Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaInfo PublikPeristiwaTeknologi

Kirab Budaya NTT: Anyaman Warisan, Harmoni Menyongsong Masa Depan

354
×

Kirab Budaya NTT: Anyaman Warisan, Harmoni Menyongsong Masa Depan

Sebarkan artikel ini

KUPANG |BUSERKOTA.Com)– Dalam semarak peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Nusa Tenggara Timur menjelma menjadi panggung besar kebudayaan. Langit biru Kupang menjadi atapnya, jalanan kota menjelma karpet merah, dan 80 kelompok peserta dari berbagai penjuru provinsi berarak dalam Kirab Budaya bertajuk “NTT Bagaya Merayakan Warisan, Menyongsong Masa Depan”, Rabu (13/8/2025) siang.

Dari Alun-alun Rumah Jabatan Gubernur, langkah-langkah para penari, bunyi gong, tabuhan gendang, hingga kilau kain tenun berwarna-warni, seolah merangkai mozaik persatuan yang memeluk semua perbedaan. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang melepas langsung rombongan kirab, mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah jejak panjang perjuangan, bukan sekadar hadiah sejarah.

“Kemerdekaan ini lahir dari keringat, darah, dan air mata pahlawan dari berbagai latar belakang budaya, suku, agama, dan ras. Termasuk dari rakyat Nusa Tenggara Timur yang tak pernah berhenti mencintai negeri ini,” tutur Melki dengan nada penuh penghormatan.

Kirab Budaya tahun ini tak hanya menampilkan ragam pakaian adat, tarian, kuliner, dan upacara tradisi dari 22 kabupaten/kota di NTT, tetapi juga menyatukan misi pariwisata berkelanjutan (eco-cultural tourism) yang kini menjadi denyut baru dunia. Tiap langkah peserta bukan sekadar parade, tetapi pesan: warisan leluhur bukan untuk disimpan, melainkan untuk dihidupkan dan diwariskan kembali.

“Budaya adalah anugerah Tuhan yang tak ternilai. Ia harus kita jaga agar tidak hilang ditelan zaman. Kirab ini adalah cara kita memberi panggung kepada adat dan budaya di hari kemerdekaan,” tegas Melki.

Rute kirab mengular dari Rumah Jabatan Gubernur menuju Polda NTT, lalu ke Kuanino, hingga berakhir di Gereja Katedral Kristus Raja. Tiga titik atraksi – Rumah Jabatan, Gereja Koinonia, dan Kantor OJK Kupang – menjadi ruang pertemuan penonton dengan keajaiban tradisi.

Bagi Melki, keberagaman di NTT bukan sekadar mozaik estetika, melainkan energi yang menghidupkan harmoni.

“Memasuki usia kemerdekaan ke-80, NTT ingin menegaskan dirinya sebagai provinsi terselatan yang memberi kontribusi besar, bukan hanya pada masa lalu, tapi juga hari ini dan masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kirab Budaya adalah jembatan yang menghubungkan pelestarian dengan kemajuan ekonomi. UMKM hidup, wisatawan datang, dan rasa bangga masyarakat terhadap identitasnya kian membuncah.

“Banyak rantai ekonomi bergerak hari ini. Budaya kita bukan sekadar warisan, tapi penggerak masa depan,” tambahnya.

Di tengah riuh dan warna-warni perayaan, Dinda, salah satu peserta, tersenyum lebar di balik balutan pakaian adat daerahnya.

“Beta senang ikut lagi karnaval ini, pokoknya seru. Bisa lihat banyak pakaian adat NTT yang indah sekali,” katanya sambil melambaikan tangan pada penonton.

Turut hadir Wakil Gubernur Johanis Asadoma, Ketua DPRD NTT Emelia J. Nomleni, Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, hingga insan pers. Dan pada sore itu, Kupang menjadi cermin Indonesia: beragam, indah, dan terus melangkah bersama.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *