Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Propam Geledah Ponsel Polisi, Judol Diburu

95
×

Propam Geledah Ponsel Polisi, Judol Diburu

Sebarkan artikel ini

PUNCAK JAYA |BUSERKOTA.Com— Seragam polisi bukan tiket untuk berada di atas hukum. Pesan itu terasa kuat di Lapangan Apel Markas Polres Puncak Jaya, Senin, 10 Agustus 2026, ketika telepon seluler personel satu per satu diperiksa Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam).

Pemeriksaan dipimpin Wakapolres Puncak Jaya AKP Misken Darius bersama jajaran Propam. Telepon genggam yang setiap hari berada di tangan anggota kali ini menjadi bagian dari pengawasan internal untuk mencegah keterlibatan personel dalam praktik judi online.

Satu per satu personel diminta menunjukkan perangkat mereka. Aplikasi, situs, maupun aktivitas yang berkaitan dengan perjudian daring menjadi sasaran pemeriksaan.

Bukan sekadar pemeriksaan ponsel, langkah tersebut menjadi pengingat bahwa pemberantasan judi online harus dimulai dari rumah sendiri.

Seragam tidak boleh kalah oleh layar

Judi online bukan hanya persoalan masyarakat di luar institusi kepolisian. Ketika praktik tersebut menyentuh lingkungan aparat, persoalannya menjadi lebih serius karena menyangkut integritas penegak hukum.

Karena itu, pengawasan internal menjadi bagian penting untuk memastikan personel Polres Puncak Jaya tidak terlibat dalam aktivitas yang bertentangan dengan hukum maupun ketentuan kedinasan.

Wakapolres Puncak Jaya AKP Misken Darius menegaskan pengawasan terhadap personel akan dilakukan secara rutin dan tegas.

“Kami akan terus melakukan pengawasan secara rutin dan tegas terhadap segala bentuk pelanggaran, termasuk judi online.”

Pesannya sederhana, tetapi memiliki konsekuensi serius: anggota Polri dituntut menjadi contoh dalam menaati hukum.

Misken juga mengingatkan seluruh personel agar menjaga integritas dan nama baik institusi Polri.

Perang judol dimulai dari dalam

Pemeriksaan telepon seluler personel memperlihatkan bahwa pemberantasan judi online tidak cukup dilakukan dengan mengejar pelaku di luar institusi. Konsistensi penegakan hukum juga diuji dari kemampuan kepolisian mengawasi dan membenahi lingkungan internalnya sendiri.

Sebab, publik tidak hanya melihat seberapa banyak pelaku judi online yang ditindak. Publik juga akan menilai apakah aparat yang melakukan penindakan benar-benar bersih dari praktik yang sama.

“Tidak ada artinya polisi berbicara tentang pemberantasan judi online jika layar di tangannya sendiri menyimpan pintu menuju perjudian.”

Karena itu, pemeriksaan tersebut dapat dibaca sebagai bentuk pengawasan sekaligus pesan moral kepada seluruh personel: kewenangan harus berjalan bersama integritas.

Ponsel boleh menjadi benda kecil yang tersimpan di saku seragam. Namun di dalamnya bisa terdapat jejak yang menunjukkan pilihan seseorang—apakah ia menjaga aturan atau justru mengabaikannya.

Di titik itulah pengawasan Propam menjadi penting.

Bukan untuk sekadar mencari kesalahan, melainkan memastikan seragam kepolisian tetap membawa kehormatan ketika berhadapan dengan masyarakat.

Polres Puncak Jaya menegaskan pemberantasan judi online tidak boleh berhenti sebagai slogan. Pengawasan terhadap anggota harus menjadi bagian dari konsistensi institusi dalam menjaga kepercayaan publik.

“Polri Bersih, Tanpa Judol. Bersama Kita Lawan Judi Online.”

Sebab perang melawan judi online tidak selalu dimulai dari ruang penangkapan.

Kadang, ia dimulai dari sebuah ponsel yang dibuka di tengah lapangan apel—dan dari keberanian sebuah institusi untuk memastikan bahwa hukum yang ditegakkan kepada masyarakat juga dihormati oleh mereka yang mengenakan seragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *