KEFAMENANU | BUSERKOTA.COM — Pagi itu belum benar-benar terjaga ketika langkah kaki itu pergi. Tanpa suara, tanpa pesan, tanpa jejak yang pasti. Dari sebuah rumah di Jalan Jati, Kelurahan Aplasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, seorang perempuan muda menghilang dalam sunyi yang menggantung hingga hari ini.
Namanya Fransiska J. R. Bere, akrab disapa Erika. Usianya baru 24 tahun. Seorang wiraswasta. Namun lebih dari itu, ia adalah bagian dari keluarga yang kini diliputi kecemasan tak bertepi.
Ia diketahui meninggalkan rumah pada Kamis, 16 April 2026, sekitar pukul 04.30 WITA. Sejak saat itu, keberadaannya tak lagi diketahui.
Dalam keterbatasan yang dimilikinya sebagai penyandang disabilitas tuna rungu, kepergian Erika menghadirkan kekhawatiran yang jauh lebih dalam. Komunikasi yang terputus, ditambah nomor telepon yang tidak aktif, membuat pencarian semakin menantang.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa Erika diduga menuju ke Rote, meski tujuan pastinya belum diketahui hingga kini.
Keluarga hanya bisa berharap, sambil terus menunggu kabar yang tak kunjung datang.
╔══════════════════════════════════════╗
║ “Kami sangat berharap ada yang melihat atau ║
║ mengetahui keberadaan Erika. Setiap informasi ║
║ sekecil apa pun sangat berarti bagi kami.” ║
║ ║
║ — Pihak Keluarga ║
╚══════════════════════════════════════╝
Seruan itu kini meluas, tidak hanya dari keluarga, tetapi juga dari aparat kepolisian yang mengajak seluruh masyarakat untuk turut membantu pencarian.
╔══════════════════════════════════════╗
║ “Apabila melihat atau mengetahui keberadaan ║
║ yang bersangkutan, segera menghubungi Call ║
║ Center Polri 110 atau melapor ke kantor ║
║ polisi terdekat.” ║
║ ║
║ — Imbauan Kepolisian ║
╚══════════════════════════════════════╝
Waktu terus berjalan, namun jejak Erika masih samar. Di setiap sudut kota, di setiap perjalanan menuju pulau lain, harapan itu diam-diam dititipkan—barangkali ada yang pernah melihat, barangkali ada yang mengenali.
Secara kontekstual, kasus orang hilang, terutama yang melibatkan penyandang disabilitas, memerlukan respons cepat dan kolaborasi luas antara keluarga, masyarakat, dan aparat. Keterbatasan dalam komunikasi membuat individu tuna rungu lebih rentan dalam situasi darurat, sehingga penyebaran informasi publik menjadi kunci utama dalam mempercepat proses penemuan.
Kini, satu hal yang tersisa adalah harapan—bahwa di suatu tempat, di antara perjalanan yang belum selesai, Erika masih melangkah, dan akan segera ditemukan.
Sebab dalam setiap kehilangan, selalu ada doa yang diam-diam berjalan lebih jauh daripada langkah kaki yang pergi.














