BANDA ACEH |BUSERKOTA.Com — Di antara riuh panggung Halaman Jeda, terdengar sebuah jeda yang meresap. Bukan sekadar jeda dalam alunan musik atau jeda antarbait puisi, melainkan jeda dalam diri, yang tercipta saat Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, melantunkan bait-bait puisinya sendiri. Sebuah momen intim, tatkala kata seorang pembuat kebijakan berpadu dengan renungan jiwa di jantung sastra Aceh.
“Puisi adalah ruang untuk merenung dan menyelami pengalaman manusia,” ujar Nezar Patria, suaranya bergetar lembut, membingkai sederhana namun penuh makna di panggung yang intim. Kata-katanya mengalir, bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang perenung yang berbagi secuil pengalaman batinnya. Ia hadir di antara para penyair, L K Ara dan Muhammad Rain (Muhrain), yang masing-masing membawa warna kehidupan dalam guratan puisi mereka, namun sepakat dalam satu nadi: puisi sebagai lensa memandang semesta.
Tak berhenti di sana, panggung itu kian syahdu kala Rafli Kande mengalunkan nada-nada khas Aceh. Suara dan musiknya, bagai selimut hangat yang membalut relung hati, memberikan kontras yang menenangkan setelah tajamnya renungan puisi. Halaman Jeda menjelma lebih dari sekadar acara sastra; ia menjadi simfoni perenungan, titik temu antara kata, nada, dan hening, tempat jiwa-jiwa beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
Dalam lanskap sastra Indonesia yang kian dinamis, kehadiran Nezar Patria di Halaman Jeda ini menarik untuk dicermati. Di tengah kesibukannya mengemban amanah digitalisasi bangsa, ia menyempatkan diri untuk kembali ke akar ekspresi kemanusiaan yang paling otentik: puisi. Ini bukan sekadar selingan, melainkan sebuah penegasan bahwa di balik setiap kebijakan dan inovasi teknologi, tetap ada denyut kemanusiaan yang perlu dirawat, direnungkan, dan diungkapkan melalui keindahan bahasa.
Kehadirannya menjadi simbol bahwa sastra, dalam hal ini puisi, bukan barang asing bagi para pemangku kepentingan, melainkan sebuah sarana penting untuk memahami, merefleksikan, dan bahkan menginspirasi karya nyata.
Malam itu di Banda Aceh, puisi bukan hanya dibaca, ia dihidupi. Ia menjadi jeda yang sesungguhnya, sebuah kesempatan langka bagi setiap insan untuk kembali mendengar gema diri di tengah riuhnya kehidupan modern. Dari jeda itulah, kita menemukan kembali inti kemanusiaan yang sering terlupakan.














