Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPeristiwa

Kesaksian Prada Richard di Malam Kelam Itu

110
×

Kesaksian Prada Richard di Malam Kelam Itu

Sebarkan artikel ini

KUPANG | BUSERKOTA.ComUngkap Fakta Hukum dan Kriminal Demi Keadilan

Malam itu, udara Nagekeo terasa dingin dan sunyi. Tapi di dalam barak Batalyon 834 Waka Nga Mere, yang terdengar bukan nyanyian jangkrik, melainkan suara cambuk dan jeritan manusia. Prada Richard, salah satu prajurit muda yang malam itu ikut disiksa, masih mengingat setiap detiknya dengan jelas — detik yang mengubah hidupnya dan merenggut nyawa sahabatnya, Prada Lucky Cepril Saputra Namo.

“Kami dicambuk dari jam satu sampai setengah tiga pagi. Kabelnya besar, dan setiap sabetan terasa seperti menampar nyawa,” ucap Prada Richard dengan suara pelan, saat bersaksi di hadapan majelis hakim Pengadilan Militer III-15 Kupang, Senin (27/10/2025).

Malam 1,5 Jam yang Menghantui

Dalam ruang sidang yang hening, Richard menceritakan kembali bagaimana ia dan Prada Lucky dipanggil oleh senior mereka. Mereka diperintahkan berbaris, lalu dicambuk bergantian tanpa ampun. “Saya tidak tahu apa kesalahan kami. Hanya disuruh diam. Setiap kali saya terjatuh, mereka menyuruh berdiri lagi,” tuturnya.

Kabel listrik yang digunakan untuk mencambuk membuat kulit punggung Richard terkelupas. Darah menetes di lantai barak. Di ruang sebelah, terdengar jeritan sahabatnya — Prada Lucky — yang kini tak lagi bernyawa.

“Saya mendengar dia memanggil nama Tuhan. Tapi tak ada yang menolong,” kata Richard, menahan air mata di depan hakim.

Kebohongan di Depan Dokter

Keesokan harinya, tubuh mereka yang lebam dan robek dibawa ke petugas kesehatan. Namun, ketakutan membuat mereka memilih berbohong. “Kami bilang jatuh dari pohon,” ujar Richard lirih.
Sebuah kebohongan yang dipaksakan — bukan karena ingin menutupi dosa, tetapi karena takut pada mereka yang berkuasa di atasnya.

Tangisan Keluarga di Ruang Sidang

Saat kesaksian itu dibacakan, keluarga Prada Lucky yang duduk di bangku pengunjung tak kuasa menahan tangis. Ibunya menutup wajah dengan kedua tangan, sementara sang ayah menatap kosong ke arah meja hijau.

“Anak saya bukan binatang. Dia prajurit, tapi juga manusia,” kata ayahnya, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.

Kebenaran yang Tak Bisa Dibungkam

Persidangan hari itu menjadi saksi bagaimana luka fisik beralih menjadi luka batin yang panjang. Kebenaran, meski lama disembunyikan, akhirnya keluar melalui suara Prada Richard — suara yang bergetar tapi jujur.

Bagi keluarga Lucky, keadilan bukan hanya tentang hukuman, tetapi tentang kebenaran yang akhirnya berani berbicara.
Dan bagi bangsa ini, kisah Prada Lucky dan Prada Richard menjadi pengingat bahwa kedisiplinan tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan kebiadaban.

“Yang benar akan menang, dan yang berbohong akan kalah — bukan karena kata manusia, tapi karena cara Tuhan menyingkap semuanya,” tutur seorang kerabat di luar ruang sidang, menatap langit Kupang yang mulai senja.

Malam penyiksaan itu telah berlalu, tapi gema jeritan Prada Lucky masih menggema di hati banyak orang — sebagai panggilan nurani agar keadilan benar-benar ditegakkan, tanpa takut dan tanpa pamrih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *