Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Tangis Tanpa Kata di Ujung Senja Nagekeo

368
×

Tangis Tanpa Kata di Ujung Senja Nagekeo

Sebarkan artikel ini

Prada Lucky Namo, Pengabdi Negeri yang Gugur oleh Tangan Rekannya Sendiri

Oleh: Redaksi BuserKota.com

NAGEKEO — Di usia yang masih muda, semangatnya menggelegak seperti matahari yang baru terbit. Prada Lucky Chepril Saputra Namo baru lima bulan memulai pengabdiannya sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Namun takdir seolah mencuri waktu dan nyawanya, jauh sebelum semestinya ia pulang ke rumah dengan kisah-kisah tentang tugas dan cita-cita yang membanggakan.

Putra kedua dari pasangan Serma Christian Namo dan Sepriana Paulina Mirpey itu dinyatakan lulus sebagai anggota TNI pada Februari 2025. Ia resmi dilantik pada Juni di Rindam IX/Udayana, Singaraja, Bali—sebuah hari penuh haru yang tak pernah disangka menjadi awal kisah tragis di kemudian hari.

Bersama 559 rekan lainnya dalam Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) 834 Wakanga Mere, Lucky tiba di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menggunakan kapal ADRI-L1 milik TNI AD pada 1 Juli 2025. Mereka datang bukan untuk berperang, melainkan untuk membangun—mendirikan markas baru di Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa. Sebuah misi mulia yang seharusnya menjadi cerita heroik dalam perjalanan hidup mereka.

Namun hidup tidak selalu berjalan setia pada rencana.

Di balik semangat kebersamaan dan dedikasi terhadap negeri, terselip sisi gelap yang menyakitkan. Pada Sabtu, 2 Agustus 2025, Prada Lucky dilarikan ke RSUD Aeramo. Tubuhnya lemah, jiwanya terkulai. Ia masuk ICU, bertarung dengan maut dalam diam. Empat hari kemudian, Rabu sore tanggal 6 Agustus, Lucky mengembuskan napas terakhirnya di usia 23 tahun—diduga akibat kekerasan oleh rekan dan seniornya sendiri.

Tangis orang tuanya tak dapat dilukiskan. Bagaimana mungkin seorang anak yang dibesarkan dengan cinta, dikirim untuk mengabdi pada negara, justru kembali dalam peti jenazah—membisu dan penuh luka?


Perjalanan Pulang Tanpa Pelukan

Pada Kamis, 7 Agustus 2025, langit Kupang tampak murung saat pesawat Wings Air yang membawa jenazah Prada Lucky mendarat di Bandara El Tari pukul 13.50 WITA. Ia tak kembali sebagai prajurit yang menang, tapi sebagai pahlawan yang direnggut secara keji oleh sistem yang seharusnya melindungi.

Dari Bandara, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Tentara (RST) Wira Sakti Kupang untuk dilakukan visum atas permintaan keluarga. Mereka ingin tahu, luka macam apa yang merenggut nyawa anak mereka. Luka fisik, mungkin, bisa terdata oleh visum. Tapi luka batin, tak seorang pun dapat mengukurnya.

Lucky adalah anak kedua dari empat bersaudara. Seorang kakak yang disayangi, seorang adik yang dibanggakan. Ia bukan hanya milik keluarganya, tapi kini telah menjadi simbol luka bangsa: tentang bagaimana institusi sebesar TNI masih menyimpan ruang kekerasan yang tidak bisa dibenarkan atas nama senioritas.


Harapan Akan Keadilan

Kini, bangsa ini berutang keadilan kepada Lucky dan keluarganya. Proses hukum harus berjalan. Para pelaku harus diadili, bukan hanya demi menghukum, tetapi demi menjaga martabat setiap prajurit muda yang mengabdi tanpa pamrih.

Kepergian Lucky bukan akhir, melainkan alarm yang memekakkan nurani: bahwa di dalam tubuh negara, masih ada luka yang belum sembuh, dan luka itu kini bernama Prada Lucky Chepril Saputra Namo.

Semoga jiwanya tenang di surga, dan semoga keadilan tidak datang terlambat.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *