KABANJAHE |BUSERKOTA.Com – Pintu-pintu instalasi gawat darurat (IGD) di sejumlah rumah sakit Kabupaten Karo mendadak dipenuhi anak-anak berseragam sekolah. Di tengah kepanikan keluarga dan tenaga medis yang bergerak cepat, ratusan siswa SMAN 1 Kabanjahe dilaporkan terdampak dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga pukul 16.10 WIB, lebih dari 100 siswa tercatat telah dilarikan ke rumah sakit dan masih menjalani perawatan. Belum ada laporan mengenai korban jiwa dalam insiden tersebut.
Pantauan Lembaga Swadaya Masyarakat Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (LSM KCBI) PC Kabupaten Karo menyebutkan, sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kepadatan setelah para siswa berdatangan dengan kondisi lemas dan mengalami muntah-muntah. Sebagian korban tiba menggunakan ambulans maupun kendaraan darurat, sementara keluarga dan warga memenuhi area IGD.
Sejumlah rumah sakit yang dipadati korban antara lain RS Efarina Etaham Berastagi, RS Swasta Amanda, dan RSUD Kabanjahe.
Informasi dari lingkungan sekolah menyebutkan jumlah siswa terdampak mencapai ratusan orang. Situasi tersebut membuat tenaga medis harus bekerja dalam tekanan tinggi untuk memberikan penanganan kepada para siswa yang datang secara bersamaan.
Bupati dan Kapolres Turun Memantau
Di tengah situasi tersebut, Bupati Karo Brigjen Pol. (Purn.) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG., M.Kes., bersama Kapolres Karo AKBP Pebriandi Haloho, S.H., S.I.K., M.Si., turun langsung ke RS Efarina Etaham Berastagi.
Keduanya meninjau kondisi para siswa sekaligus melihat secara langsung proses penanganan medis terhadap korban yang masih menjalani perawatan.
Kehadiran pejabat daerah dan kepolisian di tengah kepadatan rumah sakit menunjukkan bahwa dugaan insiden keracunan tersebut tidak hanya menjadi persoalan pelayanan kesehatan, tetapi juga menyangkut pengawasan terhadap keamanan pangan dalam program MBG.
KCBI Minta SPPG Diusut
Ketua LSM KCBI PC Karo, Rudi Surbakti, meminta aparat penegak hukum segera melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti kejadian, termasuk menelusuri asal makanan MBG dan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi penyedianya.
“Ini bukan persoalan biasa. Ratusan anak bangsa menjadi korban. Kami mendesak Polres Karo segera mengusut tuntas asal-usul makanan MBG dan dapur SPPG yang menjadi penyedianya. Jangan sampai ada yang bermain-main dengan makanan anak sekolah. Pengelola dapur MBG harus bertanggung jawab penuh,” tegas Rudi Surbakti.
Menurutnya, penanganan medis harus menjadi prioritas pertama. Namun, setelah kondisi para siswa tertangani, proses hukum dan pemeriksaan terhadap rantai penyediaan makanan perlu dilakukan secara transparan.
“Prioritas utama saat ini adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak kita. Setelah itu, hukum harus bicara,” lanjutnya.
Desakan tersebut menjadi penting karena program MBG bersentuhan langsung dengan kelompok usia sekolah yang membutuhkan jaminan keamanan pangan. Dugaan keracunan massal, apabila terbukti berkaitan dengan makanan yang disalurkan melalui program tersebut, tidak hanya menyangkut satu kejadian, tetapi juga menjadi bahan evaluasi terhadap seluruh mata rantai penyediaan makanan, mulai dari pengolahan hingga distribusi kepada siswa.
LSM KCBI PC Karo menyatakan akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut hingga tuntas dan mendorong agar penyebab kejadian dapat diungkap secara terang, sehingga keselamatan anak-anak sekolah tetap menjadi garis pertama yang tidak boleh dikompromikan.
Sebab makanan yang seharusnya menguatkan tubuh anak-anak bangsa, tidak boleh berubah menjadi awal dari kecemasan di ruang-ruang IGD.














