ATAMBUA |BUSERKOTA.Com — Di sebuah rumah makan di Betun, Kabupaten Malaka, percakapan yang semestinya berhenti sebagai persoalan pribadi justru berubah menjadi tontonan publik. Cuplikan media sosial yang memperlihatkan perilaku Camat Laen Manen terhadap seorang guru, Dominikus Nahak Klau, kini menuai sorotan dan dinilai mencoreng wajah birokrasi.
Ketua IJEN Nusa Tenggara Timur, Lodi Lukas, menyebut apa yang dipertontonkan sang camat bukan lagi semata perkara hubungan personal. Ketika profesi guru disebut dan sikap arogansi dipertontonkan di ruang publik, persoalan itu, menurut dia, menyentuh wilayah yang lebih luas: etika seorang aparatur birokrasi.
“Persoalan pribadi, plus-minusnya, itu persoalan lain. Tetapi ketika profesi guru dilecehkan dan arogansi dipertontonkan di ruang publik, apalagi ketika Garuda masih tergantung di dada, di situlah citra birokrasi dipertaruhkan,” kata Lodi Lukas kepada media ini, Sabtu (5/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Lodi berkaitan dengan cuplikan media sosial yang mempertontonkan perilaku Camat Laen Manen terhadap seorang guru di sebuah rumah makan di Betun, Kabupaten Malaka.
Menurut Lodi, seorang aparatur pemerintahan semestinya memahami bahwa jabatan bukan sekadar kewenangan administratif. Ada etika, keteladanan, dan tanggung jawab moral yang ikut melekat ketika seseorang mengenakan atribut negara.
Ia bahkan menilai tindakan tersebut berpotensi meninggalkan catatan buruk dalam ingatan masyarakat, terutama karena guru merupakan figur yang berada di garis depan pendidikan dan pembentukan karakter generasi.
“Jangan sampai pendidikan yang seharusnya mengajarkan etika, sopan santun, dan penghormatan terhadap sesama justru diterjemahkan secara keliru oleh seorang pejabat birokrasi. Ini bukan sekadar soal siapa benar dan siapa salah dalam persoalan pribadi. Ini soal bagaimana seorang pejabat menjaga martabat jabatan ketika berada di tengah masyarakat,” ujar Lodi.
Minta Pemkab Malaka Bersikap Tegas
Lodi meminta Pemerintah Kabupaten Malaka tidak membiarkan polemik tersebut berlarut-larut. Menurut dia, Pemkab Malaka perlu mengambil sikap tegas dan berani untuk menjaga wibawa pemerintahan daerah.
Ia bahkan mendesak agar Camat Laen Manen dicopot dari jabatannya sehingga persoalan tersebut tidak menyeret citra birokrasi Kabupaten Malaka secara lebih luas.
“Pemkab Malaka harus bertindak tegas dan berani. Bila diperlukan, camat tersebut dicopot dari jabatannya. Jangan sampai satu perilaku seorang aparatur kemudian menyeret seluruh wajah birokrasi ke dalam kubangan persoalan,” katanya.
Di sisi lain, Lodi juga meminta organisasi profesi guru tidak tinggal diam. Ia mendorong adanya advokasi terhadap Dominikus Nahak Klau agar guru tidak menghadapi persoalan semacam itu seorang diri.
“Organisasi guru juga harus ikut bersuara dan memberikan advokasi kepada guru. Jangan biarkan dia berjalan sendiri. Ini harus menjadi perhatian bagi para camat di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Malaka,” ujar Lodi.
Ketika Garuda di Dada Menjadi Cermin
Secara kontekstual, polemik ini memperlihatkan bahwa perilaku pejabat di ruang publik tidak lagi berhenti pada ruang personal. Di tengah derasnya arus media sosial, sebuah tindakan dapat direkam, disebarluaskan, dan dibaca masyarakat sebagai representasi wajah institusi. Karena itu, atribut negara yang dikenakan seorang aparatur bukan sekadar lambang jabatan, melainkan simbol tanggung jawab dan keteladanan.
Guru, dalam konteks itu, bukan sekadar profesi. Ia adalah bagian dari mata rantai panjang yang menanamkan pengetahuan, karakter, dan penghormatan kepada sesama. Ketika profesi guru diperlakukan tanpa penghormatan, yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan seorang individu, tetapi juga pesan moral tentang bagaimana masyarakat menghargai pendidikan.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti, seragam akan dilepas, dan kekuasaan administratif akan berakhir. Namun perilaku seorang pejabat di hadapan masyarakat dapat tinggal lebih lama dalam ingatan.
“Kita bisa menjadi hebat, pintar, dan besar hanya karena guru. Karena itu, menghormati guru berarti menghormati masa depan yang sedang mereka tanam.”














