Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo PublikInternasionalPeristiwaSosial

Dipulangkan dari Negeri Seberang 22 Warga NTT, Didominasi Ibu dan Anak, Kembali ke Tanah Kelahiran

54
×

Dipulangkan dari Negeri Seberang 22 Warga NTT, Didominasi Ibu dan Anak, Kembali ke Tanah Kelahiran

Sebarkan artikel ini

JAKARTA | BUSERKOTA.Com — Perjalanan panjang itu akhirnya menemukan arah pulang. Sebanyak 22 warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dideportasi dari Malaysia diberangkatkan kembali ke kampung halaman mereka melalui Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (30/04/2026). Di antara mereka, tersimpan kisah sunyi tentang ibu dan anak-anak yang harus menata ulang kehidupan dari titik nol.

Rombongan tersebut terdiri dari 7 perempuan dan 15 anak-anak berusia antara 1 hingga 8 tahun—usia yang seharusnya diisi dengan tawa dan bangku sekolah, namun justru bersinggungan dengan realitas pahit migrasi dan deportasi.

Sebelum dipulangkan, mereka sempat ditampung di UPT Kemensos Sentra Paramita Mataram sejak 23 April 2026, mendapatkan perlindungan sementara serta pemenuhan kebutuhan dasar.

Kepala Sentra Paramita Mataram, Arif Rohman, menjelaskan bahwa proses pemulangan dilakukan melalui Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat, dengan tujuan berbagai daerah di NTT.

╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Mereka akan pulang ke Ende, Flores, Kupang, Sumba Barat Daya, dan Kabupaten TTS. Mereka telah mendapatkan layanan shelter dan pemenuhan kebutuhan dasar selama berada di Sentra Paramita.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝

Namun di balik kepulangan itu, terselip kenyataan yang belum sepenuhnya selesai. Para suami dari tujuh perempuan tersebut diketahui masih berstatus tahanan di Malaysia, meninggalkan keluarga dalam kondisi yang belum utuh.

Yang lebih memprihatinkan, 15 anak-anak yang ikut dideportasi itu tidak mengenyam pendidikan selama berada di luar negeri—sebuah kehilangan waktu belajar yang tak tergantikan.

╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Anak-anak yang ikut dideportasi ini tidak bersekolah, dan ini menjadi perhatian serius bagi kita semua.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝

Pemulangan ini menjadi langkah awal untuk memulihkan kehidupan mereka, sekaligus membuka ruang bagi perhatian lebih lanjut terhadap perlindungan pekerja migran dan keluarga mereka.

Analisis Kontekstual
Kasus deportasi warga NTT dari Malaysia kembali menegaskan rentannya posisi pekerja migran Indonesia, khususnya perempuan dan anak-anak yang turut terdampak. Minimnya akses pendidikan bagi anak-anak migran menjadi persoalan serius yang membutuhkan intervensi lintas negara dan kebijakan perlindungan yang lebih komprehensif. Pemulangan ini bukan sekadar akhir perjalanan, tetapi awal dari tantangan baru dalam proses reintegrasi sosial dan pemulihan hak-hak dasar mereka.

Di pelabuhan itu, langkah-langkah kecil para anak kembali menapak tanah kelahiran. Mungkin mereka belum sepenuhnya memahami arti perjalanan ini, tetapi di sanalah harapan perlahan tumbuh—bahwa pulang bukan sekadar kembali, melainkan kesempatan untuk memulai lagi dengan masa depan yang lebih layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *