Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaOlahragaPeristiwa

Sabuk Hitam di Bawah Panji Jayakarta: Ketika Bela Diri Menjadi Wibawa Kehormatan Prajurit

95
×

Sabuk Hitam di Bawah Panji Jayakarta: Ketika Bela Diri Menjadi Wibawa Kehormatan Prajurit

Sebarkan artikel ini

BEKASI  |BUSERKOTA.Com— Riuh tepuk tangan menggema di dalam GOR Chandrabhaga, Bekasi Selatan, Selasa kemarin (12/5/2026). Di bawah sorot lampu arena, ratusan prajurit berdiri tegap dengan tatapan penuh disiplin. Seragam loreng, ikat kepala pencak silat, dan semangat persaudaraan melebur menjadi satu dalam sebuah momentum yang bukan sekadar seremoni—melainkan peneguhan kehormatan, loyalitas, dan jati diri prajurit.

Danrem 051/Wijayakarta Brigjen TNI Nugroho Imam Santoso, S.E., M.M., mendampingi Pangdam Jaya Letjen TNI Deddy Suryadi, S.I.P., M.Si., menghadiri kegiatan Pengukuhan Pengurus Provinsi (Pengprov), Pengurus Cabang (Pengcab), serta Penyematan Sabuk Hitam Kehormatan Perguruan Pencak Silat Militer (PSM) Wilayah Kodam Jaya/Jayakarta.

Acara yang dipimpin Kadisjasad Brigjen TNI Andri Amijaya Kusumah, S.Sos., M.H., M.Han., selaku Ketua Pengurus Pusat PSM itu diikuti sekitar 1.700 peserta. Jumlah besar itu menjadi gambaran bahwa pencak silat militer bukan hanya seni bela diri, melainkan ruang pembinaan karakter dan soliditas prajurit di tengah dinamika pertahanan modern.

Di tengah barisan yang rapi dan langkah-langkah tegas para peserta, suasana terasa lebih khidmat saat prosesi pengukuhan dimulai. Nama demi nama dibacakan sebagai bagian dari struktur kepengurusan baru Perguruan Pencak Silat Militer wilayah Kodam Jaya/Jayakarta.

Pangdam Jaya/Jayakarta dipercaya sebagai Ketua Dewan Pembina PSM Pengprov DKI Jakarta, didampingi Kasdam Jaya sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina. Sementara Danrem 051/WKT menjabat Ketua Dewan Pembina PSM Pengcab Jakarta Timur dan Danrem 052/WKR menjabat Ketua Dewan Pembina PSM Pengcab Jakarta Barat.

Momen paling menyita perhatian terjadi ketika penyematan sabuk hitam kehormatan dilakukan kepada 91 personel Kodam Jaya yang telah mencapai tingkat Sabuk Hitam Pencak Silat Militer, termasuk Pangdam Jaya Letjen TNI Deddy Suryadi.

Di arena itu, sabuk hitam bukan hanya kain yang melingkar di pinggang. Ia menjelma simbol ketekunan, pengendalian diri, keberanian, dan loyalitas yang ditempa dalam disiplin panjang seorang prajurit.

╔══════════════ ❖ ══════════════╗
“Perguruan Pencak Silat Militer menjadi bagian penting dalam pembinaan karakter, kehormatan, dan soliditas prajurit di wilayah Kodam Jaya/Jayakarta.”
╚══════════════ ❖ ══════════════╝

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi bela diri nusantara tetap dipertahankan di tengah perkembangan teknologi pertahanan modern. Pencak silat militer kini tidak hanya dipandang sebagai kemampuan fisik, tetapi juga instrumen pembentukan mental, ketahanan emosional, dan jiwa kepemimpinan prajurit TNI.

Dalam konteks itu, pengukuhan kepengurusan dan penyematan sabuk hitam kehormatan bukan sekadar agenda organisasi. Ia menjadi penegasan bahwa kekuatan militer Indonesia tetap berpijak pada akar budaya bangsa sendiri—menggabungkan ketegasan komando dengan nilai luhur warisan nusantara.

Di penghujung acara, tepuk tangan kembali pecah saat para peserta berdiri memberi penghormatan. Di antara denting semangat dan langkah-langkah tegap para prajurit, tersirat satu pesan yang tak pernah lekang oleh zaman: bahwa kehormatan sejati seorang prajurit bukan hanya diukur dari kekuatan tangan, tetapi juga dari keteguhan jiwa yang menjaga marwah bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *