Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaPeristiwaSosial

Rumah Impian untuk Prada Lucky: Janji yang Tertunda, Harapan yang Diteruskan

143
×

Rumah Impian untuk Prada Lucky: Janji yang Tertunda, Harapan yang Diteruskan

Sebarkan artikel ini

Di balik duka yang masih basah, sebuah janji kecil dari seorang prajurit yang gugur di medan tugas menemukan jalan untuk diwujudkan. Bukan lagi oleh dirinya, melainkan oleh tangan yang ingin menutup luka, meski tak pernah benar-benar sembuh.

KUPANG |BUSERKOTA.Com)—Selasa siang, 12 Agustus 2025, udara di Makorem 161/Wira Sakti Kupang terasa berat. Langkah kaki keluarga almarhum Prada Lucky Namo terdengar pelan, seolah setiap hentakan membawa kenangan yang tak terbendung.

Mereka datang atas panggilan resmi pihak Makorem—bukan sekadar untuk duduk berbincang, tetapi untuk mendengar sebuah peneguhan, dan sebuah tawaran yang sarat makna.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pertemuan itu menjadi ruang bagi Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Piek Budyakto, untuk menyampaikan niat menyerahkan satu unit rumah kepada keluarga Prada Lucky. Rumah itu bukan sekadar hadiah atau bantuan. Ia adalah janji yang sempat terpatri di hati sang prajurit semasa hidupnya—saat ia masih bertugas di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 di Nagekeo. Sebuah cita-cita sederhana: memberikan tempat berteduh yang layak bagi orang-orang yang ia cintai.

Di ruangan itu, tak ada upacara besar. Tak ada kata-kata yang berusaha terlalu keras untuk menghibur. Hanya percakapan yang mengalir pelan, seperti air yang mencari jalan di sela-sela batu. Ibu kandung almarhum, Sepriana Paulina Mirpey, duduk tenang, meski matanya sesekali menyimpan genangan.

“Sempat ketemu Pak Pangdam,” tuturnya lirih. “Beliau bilang kasus ini akan diproses sesuai ketentuan. Pertemuan biasa saja… tapi kami tahu, ada niat baik yang ingin beliau wujudkan.”

Bagi keluarga, rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah perpanjangan dari kasih seorang anak yang telah lebih dulu dipanggil pulang. Sebuah simbol bahwa meski tubuh Prada Lucky kini telah terbujur di tanah, tekadnya masih berdiri tegak, menolak runtuh.

Di luar sana, sore menjelang. Langit Kupang memerah seperti mata yang lelah menangis. Dan di hati keluarga Namo, meski luka belum kering, terselip doa yang tak pernah putus: semoga almarhum beristirahat dalam damai, dan semoga mereka yang ditinggalkan tetap kuat menapaki hari-hari yang sunyi.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *