JAKARTA |BUSERKOTA.Com — Tiga hari pelaksanaan Pameran Persit BISA Vol. II bukan sekadar ruang pamer produk kriya dan fesyen Nusantara. Di antara gemerlap lampu, langkah pengunjung, dan riuh percakapan para pecinta wastra, Booth 22 milik YD Strap Bag Tenun menjelma menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, kreativitas, dan kebanggaan terhadap identitas budaya Indonesia. Di sanalah tenun Nusantara tidak hanya dipajang, tetapi dihidupkan kembali dengan sentuhan elegan yang memikat mata sekaligus menyentuh rasa.
Sejak awal persiapan menuju pelaksanaan pameran pada 7–9 Mei 2026, dukungan dari berbagai jajaran Persit mengalir begitu kuat. Sinergi itu menjadi fondasi yang membuat YD Strap Bag Tenun tampil maksimal dalam ajang nasional tersebut. Booth demi booth mungkin hadir membawa produk terbaik masing-masing, namun di Booth 22, pengunjung seolah menemukan kisah tentang Indonesia yang dijahit dalam helai-helai tenun.
Semangat besar itu mendapat perhatian langsung dari Ny. Ira M. Fadjar selaku Ketua Persit Kartika Chandra Kirana PG Kostrad yang terus mendorong agar karya-karya anggota Persit mampu berkembang menjadi produk kreatif bernilai ekonomi sekaligus tetap menjaga identitas budaya bangsa. Dukungan serupa hadir dari Ny. Ira Fikri Musmar selaku Ketua Persit KCK Koorcab Divif 1 PG Kostrad dan Ny. Debi Roihan Hidayatullah selaku Ketua Cabang XI Brigif 13 yang aktif mengawal persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
Pada hari pembukaan, karya strap bag tenun kreasi Ny. Dyah Fandy Dharmawan langsung menyita perhatian pengunjung. Perpaduan desain modern dengan motif-motif tenun Nusantara menghadirkan kesan anggun namun tetap membumi. Setiap detail produk seperti membawa cerita dari daerah asal tenun itu sendiri—dari Jepara, Bali, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Timur.
Kehangatan suasana semakin terasa ketika Booth 22 mendapat kunjungan langsung dari Ny. Selvi Ananda selaku istri Wakil Presiden Republik Indonesia. Kehadirannya menjadi momen istimewa yang memberi energi tersendiri bagi para pelaku UMKM wastra Nusantara. Sebagai Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) periode 2024–2029, Ny. Selvi memberikan apresiasi terhadap inovasi produk tenun yang mampu tampil elegan sekaligus tetap menjaga akar budaya Indonesia.
╔══════════════════ ❀ ❤️ ❀ ══════════════════╗
“Wastra Nusantara bukan sekadar kain, melainkan identitas bangsa yang hidup dalam setiap motif dan warna. Ketika tenun dipadukan dengan kreativitas modern, di situlah budaya menemukan jalannya menuju masa depan.”
╚══════════════════ ❀ ❤️ ❀ ══════════════════╝
Hari kedua menjadi puncak keramaian. Booth YD Strap Bag Tenun dipadati rombongan Persit dari berbagai daerah. Kehormatan besar hadir melalui kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak bersama Ny. Uli Maruli Simanjuntak selaku Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana. Bahkan Ny. Uli Maruli secara khusus kembali mengunjungi booth tersebut pada hari kedua setelah sebelumnya hadir di hari pertama sebagai bentuk dukungan terhadap kreativitas anggota Persit.
Persit Pusat, Persit BAIS, Persit PG Kostrad hingga Persit Koorcab Divif 1 PG Kostrad tampak antusias melihat sekaligus membeli produk strap bag tenun yang dipamerkan. Dukungan langsung juga kembali diberikan Ny. Ira M. Fadjar serta Ny. Ira Fikri Musmar yang ikut memeriahkan booth dan membeli produk khas Nusantara tersebut.
Memasuki hari terakhir pameran, antusiasme pengunjung tetap membuncah. Rombongan Persit dari berbagai wilayah Nusantara terus berdatangan. Hadir pula rombongan Ibu Danyon dari jajaran Kodam Tanjung Pura, Ibu Tryas Akmil 2006, Ibu Danyon 844, Ibu Danyon 305, hingga rombongan dari jajaran Kodam V yang memberikan apresiasi terhadap kualitas serta keunikan produk.
Di balik ramainya pengunjung, angka penjualan YD Strap Bag Tenun menjadi catatan membanggakan tersendiri. Selama tiga hari pelaksanaan pameran, sebanyak 176 strap bag berhasil terjual. Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk berbasis wastra Nusantara memiliki daya saing kuat ketika dikemas secara inovatif dan modern.
Produk yang paling diminati adalah Strap Tenun Troso Jepara Pendek dengan penjualan mencapai 60 buah dari stok awal 134 buah. Sementara Strap Tenun NTT Pendek terjual sebanyak 31 buah dari stok awal 46 buah. Strap Tenun Bali Pendek mencatat penjualan 16 buah, sedangkan Strap Tenun Kalimantan Pendek habis terjual sebanyak 12 buah.
Pada kategori strap panjang, Strap Tenun Troso Jepara Panjang terjual habis sebanyak 16 buah. Strap Tenun Bali Panjang mencatat penjualan 15 buah dari stok awal 16 buah, sementara Strap Tenun Kalimantan Panjang terjual 14 buah dari total stok 15 buah. Strap Tenun NTT Panjang yang hanya tersedia empat buah juga langsung habis terjual. Produk Strap Tenun NTT Mini pun sukses ludes dengan total penjualan 10 buah.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pasar terhadap produk budaya Indonesia terus tumbuh, terutama ketika tradisi mampu diterjemahkan ke dalam gaya hidup modern tanpa kehilangan ruh aslinya. YD Strap Bag Tenun menjadi contoh bagaimana wastra Nusantara tidak hanya bertahan sebagai simbol budaya, tetapi juga berkembang menjadi identitas fesyen yang memiliki nilai ekonomi sekaligus kebanggaan nasional.
╔══════════════ ❀ ❤️ ❀ ══════════════╗
“Di setiap helai tenun yang terjual, ada doa para perajin, ada cinta pada tanah air, dan ada harapan agar budaya Indonesia terus hidup melintasi zaman.”
╚══════════════ ❀ ❤️ ❀ ══════════════╝
Pameran Persit BISA Vol. II mungkin telah usai, namun bagi YD Strap Bag Tenun, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai—membawa tenun Nusantara melangkah lebih jauh, menembus batas ruang, dan menggaungkan keindahan Indonesia ke hati yang lebih luas.














