Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaInfo PublikPemerintahanPeristiwaSosial

Pembangunan Harus Berjalan Bersama Adat

13
×

Pembangunan Harus Berjalan Bersama Adat

Sebarkan artikel ini

 

TIMIKA|BUSERKOTA.Com— Kilometer 12 bukan lagi sekadar penanda jarak di Jalan Trans Timika–Jayanti–Wagete.

Di kawasan itu, Sabtu, 27 September 2026, pembangunan mulai meninggalkan jejak baru: Kantor Lembaga Adat Moni Selatan (Lemasmos) diresmikan, sementara pembangunan Kantor Koperasi UMKM dan Kantor Klasis Persiapan Dumadama Koordinator Amungsa mulai ditandai dengan peletakan batu pertama.

Kehadiran Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong bersama Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika Samuel Yogi, S.H., M.H., menjadi bagian penting dari momentum tersebut.

Tokoh muda Mimika Selatan, Julius Ferri Miagony, S.E., M.M., menilai langkah tersebut menunjukkan mulai bergeraknya perhatian pemerintah hingga kawasan selatan Mimika.

“Saya menyampaikan salut dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Mimika, Bapak Bupati Johannes Rettob dan Bapak Wakil Bupati Emanuel Kemong,” ujar Julius.

Namun bagi Julius, pembangunan tidak boleh berhenti pada seremoni.

Rencana pengembangan wilayah, termasuk wacana pemekaran Distrik Mimika Gunung dan Distrik Mimika Utara serta 22 desa di sepanjang kawasan Trans Timika–Jayanti–Wagete, menurutnya harus dikawal bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Pemerintah hadir sampai ke kaki gunung. Visi dan misi pembangunan Mimika harus benar-benar diwujudkan,” katanya.

Pembangunan Harus Berjalan Bersama Adat

Julius memberikan apresiasi kepada Wakil Bupati Emanuel Kemong dan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Samuel Yogi yang hadir langsung di tengah masyarakat Kilometer 12.

Ia juga memberikan penghargaan kepada tokoh agama, pengurus Lemasmos, tokoh masyarakat, serta masyarakat adat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Perhatian khusus diberikan kepada 18 marga yang mendiami kawasan kaki gunung sepanjang jalur Trans Timika–Jayanti–Wagete, dari Delamatagal hingga Delabalutea.

“Tanpa 18 marga dari Delamatagal sampai Delabalutea, acara bersejarah di Kilometer 12 ini tidak akan terjadi. Kalian adalah tuan tanah dan pemilik hak ulayat yang sesungguhnya,” ujar Julius.

Pernyataan tersebut menegaskan satu hal penting: pembangunan di wilayah adat harus berjalan dengan memperhatikan keberadaan masyarakat adat dan hak ulayat.

Sebab pembangunan bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah gedung berdiri, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat yang hidup di atas tanah tersebut dilibatkan dan memperoleh manfaat.

Koperasi dan Kelembagaan Jadi Harapan

Peresmian Kantor Lemasmos dan peletakan batu pertama Kantor Koperasi UMKM menjadi bagian dari harapan baru masyarakat.

Koperasi diharapkan membuka ruang ekonomi.

Lembaga adat menjadi wadah penguatan masyarakat.

Sementara persiapan kelembagaan keagamaan menjadi bagian dari pelayanan sosial dan kehidupan komunitas.

Julius mengajak seluruh masyarakat, pengurus Lemasmos, unsur persiapan distrik dan kampung, serta 18 marga untuk ikut mengawal program pembangunan Pemerintah Kabupaten Mimika.

“Kantor Lemasmos, koperasi UMKM, persiapan Kantor Klasis Dumadama, serta rencana pengembangan dua distrik dan 22 desa ini harus menjadi berkat bagi anak cucu kita,” katanya.

Menurut Julius, pembangunan yang kuat membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak awal.

Karena itu, dukungan terhadap pemerintah juga perlu berjalan bersama dengan penghormatan terhadap hak masyarakat adat.

Dari Kilometer 12 untuk Anak Cucu

Momentum di Kilometer 12 akhirnya bukan hanya tentang sebuah kantor yang diresmikan atau batu pertama yang diletakkan.

Ia menjadi simbol bahwa kawasan selatan Mimika sedang menatap masa depan dengan harapan baru.

Pemerintah membawa program.

Masyarakat membawa aspirasi.

Masyarakat adat membawa hak dan sejarah.

Ketika ketiganya berjalan bersama, pembangunan memiliki ruang untuk tumbuh lebih kuat.

Julius menyampaikan terima kasih kepada Bupati Mimika Johannes Rettob, Wakil Bupati Emanuel Kemong, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Samuel Yogi, serta seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam pembangunan kawasan tersebut.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja untuk pembangunan di wilayah ini,” ujarnya.

Dari Kilometer 12, batu pertama telah diletakkan.

Yang ditunggu masyarakat bukan hanya bangunan yang selesai, melainkan manfaat yang kelak sampai ke rumah-rumah mereka—dan menjadi warisan bagi anak cucu di kaki gunung Mimika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *