MAKASSAR |BUSERKOTA.Com — Pagi itu, Jalan Daeng Ngadde Raya di Kelurahan Parang Tambung tak sekadar menjadi ruang aktivitas warga. Ia berubah menjadi panggung kebersamaan—tempat keringat, tawa, dan harapan menyatu dalam satu irama. Jumat (01/05/2026), ratusan warga berkumpul sejak fajar, mengayunkan langkah dalam “Senam Sehat Bebas Narkoba”, sebuah cara berbeda merayakan Hari Buruh Internasional.
Mengusung tema “Dari Sulsel untuk Indonesia Bersinar”, kegiatan yang digelar Masyarakat Anti Narkoba Indonesia (MAKI) Sulawesi Selatan ini bukan hanya tentang gerak tubuh, tetapi juga gerakan kesadaran. Di bawah panduan ZIN Zumba Ratu FT. Keyla dan dentuman musik dari DJ MC Duta 2000 FT. Mr. Dikss, suasana menjadi hidup—energi kolektif mengalir, membangun pesan yang lebih dalam dari sekadar olahraga.
Di tengah semangat itu, Ketua MAKI Sulsel, Hidayat Akbar, SH, menyuarakan pesan yang menggugah: bahwa perang melawan narkoba harus hadir di tengah masyarakat, dalam bentuk yang nyata dan menyentuh.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Melawan narkoba tidak bisa cuma dengan ceramah. Harus dengan keringat, dengan kegembiraan, dan dengan kebersamaan kita semua.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Ia mengingatkan, ancaman narkotika di Sulawesi Selatan bukanlah bayang-bayang yang jauh. Data BNNP Sulsel tahun 2025 mencatat 55 kasus terungkap dengan 70 tersangka diamankan. Lebih mengkhawatirkan, penyalahgunaan didominasi usia produktif 15 hingga 49 tahun, dengan 1.356 orang menjalani rehabilitasi.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Jika generasi muda rusak, maka masa depan bangsa juga terancam.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Dalam dinamika itu, MAKI Sulsel terus bergerak. Meski tergolong baru, organisasi ini telah menjangkau berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Takalar, dengan pendekatan kampanye digitalisasi dan gerakan bebas narkoba yang melibatkan masyarakat hingga tingkat desa.
Tiga pesan utama pun ditegaskan: menjadikan senam sehat sebagai rutinitas di tingkat RT/RW, mendorong dukungan konkret pemerintah, serta mengajak masyarakat menjaga keluarga dari ancaman narkoba.
Sekretaris MAKI Sulsel, Marissa Mansyur, SH., menambahkan bahwa kekuatan terbesar dalam melawan narkoba justru lahir dari lingkup terkecil.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Gerakan melawan narkoba harus dimulai dari keluarga dan komunitas. Dari situlah kesadaran tumbuh dan saling menguatkan.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Dukungan juga datang dari pemerintah dan berbagai pihak. Staf Ahli Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Pemkot Makassar, Akhmad Namsum, S.Ag, M.M., mewakili Wali Kota Makassar, mengapresiasi langkah MAKI Sulsel sebagai bagian dari upaya nyata melawan narkoba.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Narkoba adalah musuh besar kita bersama. Ia merusak moral, etika, dan masa depan generasi.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Hal senada disampaikan Andriany Saleng dari Dinas Kesehatan Kota Makassar, yang menilai pendekatan promotif melalui aktivitas fisik sebagai cara efektif membangun kesadaran masyarakat. Sementara itu, perwakilan BNN Sulsel, Ramlah, S.Mn, MM., mengapresiasi tingginya partisipasi warga sebagai bukti bahwa masyarakat dapat menjadi garda terdepan.
Selain senam massal, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize seperti mesin cuci, kipas angin, setrika, dan dispenser—menambah semangat dan kebersamaan di antara peserta.
Analisis Kontekstual
Pendekatan kampanye anti-narkoba berbasis komunitas seperti yang dilakukan MAKI Sulsel menunjukkan pergeseran strategi yang lebih humanis dan partisipatif. Di tengah meningkatnya kasus penyalahgunaan di usia produktif, metode yang menggabungkan aktivitas fisik, hiburan, dan edukasi terbukti mampu menjangkau masyarakat secara lebih efektif. Ini menjadi sinyal bahwa perang melawan narkoba tidak cukup melalui penegakan hukum semata, tetapi harus diperkuat dengan gerakan sosial yang hidup dan berkelanjutan.
Di akhir kegiatan, ketika musik perlahan mereda dan langkah kaki berhenti, satu pesan tetap tinggal: bahwa melawan narkoba bukan hanya tugas lembaga, tetapi tanggung jawab bersama—yang dimulai dari tubuh yang sehat, pikiran yang sadar, dan hati yang saling menjaga.












