KEFAMENANU (BUSERKOTA.Com)-
Kampung Cemara, lasimnya disebut penduduk lokal dengan nama Kampung Bnokoseo, Desa Oetalus Kecamatan Bikomi Selatan, merupskan salah satu kampung yang berbatasan dengan Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu. Pada kampung Cemara ini, di kiri – kanan jalan, tumbuh pohon cemara ini memang jarak tak jauh dari gedung DPRD TTU, sekitar 300-400 meter dari sisi barat.
Selain itu, berdiri dengan megah biara Sta. Claren yang dibatasi oleh tembok tinggi, memisahkan biara ini dengan kampung Cemara tersebut. Sekaligus merupakan batas Desa Naiola dengan Desa Oetalus, khusus dengan kampung ini.
Namun dibalik kemegahan tembok biara tersebut, berdiri sebuah kapela kecil beratap ilalang. Di sini, di kapela reot ini ditemukan sebuah figura Bunda Maria dan St. Yosep. Pada kapela ini masih berlantai tanah, yang sudah tak teratur dan termakan usia.
Konon menurut guru agama tua, Paulus Elu, Kapela tersebut sudan didirikan 20-an tahun silam oleh para pendahulunya yakni tahun 2002 silam. Kira-kira, 22 tahun yang silam.
Ia mengisahkan, awalnya ukuran kapela ini sangat kecil 5×6 meter jika dibandingkan dengan ukuran sekarang 5 x 9 meter. Awalnya, Paulus mengisahkan, meskipun begitu apa adanya, kapela ini dapat digunakan pada oleh pastor paroki Oeolo Stasi Oelami, hanya sàat melakukan kunjungan ke wilayah itu yang tak jsuh dari paroki Sasi.
Namun seiring dengan perkembangan jaman, Stasi Oelami berubah jadi paroki, akhirnya kampung Cemara yang dulunya satu KUB saat perubahan stasi menjadi paroki, akhirnya menjadi satu lingkungan yakni St. Bertholomeus dengan 3 KUB yakni kUB St. PHILIPUS, ST. PAULUS, ST. MARKUS DAN STA. CLARA.
Mengingat jarak, kampung ini dengan pusat paroki cukup jauh, harus melawati Paroki Sasi, maka sejak Pastor Paroki, Rm Donatus Tefa, Pr maka diambil kebijkan untuk dilakukan pelayanan setiap hari minggu, dilakukan perayaan misa yang dipusatkan di kapela Bnokoseo ini.
“Setiap hari minggu kami dilayani oleh pastor kapela Rm Benso, namun karena Romo Benzo sedang studi kedoktoran maka kami dapat pelayaban dari pastor Soverdi Noemeto. Kadang Pater Paul Waian, kadang Salvator,” ungkap Paul Elu , Sabtu (30/11/2024).
Karena rumah Tuhan, ini sungguh amat memprihatinkan, maka umat dan bapak Lingkungan St. Bartholomeus memutuskan menggalang kekuatan umat untuk satu tekad satu hati membangun Kapela yang permanen. Semua ini dibangun dengan swadaya murni dari saku umat.
Meskipun begitu, dengan kehidupan masyarakat 66 Kk yang rata-rata kk petani. Dengan dominan Kk petani, tentunya mereka mengalami kesulitan, sehingga butuh uluran tangan-tangan kasih dari para dermawan.
“Ya, kami tidak bisa mengadalkan kekuatan umat sendiri. Bersyukur, kami secara teknis didampingi oleh Pak Hiro Ludoni, jadi semua kami semua urusan teknis dan urusan donor kami serahkan kepada beliau, sambil kami umat mengumpulkan dari kekurangan yang ada pada kami. Jadi kami juga butuh sentuhan kasih dari para dermawan, untuk membangun kapela ini,” ungkap Paulus Elu.
Sementara Sekretaris Panitia Pembangunan, Arses Asuat, Sabtu (30/11/2024) menjelaskan, selama ini bantuan sedikit demi sedikit Panitia dapag mengumpulkan dari umat di lingkungan untuk membangun kapela dengan ukuran 10 x 21 meter dan bantuan pihak luar.
“Namun dengan bantuan dampingan bapak Hiro, kami terus maju untuk terus membangun. Sekali lagi kami datang untuk mengetuk pintu hati kita untuk sama dengan umat Lingkungan St. Bartholomeus. Kami sangat membutuhkan sentuhan dari tangan tangan kasih dari para dermawan,” uang Arsen.
“Jadi, sementara ini kalau ada pihak yang ingin memberikan bantuan, bisa menghubungi panitia ataupun pengurus Lingkungan ataupun menghubungi pastor Paroki, Romo Donatus Tefa, Pr” ungkap Anggota BPD Desa Oetalus itu. (*)














