Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaInfo PublikPeristiwa

Lemhannas Tempat Nadya Meneguhkan Pengabdian Kebangsaan

43
×

Lemhannas Tempat Nadya Meneguhkan Pengabdian Kebangsaan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA |BUSERKOTA.Com— Jas putih yang setiap hari melekat di tubuhnya membawa dr. Hj. Nadya Isra Miranti, M.K.M. berhadapan dengan manusia dan segala kerentanannya. Namun, bagi dokter asal Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, mengobati tubuh saja tidak cukup.

Ada panggilan yang lebih luas: merawat kesadaran tentang bangsa.

Dari ruang-ruang pelayanan kesehatan, Nadya melangkah ke ruang pendidikan kebangsaan di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI). Ia mengikuti Program Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan ke-73, sebuah perjalanan intelektual dan kebangsaan yang mempertemukan birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi profesi, TNI dan Polri.

Program tersebut berlangsung pada 10–18 Agustus 2026 di Lemhannas RI dan ditutup di Mako Brimob Kepala Dua, Depok. Mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Asta Cita, Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045”, pendidikan itu bagi Nadya bukan sekadar agenda seremonial.

Ia melihatnya sebagai ruang untuk kembali bertanya: sejauh mana seorang warga negara memahami bangsanya, sebelum berbicara tentang masa depan Indonesia.

Saat ditemui awak media di sela kesibukannya di sebuah klinik di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (30/8/2026), Nadya menuturkan pengalaman tersebut dengan nada reflektif.

“Nilai-nilai kebangsaan sangatlah penting sebagai warga negara di republik ini. Di bangku sekolah, kita tidak mendapatkan pelajaran P4 lagi. Untuk mengimbangi pengetahuan terkait nilai-nilai kebangsaan, Lemhannas menjadi tempat yang tepat untuk memperkaya wawasan itu.”

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Batam dan Institut Kesehatan Helvetia Medan tersebut mengatakan, PPNK Angkatan 73 memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berdiskusi langsung dengan narasumber yang kompeten.

Dari sana, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga perspektif yang lebih utuh mengenai berbagai persoalan kebangsaan.

“Alhamdulillah, kami berdiskusi langsung dengan narasumber yang kompeten, sehingga mendapatkan wawasan secara komprehensif. Pendidikan ini membuat kami melihat persoalan kebangsaan tidak dari satu sudut pandang saja.”

Dinamika semakin terasa ketika peserta dibagi ke dalam sejumlah kelompok. Perbedaan pandangan muncul, perdebatan berlangsung, dan gagasan saling berhadapan. Namun justru di situlah, menurut Nadya, pendidikan kebangsaan menemukan maknanya.

Perbedaan tidak selalu harus berakhir pada pertentangan. Ia dapat menjadi jalan untuk memahami Indonesia dengan lebih luas.

“Dalam pendidikan tersebut kami dibagi beberapa kelompok. Di sanalah dinamika dan perbedaan pandangan terjadi. Justru dari sana kami semakin kaya dalam memahami berbagai problem kebangsaan.”

Di antara rangkaian materi dan diskusi, Nadya menyimpan satu pengalaman yang paling berkesan: simulasi dan permainan yang menuntut kekompakan.

Bukan karena permainannya, melainkan karena di dalam permainan itu setiap orang diuji untuk meninggalkan ego pribadi dan belajar bekerja sebagai satu tim.

“Hal yang paling berkesan bagi kami adalah ketika mengikuti simulasi melalui games. Di sanalah kekompakan kami diuji dalam sebuah tim. Dari situ kami belajar bahwa tujuan bersama membutuhkan kepercayaan dan kerja sama.”

Bagi seorang dokter, pengalaman itu menemukan relevansinya sendiri.

Setiap hari, Nadya bersentuhan dengan masyarakat yang datang bukan dalam kondisi terbaiknya. Ada yang sakit, cemas, membutuhkan pertolongan, bahkan membutuhkan keputusan cepat. Di titik itulah nilai-nilai kebangsaan, menurut dia, tidak boleh berhenti sebagai teori yang tersimpan di ruang kelas.

Ia harus menjelma menjadi sikap.

“Ilmu yang kami dapat terkait nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari empat konsensus dasar bangsa sangat bermanfaat. Semoga dapat kami implementasikan di dunia kerja, khususnya dalam dunia kesehatan yang saya geluti.”

Nadya menyadari bahwa pelayanan kesehatan pada akhirnya bukan hanya perkara diagnosis dan pengobatan. Ada manusia yang harus didengar, ada penderitaan yang harus dipahami, dan ada prioritas yang harus ditentukan dengan kepekaan.

“Setiap hari kita berurusan dengan masyarakat yang sakit dan membutuhkan pertolongan. Dengan nilai-nilai ini, saya berharap bisa lebih peka terhadap kondisi mana yang harus diprioritaskan untuk ditangani.”

Kebangsaan Dimulai dari Pengabdian

Secara kontekstual, pengalaman Nadya memperlihatkan bahwa penguatan nilai kebangsaan tidak selalu harus dimulai dari ruang politik atau pemerintahan. Ia dapat tumbuh dari profesi apa pun yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ketika nilai kebangsaan diterjemahkan menjadi integritas, kepedulian, tanggung jawab dan keberanian menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, gagasan tentang kemandirian bangsa menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, bagi Nadya, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar sebuah target yang jauh di cakrawala.

Ia bermula dari hal-hal sederhana yang dikerjakan dengan kesadaran besar: melayani dengan tulus, bekerja dengan tanggung jawab, dan menempatkan manusia sebagai pusat pengabdian.

“Kalau kita telah menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam lingkungan sendiri, otomatis kemandirian bangsa menuju Indonesia Emas 2045 dapat terwujud.”

Kalimat itu ia ucapkan dengan penuh optimisme.

Perjalanan PPNK Angkatan ke-73 kemudian berakhir. Para peserta yang tergabung dalam nama angkatan Nusantara Adikara dinyatakan lulus dan memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikat yang ditandatangani langsung oleh Gubernur Lemhannas RI Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si.

Mereka juga mendapatkan PIN Lemhannas RI. Pada acara penutupan, pemasangan PIN dilakukan secara simbolis oleh Gubernur Lemhannas RI sebagai penanda berakhirnya proses pendidikan tersebut.

Bagi Nadya, sertifikat dan PIN itu bukan sekadar tanda kelulusan.

Ada tanggung jawab yang ikut melekat di dalamnya.

Dan sebelum menutup kisahnya, Nadya mengucapkan semboyan Lemhannas RI:

“Tanhanna Dharmma Mangrva.”

Tiada kebenaran yang mendua.

Di antara jas putih, ruang pelayanan kesehatan, dan pengalaman panjang di Lemhannas, Nadya seperti menemukan satu garis penghubung: bahwa mengabdi kepada manusia dan mengabdi kepada bangsa sesungguhnya berasal dari akar yang sama—ketulusan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *