ambang maut.


Tagline:
BUSERKOTA.COM – Mengungkap Fakta Hukum dan Kriminal Menjaga Nurani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *