Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPeristiwa

Ayah Kandung Prada Lucky:  Tuntut Keadilan Untuk Hukuman Mati Bagi Para Pelaku

315
×

Ayah Kandung Prada Lucky:  Tuntut Keadilan Untuk Hukuman Mati Bagi Para Pelaku

Sebarkan artikel ini

 

JAKARTA [BUSERKOTA.COM] — Tangis duka menyelimuti keluarga besar almarhum Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang mengembuskan napas terakhir usai menjalani perawatan intensif selama tiga hari di ruang ICU RSUD Aeramo, Kecamatan Aesesa, Rabu (6/8/2025). Ia diduga kuat meninggal dunia akibat penganiayaan brutal oleh seniornya di barak militer.

Ayah kandung almarhum, Serma Cristian Namo, tak kuasa menahan amarah dan kesedihannya. Ia meledak di hadapan wartawan, menyerukan tuntutan keadilan dengan suara bergetar dan air mata yang tak kunjung berhenti.

“Dianiaya senior, dan saya akan kejar pelakunya sampai ke mana pun. Anak saya sudah tidak ada. Ini bukan hanya soal luka, ini soal nyawa!” tegasnya penuh emosi.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, Prada Lucky sempat mendapat tindakan kekerasan di dalam barak sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Dalam kondisi lemah, ia masih sempat mengungkapkan kepada dokter yang menanganinya bahwa dirinya dipukuli oleh senior.

“Dia mengaku sendiri kepada dokter di ruang radiologi bahwa dia dipukuli. Itu pengakuan terakhirnya,” ungkap sang ayah.

Rasa kehilangan mendalam yang bercampur kemarahan membuat Cristian tak bisa menahan emosinya. Ia secara tegas meminta agar pelaku dihukum setimpal, bahkan menuntut hukuman maksimal.

“Saya minta pelaku-pelaku ini dipecat dari TNI AD dan dihukum mati. Jangan ada lagi penganiayaan dalam institusi yang seharusnya mendidik, bukan menyiksa,” ujarnya dengan suara keras.

Cristian mengaku siap menempuh jalur hukum nasional maupun internasional, termasuk menggunakan instrumen hak asasi manusia (HAM) demi memperjuangkan keadilan untuk anaknya.

“Saya tuntut keadilan lewat jalur HAM. Kalau hukum tidak bisa menjerat pelaku, nyawa saya jadi taruhannya!” ucapnya lantang.

Dalam puncak ledakan emosinya, Cristian bahkan melontarkan ancaman keras jika hukum tidak berpihak pada korban.

“Kalau tidak ada keadilan, saya akan gali kembali kuburan anak saya dan saya bawa ke hadapan orang-orang yang paling bertanggung jawab!” serunya, menggetarkan ruangan.

Kasus ini kini menyita perhatian luas, tidak hanya di lingkungan TNI, tapi juga di kalangan masyarakat sipil. Tuntutan agar penganiayaan terhadap prajurit dihentikan dan pelaku dihukum berat kini menggema di berbagai platform media sosial.

Pihak TNI AD hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan resmi kepada publik terkait kasus kematian Prada Lucky. Namun keluarga berharap, institusi tempat anaknya mengabdi tak akan tinggal diam terhadap kasus ini.

Prada Lucky dimakamkan dengan upacara militer. Namun bagi ayahnya, kehormatan militer itu tak cukup jika keadilan belum ditegakkan.

“Anak saya meninggal bukan karena perang, tapi karena dianiaya sesama prajurit. Ini aib besar,” pungkas Cristian Namo dengan suara bergetar.

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *