Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo Publik

Guru Malaka Buka Suara, Cekcok Camat Memanas

115
×

Guru Malaka Buka Suara, Cekcok Camat Memanas

Sebarkan artikel ini

MALAKA |BUSERKOTA.Com— Sebuah dompet yang diduga tertinggal di rumah makan berubah menjadi percakapan yang memanas. Di antara etalase makanan, layar kamera pengawas, dan suara yang meninggi, seorang guru PJOK di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, mengaku merasa direndahkan oleh seorang camat.

Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SMP Kristen Besikama, Dominikus Nahak Klau, angkat bicara mengenai video viral yang merekam cekcok di Rumah Makan Bundo Kanduang, Betun, Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 16.00 Wita.

Kepada media ini, Kamis (3/9/2026), saat ditemui di Kota Betun, Dominikus mengatakan kedatangannya ke rumah makan tersebut bukan untuk mencari keributan. Ia datang untuk membantu kakaknya mengecek keberadaan dompet yang diduga tertinggal setelah makan.

“Saya pergi untuk mengecek dompet yang diduga ketinggalan oleh kakak saya yang sebelumnya sempat makan di rumah makan itu,” kata Dominikus.

Kakaknya, menurut Dominikus, tidak dapat kembali karena jarak tempat tinggalnya cukup jauh. Kebetulan Dominikus bersama sejumlah guru sedang mengikuti kegiatan di Betun sehingga ia diminta membantu.

Ia mengaku telah menyampaikan maksud kedatangannya kepada pemilik rumah makan sejak berada di depan pintu.

“Dari depan pintu warung itu saya sudah katup tangan dan bilang permisi, minta maaf pak. Kakak saya kehilangan dompet, jadi bolehkah minta tolong untuk buka rekaman CCTV untuk dicek dulu,” ujarnya.

Menurut Dominikus, pemilik rumah makan menerima kedatangannya dengan baik dan mempersilakan dirinya bersama rekan-rekannya melihat rekaman CCTV.

“Pemilik warung itu mengatakan, mari silakan kakak, kita lihat CCTV-nya sama-sama,” katanya.

Dominikus kemudian berdiri di sekitar etalase untuk melihat layar CCTV. Ia mengatakan pemilik rumah makan bahkan sempat memintanya berdiri lebih dekat agar rekaman lebih mudah dilihat.

Saat itu, kata Dominikus, Camat Laenmanen juga berada di lokasi dan sedang melihat-lihat daftar menu makanan.

Dari Rekaman CCTV ke Cekcok

Situasi, menurut Dominikus, berubah ketika camat mempersoalkan aktivitas mereka melihat rekaman CCTV.

Dominikus mengaku camat menyampaikan bahwa kehilangan barang merupakan persoalan pribadi dan dirinya tidak memiliki hak untuk melihat rekaman tersebut.

“Menurut yang dia sampaikan, kesalahan pribadi tidak boleh kami punya hak untuk melihat rekaman CCTV itu, tapi harus melapor polisi,” ujarnya.

Dominikus mengatakan dirinya tidak sepakat dengan pernyataan tersebut karena pemilik rumah makan telah memberikan izin kepada mereka untuk melihat rekaman.

“Saya masuk dengan itikad baik, kemudian pemilik warung menerima kami dan mempersilakan baik-baik. Lalu Bapak Camat datang dan langsung bilang ada apa ini,” katanya.

Ia mengaku telah menjelaskan bahwa kedatangannya semata-mata untuk mencari dompet yang diduga tertinggal. Namun, menurut Dominikus, ia justru disebut melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta tidak memiliki hak melihat rekaman CCTV.

Percakapan itu, kata dia, kemudian berkembang menjadi cekcok.

Dominikus mengaku menerima sejumlah ucapan yang dianggap menghina pribadi dan profesinya sebagai guru.

“Saya dikatakan guru bodoh, compang-camping, tidak jelas. Saya sebagai laki-laki ini jujur, itu sudah merupakan penghinaan terhadap pribadi dan profesi saya,” katanya.

Ia juga mengaku disebut miskin. Bahkan, menurutnya, Camat Laenmanen sempat meminta istrinya memberikan uang kepada mereka.

“Dia bilang saya miskin, dia juga sempat bilang ke istrinya yang bersama dengan dia pada saat itu, ‘kasih mereka uang karena ini kayaknya mereka butuh uang ini’,” ujar Dominikus.

Tidak berhenti di situ, Dominikus mengaku telepon seluler yang digunakannya untuk merekam kejadian tersebut juga sempat dihina.

“HP yang saya gunakan untuk merekam juga dia sempat hina, bilang ini HP kredit,” katanya.

Dominikus juga mengaku Camat Laenmanen sempat memukul atau menepuk bagian dadanya sambil menyebut dirinya sebagai Camat Laenmanen.

“Dia bilang lagi, kecil begini saya pukul lu mati,” ujarnya.

Merekam untuk Membela Diri

Dominikus menjelaskan, dirinya mulai merekam menggunakan telepon seluler setelah merasa tertekan dengan perkataan yang disampaikan kepadanya.

Menurut dia, rekaman tersebut dimaksudkan sebagai dokumentasi sekaligus bukti apabila nantinya terjadi persoalan lain.

“Saya mengambil HP dan merekam tindakannya. Karena bagi saya HP adalah media yang bisa saya gunakan untuk membela diri,” katanya.

Ia menambahkan, rekaman dibuat karena dirinya khawatir terjadi perbedaan cerita mengenai kejadian tersebut.

“Kalau CCTV bisa direkayasa, cerita bisa direkayasa, maka HP saya siapkan untuk menjadi bukti,” ujarnya.

Dominikus mengakui dirinya sempat menunjuk Camat Laenmanen ketika emosi memuncak.

“Setelah cekcokan, saya naik pitam lalu saya juga sempat menunjuk dia karena saya tidak puas dengan perkataannya,” katanya.

Pemilik Warung Disebut Beri Izin

Dominikus kembali menegaskan bahwa sejak awal pemilik Rumah Makan Bundo Kanduang telah memberikan izin kepada mereka untuk melihat rekaman CCTV.

Bahkan, menurut dia, pemilik rumah makan turut membantu mengarahkan pencarian berdasarkan waktu kejadian.

“Pemilik warung itu ketika kami datangi, dia terima kami dengan baik, mengizinkan dan mempersilakan kami. Bahkan dia juga sempat menawarkan untuk meminum air putih dan mengajak untuk berdiri lebih dekat dengan layar,” tuturnya.

Dominikus mengatakan dirinya telah menyampaikan perkiraan waktu kakaknya berada di rumah makan, yakni sekitar pukul 11.00–12.00 Wita.

Pemilik rumah makan, menurut dia, kemudian mengarahkan agar rekaman difokuskan pada kamera dan waktu tersebut.

“Kita matikan kamera yang lain, kita fokus di satu kamera yang kakak itu duduk dan lihat sesuai waktu. Hanya tidak tahu kenapa Bapak Camat ini yang protes,” katanya.

Ia menegaskan, dirinya dan rekan guru sebenarnya sedang berusaha mencari dompet tersebut dengan bantuan pemilik rumah makan.

Memilih Jalan Damai

Meski mengaku merasa direndahkan, Dominikus mengatakan dirinya saat ini tidak berniat melaporkan Camat Laenmanen ke jalur hukum.

Ia masih membuka ruang apabila camat memiliki itikad baik untuk meminta maaf.

“Saya tidak ada niat untuk melaporkan oknum camat itu. Saya menganggap bahwa kejadian ini terjadi secara emosional dan spontanitas,” katanya.

“Kalau memang ada niat baik dari Bapak Camat ini untuk klarifikasi dan sampaikan permohonan maaf, dan ketemu berbicara dengan kepala dingin, ya tidak apa-apa, pasti dimaafkan,” sambungnya.

Namun, Dominikus menegaskan dirinya siap menghadapi proses hukum apabila pihak lain memilih menempuh jalur tersebut.

“Kalau Bapak Camat ingin melapor, silakan saja. Saya juga punya bukti, punya saksi, dan saya juga dilindungi hak saya. Jadi saya tidak takut,” tegasnya.

Ketika Profesi Guru Disentuh

Bagi Dominikus, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut dirinya sebagai pribadi. Ia juga menyoroti perkataan yang menurutnya merendahkan profesi guru.

Menurut dia, guru merupakan profesi yang memiliki peran penting dalam membangun masyarakat.

“Guru itu mau bagaimana pun merupakan profesi yang sangat mulia. Karena guru itu mengajarkan semua tingkatan masyarakat untuk mengetahui banyak hal sejak awal. Untuk membaca, menghitung, menulis, untuk pintar dan cerdas,” ujarnya.

“Termasuk untuk menjadi seorang camat,” tambahnya.

Ia menyebut pihaknya juga mendapat perlindungan dari organisasi profesi guru, termasuk PGRI di tingkat Kabupaten Malaka maupun PGRI NTT.

Ruang Klarifikasi dan Jalan Keluar

Perselisihan di ruang publik, terlebih ketika melibatkan pejabat pemerintahan dan tenaga pendidik, tidak semestinya berhenti pada potongan video atau saling tuding. Setiap pihak perlu diberi ruang untuk menyampaikan keterangan secara utuh, sementara dugaan penghinaan maupun tindakan fisik harus dipastikan melalui bukti dan pemeriksaan yang berwenang. Jika kedua pihak memilih jalan damai, klarifikasi langsung, permintaan maaf, dan mediasi yang disaksikan pihak netral dapat menjadi langkah awal untuk meredakan persoalan tanpa mengabaikan hak hukum masing-masing.

Dominikus kembali menegaskan dirinya memilih menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik dan tidak ingin memperpanjang masalah.

Di tengah riuhnya video viral, ia menyisakan satu pesan sederhana: persoalan yang bermula dari pencarian sebuah dompet seharusnya tidak perlu berakhir dengan hilangnya penghormatan terhadap sesama.

Sebab, ketika emosi mengambil alih percakapan, yang paling mudah tertinggal bukan hanya sebuah dompet, melainkan juga martabat yang semestinya dijaga bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *