Foto: Personel Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat saat melaksanakan karya bakti di Masjid Muhajirin, Desa Eban, Miomaffo Barat, TTU. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mempererat silaturahmi dengan masyarakat perbatasan. (Dok: Pen Yonarhanud 15/DBY)
TTU |BUSERKOTA.COM| – Dalam keheningan pagi yang sejuk di Desa Eban, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI – Timor Leste, tampak sepuluh prajurit berseragam loreng menyatu bersama warga, menyapu pelataran dan membersihkan jalan setapak menuju rumah ibadah.
Bukan dalam barisan tempur, melainkan dalam semangat pengabdian dan cinta tanah air, mereka hadir untuk satu tujuan: merawat harmoni di perbatasan.
Pada Jumat, 18 Juli 2025, sepuluh personel Mako Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat, di bawah pimpinan Serka Acan S., menggelar karya bakti di Masjid Muhajirin—sebuah masjid sederhana namun penuh makna bagi warga setempat.
“Kami datang bukan hanya membawa tugas negara, tetapi juga membawa hati untuk melayani dan berbagi,” ungkap Serka Acan S., penuh ketulusan.
Merawat Iman, Menyambut Bulan Kemerdekaan
Kegiatan ini bukan hanya sebatas gotong-royong membersihkan masjid. Lebih dari itu, ia menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan menjelang pelaksanaan salat Jumat, serta sebagai bentuk kesiapan menyambut bulan penuh semangat: Agustus, bulan kemerdekaan.
Anggota Satgas membersihkan halaman masjid, merapikan jalan menuju Mako Satgas, dan membantu warga sekitar untuk menciptakan suasana yang nyaman dan khidmat dalam menjalankan ibadah.
Suasana hangat pun terjalin, tak ada sekat antara prajurit dan rakyat. Semua larut dalam semangat gotong royong dan persaudaraan.
“Kehadiran mereka bagaikan berkah. Tidak hanya menjaga perbatasan, tapi juga menjaga hati umat,” ujar Ustadz Jafar, imam Masjid Muhajirin, dengan mata berkaca-kaca penuh syukur.
Dari Perbatasan, Untuk Indonesia yang Damai
Karya bakti ini menjadi cerminan nyata peran Tentara Nasional Indonesia bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan negara, tetapi juga sebagai pelindung dan sahabat rakyat. Di perbatasan yang jauh dari sorotan kota, hubungan antara TNI dan masyarakat bukan dibangun dengan senjata, tetapi dengan kepercayaan dan kasih sayang.
Kegiatan sosial seperti ini menunjukkan bahwa di balik ketegasan seragam hijau, ada hati yang lembut dan tangan yang siap membantu.
Semangat itulah yang ingin terus dipelihara di wilayah-wilayah perbatasan, agar Indonesia tetap kokoh tak hanya dari sisi pertahanan, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.
“Kami ingin kehadiran kami dirasakan, bukan hanya sebagai penjaga garis negara, tetapi sebagai saudara yang siap membantu dalam suka dan duka,” tambah Serka Acan S.
Harmoni di Perbatasan: Misi Mulia Satgas Pamtas
Melalui kegiatan ini, Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat berharap dapat mempererat hubungan kemitraan dengan masyarakat setempat, menciptakan suasana yang damai, dan menjaga semangat kebersamaan yang sudah lama tumbuh di tanah perbatasan.
Dalam kesederhanaan Masjid Muhajirin, telah lahir sebuah cerita indah: tentang persatuan, pengabdian, dan cinta untuk negeri. Sebuah cerita yang tidak ditulis dengan pena, tetapi dengan keringat, doa, dan keikhlasan.












