Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPeristiwaTeknologi

Iman yang Dikhianati: Jejak Sunyi Rp 28 Miliar yang Hilang dari Jemaat Aek Nabara

119
×

Iman yang Dikhianati: Jejak Sunyi Rp 28 Miliar yang Hilang dari Jemaat Aek Nabara

Sebarkan artikel ini

SUMUT | BUSERKOTA.Com — Di antara doa-doa yang terangkat sunyi di altar, tak ada yang menyangka bahwa kepercayaan yang dititipkan jemaat justru menjelma menjadi celah pengkhianatan. Uang puluhan miliar rupiah yang dikumpulkan dengan iman dan harapan, perlahan lenyap—ditelan oleh janji manis yang tak pernah nyata.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Utara mengungkap skandal besar yang menyeret nama Andi Hakim Febriansyah, mantan Kepala Kas Bank BNI Unit Aek Nabara, cabang Rantauprapat. Ia diduga menggelapkan dana jemaat Gereja Katolik Paroki Aek Nabara, Kabupaten Labuhanbatu, dengan nilai fantastis mencapai Rp 28 miliar.

Kisah ini bermula pada 2019—tahun ketika kepercayaan mulai ditanam, bukan dengan paksaan, melainkan dengan janji. Andi menawarkan skema penghimpunan dana jemaat melalui Credit Union (CU), dibalut produk yang terdengar meyakinkan: BNI Deposito Investment.

Janji keuntungan 8 persen per tahun menjadi magnet yang sulit ditolak.

Namun, di balik nama yang terdengar resmi itu, tak ada produk nyata. Semuanya fiktif.

Untuk menjaga ilusi tetap hidup, Andi bahkan menggunakan uang pribadinya—memberikan “bunga” secara manual kepada jemaat. Sebuah sandiwara finansial yang berjalan rapi, seolah sistem bekerja normal, padahal seluruhnya adalah rekayasa.

╔════════════════════════════════════╗
“Produk ini sebenarnya tidak pernah dikeluarkan oleh BNI. Namun ia meyakinkan bahwa ada investasi dengan bunga 8 persen per tahun.”
╚════════════════════════════════════╝

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut, Kombes Rahmat Budi Handoko, menegaskan bahwa bunga tersebut jauh di atas rata-rata resmi perbankan yang hanya sekitar 3,7 persen. Ketimpangan itu seharusnya menjadi alarm—namun kepercayaan telah lebih dulu menutup kewaspadaan.

Tak berhenti di situ, tersangka juga memalsukan berbagai dokumen penting: bilyet deposito, tanda tangan nasabah, hingga formulir penarikan dana. Semua dirancang untuk menciptakan legitimasi palsu atas dana yang sejatinya telah dipindahkan.

Dana jemaat diduga dialirkan ke rekening pribadi istrinya, Camelia Rosa, serta ke perusahaan milik mereka, PT Chiara Keanu Chareem Sejahtera.

Awal mula terbongkarnya kasus ini terjadi pada Desember 2025—saat jemaat terakhir kali melakukan penyetoran tanpa kecurigaan. Dalam waktu yang sama, Andi mulai mengambil dokumen bilyet dengan dalih pembaruan.

Lalu, rangkaian peristiwa bergerak cepat.

Pada 9 Februari 2026, ia mengajukan cuti. Sembilan hari kemudian, mengundurkan diri. Dan pada 20 Februari, resmi pensiun dini.

Kecurigaan mulai menguat ketika pegawai pengganti mendatangi pihak gereja dan mengungkap status Andi. Suster Natalia, yang terkejut, akhirnya membuka fakta bahwa dana jemaat selama ini dititipkan melalui dirinya.

Investigasi internal bank pun dilakukan. Hasilnya mengarah pada indikasi penggelapan.

Pada 26 Februari 2026, laporan resmi dilayangkan ke Polda Sumut.

Namun, waktu berpihak pada pelaku.

Dua hari setelah laporan dibuat, Andi telah lebih dulu meninggalkan Indonesia—terbang dari Bali menuju Australia pada 28 Februari 2026.

╔════════════════════════════════════╗
“Dua hari setelah dilaporkan, dia sudah bergerak dari Bali menuju Australia.”
╚════════════════════════════════════╝

Kini, aparat bekerja lintas negara. Polda Sumut menggandeng Divisi Hubungan Internasional, Interpol, dan Australian Federal Police (AFP) untuk memburu tersangka. Red Notice telah diajukan—sebuah upaya agar jejak pelarian tak lagi memiliki ruang untuk bersembunyi.

Analisis Kontekstual
Kasus ini bukan sekadar kejahatan finansial, melainkan potret rapuhnya sistem pengawasan internal dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap figur otoritas. Di banyak daerah, relasi antara institusi keuangan dan komunitas berbasis kepercayaan seringkali berjalan tanpa verifikasi berlapis. Ketika kontrol administratif longgar dan literasi keuangan belum merata, celah manipulasi menjadi semakin lebar—bahkan di ruang yang paling sakral sekalipun.

Pada akhirnya, yang hilang bukan hanya uang.

Yang runtuh adalah rasa percaya—sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun kembali daripada sekadar angka di rekening.

Dan di altar yang sama, doa-doa kini mungkin tak lagi sepenuhnya tenang, karena pernah ada kepercayaan yang dikhianati—dalam diam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *