Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Darah di Halaman Desa: Ketika Uang Sekolah Dipertaruhkan, Seorang Bapak Tua Dipukuli”

9
×

Darah di Halaman Desa: Ketika Uang Sekolah Dipertaruhkan, Seorang Bapak Tua Dipukuli”

Sebarkan artikel ini

 

MALAKA | BUSERKOTA.COM – Hening siang di Desa Nauke Kusa, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, mendadak pecah oleh teriakan dan kepanikan warga. Seorang bapak tua terkapar bersimbah darah—bukan karena kecelakaan, melainkan diduga akibat pengeroyokan oleh oknum kepala desa bersama istri dan beberapa orang lainnya.

Peristiwa memilukan itu bermula dari sebuah harapan sederhana: pendidikan. Korban disebut hanya ingin meminta sebagian dari uang hasil jerih payah anaknya yang merantau di Malaysia—uang yang jumlahnya mencapai lebih dari Rp60 juta—yang diduga berada dalam penguasaan oknum kepala desa.

Namun, permintaan yang disampaikan secara baik-baik justru berujung kekerasan.

Alih-alih mendapatkan haknya untuk membiayai sekolah anak, korban malah menerima pukulan demi pukulan di hadapan publik. Ironisnya, tindakan tersebut tidak hanya melibatkan oknum kepala desa, tetapi juga istrinya serta beberapa orang lain yang diduga ikut melakukan pengeroyokan.

╔════════════════════════════════════╗
“Ia tidak meminta seluruhnya. Ia hanya meminta sedikit, untuk sekolah.
Tapi yang datang bukan keadilan—melainkan pukulan.”
╚════════════════════════════════════╝

Warga sekitar yang menyaksikan kejadian itu mengaku terkejut dan tidak menyangka konflik yang berawal dari urusan pendidikan bisa berubah menjadi aksi brutal.

Peristiwa ini pun memantik kemarahan publik. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang mencederai rasa keadilan, terlebih terjadi di ruang publik dan melibatkan aparat pemerintahan desa.

Desakan pun mengalir deras kepada aparat penegak hukum. Masyarakat meminta Kepolisian Resor Malaka dan Polda NTT segera turun tangan, mengusut tuntas kasus ini, serta menindak tegas para pelaku tanpa pandang jabatan.

Kasus ini kini menjadi sorotan, bukan hanya karena kekerasan yang terjadi, tetapi juga karena menyentuh isu mendasar: hak atas pendidikan dan perlindungan terhadap masyarakat kecil.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kronologi lengkap maupun status hukum para terduga pelaku.

Namun satu hal yang tak terbantahkan—di sebuah desa kecil di perbatasan negeri, darah seorang bapak tumpah hanya karena memperjuangkan masa depan pendidikan anaknya.

Penulis: Redaksi BuserkotaEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *