Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaPeristiwaPolitik

Jalan Lotas KM 10 Putus Total , Hati Warga Ikut Retak”

177
×

Jalan Lotas KM 10 Putus Total , Hati Warga Ikut Retak”

Sebarkan artikel ini

Jeritan warga dari Lotas Kilometer 10 untuk Wakil Rakyat yang Setiap Hari Melintas di Atas Luka Rakyat

LOTAS |BUSERKOTA.Com-Di setiap pagi yang dingin di kaki perbukitan KM 10 Lotas, Kecamatan Rinhat, roda-roda kehidupan biasanya bergerak perlahan menuju Kota Betun. Anak-anak sekolah berangkat membawa mimpi, para ibu membawa hasil kebun, sopir angkutan desa membawa harapan penumpang yang ingin tiba dengan selamat di ibu kota Kabupaten Malaka.

Namun kini, sejak pagi , harapan itu seperti tertimbun bersama longsoran tanah di jalur Kilometer 10 Desa Lotas.

Jalan yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi kehidupan warga Rinhat kini putus total. Aspal yang dahulu menjadi penghubung kehidupan berubah menjadi kubangan lumpur, genangan air, dan jurang ketakutan bagi warga yang nekat melintas.

Ironisnya, jalan itu bukan jalan asing bagi para pejabat. Setiap hari jalur itu dilalui menuju Gedung DPRD Kabupaten Malaka. Namun luka rakyat seolah hanya menjadi pemandangan biasa yang dilihat dari balik kaca mobil berpendingin udara.

Warga kini menitipkan suara mereka kepada salah satu putra Rinhat yang duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Malaka, yakni bernama Adi Bere.

Warga berharap ada hati yang masih mau mendengar jeritan kecil dari kampung-kampung yang perlahan mulai merasa ditinggalkan.

╔═══════════════════════❀༻❤️༺❀═══════════════════════╗
“Jalan yang rusak bukan hanya merusak kendaraan,
tetapi juga merusak harapan rakyat kecil
yang setiap hari bertarung dengan hidup.”
╚═══════════════════════❀༻❤️༺❀═══════════════════════╝

Kini warga dari Biudukfoho menuju Betun maupun sebaliknya harus mencari jalan alternatif sendiri. Mereka masuk dari arah Desa Muke lalu keluar kembali di depan Kantor Desa Lotas dengan medan yang berat, licin, dan penuh risiko.

Perjalanan yang biasanya ditempuh dengan mudah kini berubah menjadi perjuangan panjang di tengah lumpur dan tanjakan curam.

Seorang warga Desa Lotas, Martha Bobe, menuturkan bahwa hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir membuat badan jalan longsor dan tenggelam.

“Sekarang jalur Kilometer 10 Lotas putus total. Yang berani lewat hanya sepeda motor, itu pun harus dibantu warga dorong dan tarik supaya bisa naik tanjakan. Mobil pribadi dan angkutan desa sama sekali tidak bisa lewat,” ujarnya dengan nada sedih.

Pemandangan di lokasi kini menyayat hati. Beberapa pengendara memilih berhenti dan memutar balik. Sopir angkutan desa hanya bisa memandang jalan rusak dengan wajah pasrah karena kendaraan mereka tak mampu menembus lumpur yang dalam.

Anak-anak sekolah pun harus berjalan kaki lebih jauh. Para petani kesulitan membawa hasil kebun ke pasar. Pedagang kecil mulai kehilangan pembeli karena akses distribusi terhambat.

Jalan yang rusak perlahan ikut melumpuhkan denyut ekonomi masyarakat.

╔═══════════════════════❀༻🌹༺❀═══════════════════════╗
“Di atas jalan berlumpur itu,
rakyat sedang memikul beban hidup
sambil berharap ada wakil mereka
yang benar-benar melihat penderitaan mereka.”
╚═══════════════════════❀༻🌹༺❀═══════════════════════╝

Warga Rinhat kini tidak lagi meminta janji-janji panjang. Mereka hanya ingin pemerintah dan wakil rakyat hadir melihat langsung penderitaan warga di Kilometer 10 Lotas.

Sebab bagi warga kecil di pelosok Malaka, jalan bukan sekadar aspal dan batu. Jalan adalah napas kehidupan, jalur pendidikan anak-anak, penghubung ekonomi keluarga, dan harapan agar mereka tidak merasa hidup sendirian di negeri sendiri.

Penulis: Redaksi BuserkotaEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *