Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita DaerahBerita NasionalBerita UtamaInfo PublikKesehatanPemerintahanPeristiwaPolitikSosialTeknologi

Di Amfoang, Gibran Mendengar Jeritan BBM Rp25 Ribu per Liter dan Dapur yang Masih Menyala dengan Kayu Bakar

139
×

Di Amfoang, Gibran Mendengar Jeritan BBM Rp25 Ribu per Liter dan Dapur yang Masih Menyala dengan Kayu Bakar

Sebarkan artikel ini

KUPANG | BUSERKOTA.COM – Angin lembab menyelimuti Desa Manubelon, Kecamatan Amfoang Barat Daya, Jumat (22/5/2026), ketika Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka , berdiri di depan rumah pastori Jemaat Bethesda Oelamopu.

Tak ada panggung megah. Tak ada sekat antara pejabat negara dan rakyat kecil. Yang terdengar justru percakapan sederhana tentang harga BBM, dapur rumah tangga, dan kehidupan masyarakat pedalaman yang selama ini berjalan dalam keterbatasan.

Di hadapan warga, menanyakan langsung kondisi bahan bakar minyak di wilayah Amfoang. Pertanyaan itu sederhana, namun jawaban warga memantulkan kenyataan pahit tentang mahalnya akses energi di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

╔════════════════════════════════╗
“Kalau beli BBM, khususnya Pertalite, sekarang harganya berapa per liter?”
— Gibran Rakabuming Raka
╚════════════════════════════════╝

“Rp25.000 per liter,” jawab warga serentak.

Suasana mendadak hening. Angka itu melayang di udara seperti potret mahalnya kehidupan di wilayah yang jauh dari pusat distribusi energi.

Percakapan kemudian berlanjut. kembali bertanya tentang jumlah pembelian BBM dan ketahanannya untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat.

“Kalau dua liter biasanya habis berapa hari?” tanya Gibran lagi.

“Sekitar satu minggu, tergantung pemakaian,” jawab warga. Namun beberapa warga lain mengaku dua liter BBM bahkan bisa habis hanya dalam sehari, terutama untuk kebutuhan kendaraan dan aktivitas kerja.

Tak berhenti pada persoalan BBM, juga menanyakan ketersediaan gas elpiji. Jawaban warga kembali menggambarkan kerasnya hidup di pedalaman. Sebagian besar masyarakat masih mengandalkan kayu bakar dan minyak tanah untuk memasak karena sulit memperoleh elpiji.

╔════════════════════════════════╗
“Jadi masalah utamanya BBM, ya. Setelah ini kami akan segera berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan Pertamina.”
Gibran Rakabuming Raka
╚════════════════════════════════╝

Kunjungan itu tidak hanya diisi dialog dengan masyarakat. juga meninjau langsung dua jembatan yang putus akibat diterjang banjir di wilayah Amfoang.

Kehadiran Wakil Presiden di Amfoang sendiri berlangsung sehari setelah pertemuannya dengan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kupang pada Kamis (21/5/2026) malam. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat pedalaman, mulai dari infrastruktur hingga akses kebutuhan pokok.

Secara kontekstual, keluhan warga Amfoang tentang BBM dan elpiji menunjukkan masih lebarnya kesenjangan akses energi antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil di Indonesia timur. Ketika sebagian daerah menikmati distribusi energi yang stabil, masyarakat pedalaman masih harus membeli Pertalite dengan harga berkali-kali lipat dan memasak menggunakan kayu bakar demi bertahan hidup.

Di Amfoang, persoalan energi bukan sekadar soal angka rupiah per liter. Ia adalah cerita tentang jarak, keterisolasian, dan perjuangan masyarakat kecil agar negara benar-benar hadir hingga ke ujung kampung yang paling jauh dari pusat kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *