Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Tergiur Akun FF Murah, Siswi 14 Tahun di Makassar Diduga Jadi Korban Penipuan Online

2
×

Tergiur Akun FF Murah, Siswi 14 Tahun di Makassar Diduga Jadi Korban Penipuan Online

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR |BUSERKOTA.Com  – Di balik gemerlap dunia digital yang menawarkan berbagai kemudahan, tersimpan pula lorong-lorong gelap yang siap menjebak siapa saja yang lengah. Bagi Aqiilah (14), seorang siswi di salah satu sekolah swasta di Kota Makassar, 30 Mei 2026 menjadi momen yang meninggalkan rasa kecewa mendalam setelah dirinya diduga menjadi korban penipuan saat membeli akun Free Fire (FF) melalui media sosial Instagram.

Awalnya, semua tampak begitu meyakinkan.

Di layar telepon genggamnya, terpampang berbagai akun Free Fire dengan tampilan menarik. Level tinggi, item langka, hingga berbagai keunggulan lain dipamerkan melalui unggahan yang terlihat profesional. Tidak hanya itu, akun penjual juga menampilkan sejumlah bukti transaksi dan testimoni yang membuat calon pembeli merasa aman untuk bertransaksi.

Sebagai remaja yang aktif di dunia digital, Aqiilah mengaku tertarik. Harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran. Tawaran itu terasa seperti kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

╔════════════════════════════════╗ ║ “Saya melihat akun itu menawarkan akun Free Fire murah dan katanya terpercaya. Karena terlihat meyakinkan, saya akhirnya tertarik untuk membeli.” ║ ║ ║ ║ — Aqiilah, korban ║ ╚════════════════════════════════╝

Kepada awak media melalui percakapan WhatsApp pada Sabtu (30/05/2026), Aqiilah menceritakan bahwa dirinya kemudian melakukan pembayaran sesuai kesepakatan yang ditentukan oleh penjual.

Namun harapan untuk segera memiliki akun game impian itu berubah menjadi kekecewaan.

Setelah uang dikirim, akun Free Fire yang dijanjikan tak kunjung diberikan. Komunikasi yang sebelumnya berjalan lancar mulai tersendat. Pesan-pesan yang dikirim korban tidak lagi mendapatkan respons hingga akhirnya pihak penjual sama sekali tidak memberikan jawaban.

Bagi seorang pelajar seusianya, kehilangan uang bukanlah satu-satunya luka yang dirasakan. Kepercayaan yang sempat diberikan kepada akun yang dianggap terpercaya ikut sirna bersama hilangnya komunikasi dari pihak penjual.

Keluarga korban mengaku prihatin atas peristiwa tersebut dan berharap pihak yang diduga menerima pembayaran dapat menunjukkan itikad baik dengan mengembalikan dana yang telah diterima.

╔════════════════════════════════╗ ║ “Kami berharap pelaku segera mengembalikan uang korban. Jangan sampai semakin banyak anak-anak yang menjadi korban karena modus seperti ini.” ║ ║ ║ ║ — Keluarga Korban ║ ╚════════════════════════════════╝

Kasus yang dialami Aqiilah menjadi potret kecil dari maraknya kejahatan digital yang kini menyasar kalangan pelajar dan remaja. Dengan memanfaatkan ketertarikan anak-anak terhadap game online, pelaku biasanya menawarkan akun permainan, item digital, atau voucher dengan harga yang jauh di bawah nilai pasar untuk menarik perhatian calon korban.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital tidak lagi sekadar tempat hiburan, tetapi juga arena yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Banyak pelaku memanfaatkan psikologi pengguna muda yang cenderung mudah percaya pada tampilan visual menarik, jumlah pengikut yang besar, serta testimoni yang belum tentu dapat diverifikasi kebenarannya.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat melakukan transaksi melalui media sosial. Verifikasi identitas penjual, pengecekan reputasi akun, serta sikap kritis terhadap penawaran yang terlalu murah menjadi langkah penting untuk menghindari kerugian serupa.

Di sisi lain, peran orang tua juga menjadi semakin penting. Pendampingan terhadap aktivitas digital anak, edukasi mengenai keamanan transaksi online, serta komunikasi yang terbuka dapat menjadi benteng pertama untuk melindungi anak-anak dari berbagai modus kejahatan siber yang terus berkembang.

Pengamat keamanan digital pun mengingatkan bahwa pelaku penipuan sering menggunakan foto-foto menarik, testimoni palsu, bahkan akun dengan jumlah pengikut yang besar untuk menciptakan kesan terpercaya. Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak mudah tergoda oleh janji keuntungan instan maupun harga yang tampak terlalu murah untuk menjadi kenyataan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak yang diduga sebagai pelaku belum memberikan klarifikasi terkait dugaan penipuan tersebut.

Kisah yang dialami Aqiilah menjadi pengingat bahwa di era digital, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. Sebab ketika kewaspadaan dikalahkan oleh rayuan layar, yang hilang bukan hanya uang, melainkan juga rasa aman yang selama ini dianggap hadir di balik sentuhan jari.

Penulis: Redaksi BuserkotaEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *