ATAMBUA| BUSERKOTA.COM — Suara alarm membelah halaman Markas Polres Belu, Polda Nusa Tenggara Timur, Selasa pagi, 11 Agustus 2026.
Personel bergerak mengambil posisi. Peralatan pengendalian massa diperiksa. Formasi disiapkan.
Pagi itu bukan sebuah kerusuhan yang sesungguhnya, melainkan simulasi. Namun seluruh tahapan dirancang menyerupai situasi ketika unjuk rasa berubah menjadi ancaman keamanan: massa yang terus mendesak, aksi saling dorong, lemparan, ban yang dibakar, hingga penggunaan kendaraan AWC dan gas air mata untuk mengendalikan keadaan.
Di tengah skenario itu, Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H., S.I.K., berdiri memimpin langsung simulasi Sistem Pengamanan Kota (Sispam Kota) dan pengendalian unjuk rasa yang digelar setelah apel jam pimpinan sekitar pukul 08.30 Wita.
Kegiatan tersebut diikuti para pejabat utama Polres Belu, para Kapolsek jajaran, perwira staf, serta seluruh personel yang terlibat dari berbagai satuan fungsi, mulai dari Samapta, Reskrim, Intelkam, Binmas, Lalu Lintas, Resnarkoba hingga unsur bagian dan seksi gabungan.
Sebelum latihan dimulai, Kapolres memeriksa kelengkapan peralatan Dalmas. Ia kemudian mengikuti seluruh rangkaian latihan, sejak apel kesiapan pengendalian massa hingga tahap konsolidasi.
Setiap tahapan berada dalam pengawasan langsung Kapolres. Arahan diberikan, evaluasi dilakukan, dan sejumlah catatan disampaikan untuk memperbaiki cara bertindak personel ketika menghadapi situasi kontinjensi.
Dari Laporan Intelkam hingga Massa Bergerak
Skenario dimulai dari laporan Kasat Intelkam mengenai adanya informasi rencana aksi unjuk rasa menuju Mapolres Belu. Massa disebut menuntut pembebasan seorang tahanan yang ditahan di Polres Belu.
Laporan itu kemudian menjadi dasar bagi Kapolres untuk memerintahkan Kabag Ops menyiapkan personel dan perlengkapan pengamanan.
Tim negosiasi, Dalmas awal dan Dalmas lanjut disiapkan. Kasat Samapta diperintahkan mengerahkan personel dengan membunyikan alarm steling sebagai tanda kesiapsiagaan.
Di depan Mako Polres Belu, massa dalam skenario mulai melakukan orasi.
Tim negosiasi bersama Dalmas awal berusaha meredam situasi melalui imbauan. Pendekatan persuasif menjadi langkah pertama agar massa tetap menyampaikan aspirasi tanpa berkembang menjadi tindakan yang mengganggu keamanan.
Namun situasi kemudian berubah.
Aksi saling dorong terjadi. Lemparan mulai diarahkan kepada tim negosiasi dan Dalmas awal.
Kondisi yang semakin tidak kondusif membuat Kabag Ops memerintahkan Kasat Samapta menyiapkan Dalmas lanjut untuk melakukan lintas ganti.
Personel Dalmas lanjut bergerak menggunakan formasi sebar lebar untuk menahan massa yang semakin tidak terkendali. Dalam skenario latihan, massa melakukan pelemparan dan membakar ban di halaman Polres Belu.
Formasi sikap dorong digunakan untuk menahan pergerakan massa. Namun perlawanan terus berlangsung dengan lemparan ke arah petugas.
Kendaraan AWC kemudian bergerak. Semprotan air diarahkan kepada massa untuk membantu mengendalikan situasi.
Di sisi lain, personel menggunakan APAR untuk memadamkan tumpukan ban yang dibakar massa.
Ketika situasi semakin meningkat, Tim Renmas Polres Belu bergerak menggunakan 10 unit sepeda motor yang dilengkapi pelontar gas air mata. Gas air mata ditembakkan dengan tujuan membubarkan massa.
Pada tahapan berikutnya, Tim Resmob Polres Belu memasuki lokasi dan mengamankan beberapa orang yang dalam skenario disebut sebagai provokator massa untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah situasi dinyatakan kondusif, seluruh rangkaian latihan ditutup dengan apel konsolidasi yang dipimpin Kabag Ops Polres Belu.
Humanis, tetapi Tetap Tegas
Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa mengatakan simulasi tersebut bukan sekadar latihan teknis, tetapi bagian dari upaya memastikan personel memiliki kemampuan dan kesiapan menghadapi perubahan situasi di lapangan.
Menurut dia, perkembangan berbagai aksi unjuk rasa yang terjadi di sejumlah daerah menjadi pelajaran penting bagi kepolisian untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan.
“Kita sama-sama sudah melihat berita di televisi, bahkan yang tersebar di media-media sosial, sering terjadi unjuk rasa. Khusus di wilayah Belu, setelah kita lakukan mapping, puji Tuhan sampai dengan saat ini situasi di Kabupaten Belu tetap kondusif. Kalaupun ada aksi damai, tidak ada yang menjurus ke tindakan anarkis,” tutur Kapolres Belu.
Karena itu, latihan tersebut diarahkan untuk memastikan setiap personel memahami perannya ketika menghadapi situasi yang berkembang dari aksi damai menjadi gangguan keamanan.
Kapolres menekankan pentingnya pemahaman terhadap standar operasional prosedur (SOP), sekaligus kemampuan mengedepankan pendekatan yang humanis dalam setiap tindakan kepolisian.
“Latihan ini sangat penting untuk memastikan kesiapan personel dalam menghadapi situasi kontinjensi yang mungkin saja muncul kapan saja. Semua harus paham SOP dan cara bertindak yang humanis, namun tetap tegas sesuai prosedur,” tegasnya.
Menjaga Belu Tetap Kondusif
Belu memiliki posisi geografis yang khas karena berbatasan langsung dengan negara Timor-Leste. Dalam konteks tersebut, kesiapan aparat keamanan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas daerah, terutama ketika menghadapi potensi gangguan keamanan yang dapat berkembang dari sebuah aksi massa.
Latihan Sispam Kota menjadi ruang untuk menguji koordinasi antarsatuan, ketepatan mengambil keputusan, kesiapan peralatan, serta kemampuan personel menjalankan tahapan pengamanan sesuai prosedur. Namun di atas seluruh kemampuan teknis tersebut, tantangan terbesarnya tetap menjaga keseimbangan antara ketegasan aparat dan penghormatan terhadap masyarakat yang menyampaikan aspirasi.
Kapolres berharap latihan itu tidak berhenti sebagai simulasi di halaman Mapolres Belu, tetapi benar-benar menjadi bekal bagi setiap personel ketika menghadapi situasi nyata.
“Mudah-mudahan dengan latihan ini, setiap personel dapat memahami dan menerapkan apa yang telah dipelajari setiap melakukan pengamanan terhadap aksi unjuk rasa, sehingga situasi kamtibmas di Kabupaten Belu tetap terjaga dengan baik,” tutup Kapolres Belu.
Pagi akhirnya kembali tenang. Alarm berhenti berbunyi, formasi dibubarkan, dan personel kembali berkonsolidasi.
Namun latihan itu meninggalkan pesan yang lebih panjang dari sekadar suara komando: ketika massa bergerak dan situasi berubah, kesiapsiagaan bukan hanya tentang seberapa kuat aparat bertindak, tetapi seberapa tepat mereka menjaga ketertiban tanpa kehilangan wajah kemanusiaan.














