Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Tiga Hari Menghilang, Misteri Maut Yanto Benu Mengental

31
×

Tiga Hari Menghilang, Misteri Maut Yanto Benu Mengental

Sebarkan artikel ini

KUPANG |BUSERKOTA.Com — Waktu seolah berhenti di Kamar Nomor 4 Wilma Penginapan 1, Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timir.

Di ruang sederhana itu, perjalanan hidup Yanto Kristo Benu (32) berakhir dalam sunyi. Namun, justru setelah napasnya terhenti, misteri mulai menemukan jalannya sendiri. Tiga hari dinyatakan hilang, ia akhirnya ditemukan tak bernyawa pada Selasa (4/8/2026), meninggalkan jejak yang kini sedang dirangkai satu demi satu oleh penyidik.

Di antara barang-barang pribadi yang masih tertata, dompet yang tetap berisi uang tunai, serta kartu ATM yang tak tersentuh, terdapat satu potongan cerita yang kini menjadi fokus penyelidikan: seorang perempuan misterius yang datang bersama korban, tetapi menghilang tanpa meninggalkan identitas.

Berdasarkan hasil penelusuran kronologi yang dihimpun kepolisian, Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 13.00 WITA menjadi komunikasi terakhir Yanto dengan keluarganya sebelum meninggalkan rumah di Kelurahan Lasiana menggunakan sepeda motor Honda Beat merah berpelat DH 6089 CN.

Sekitar satu setengah jam kemudian, tepat pukul 14.30 WITA, korban tiba di Wilma Penginapan 1 dan memesan Kamar Nomor 4. Sejak saat itu, jejak komunikasinya perlahan terputus hingga keluarga yang cemas melaporkan kehilangan ke Polresta Kupang Kota pada dini hari Senin (3/8/2026).

Harapan keluarga untuk menemukan Yanto dalam keadaan selamat pupus pada Selasa (4/8/2026). Ia ditemukan telah meninggal dunia di dalam kamar penginapan. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya bahkan masih tersimpan di meja resepsionis sejak hari pertama proses check-in.

Di balik rentetan waktu tersebut, penyidik menemukan satu fakta yang menjadi perhatian.

Karyawan penginapan, Karlos Hambur (21), menyebut korban datang bersama seorang perempuan. Namun perempuan itu tidak ikut memasuki ruang resepsionis. Ia memilih menunggu di luar lobi dengan wajah tertutup helm dan tubuh dibalut jaket tebal sehingga identitasnya tidak pernah tercatat dalam buku tamu.

Sejak saat itulah, perempuan misterius tersebut menjadi mata rantai yang kini sedang dicari penyidik untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi sebelum Yanto ditemukan meninggal dunia.

“Kami masih menelusuri identitas perempuan yang datang bersama korban. Seluruh keterangan saksi, barang bukti, serta hasil pemeriksaan forensik akan menjadi dasar untuk menyusun rangkaian peristiwa secara utuh sebelum mengambil kesimpulan mengenai penyebab kematian korban,” ujar Kasatreskrim Polres Kupang, AKP Helmi Wildan.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan belum mengarah pada satu kesimpulan tertentu. Polisi memilih mengedepankan pembuktian ilmiah melalui autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, analisis barang bukti, serta pendalaman terhadap setiap saksi yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas terakhir korban.

Sementara itu, hasil olah tempat kejadian perkara menghadirkan fakta lain yang menarik perhatian penyidik. Dugaan perampokan sebagai motif utama dinilai kecil kemungkinannya karena dompet korban yang berisi uang tunai sekitar Rp1 juta beserta kartu ATM ditemukan masih utuh.

Selain itu, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu buah kondom merek Sutra, sisa air mineral, bungkus roti, sikat gigi, sepasang sandal jepit, celana pendek, pakaian, serta jaket milik korban. Seluruh barang tersebut kini menjadi bagian dari proses pemeriksaan forensik untuk merekonstruksi detik-detik terakhir kehidupan korban.

Jenazah Yanto selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uli Kupang guna menjalani autopsi dan pemeriksaan medis mendalam. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian, apakah berkaitan dengan dugaan tindak pidana, paparan zat tertentu, atau kemungkinan penyebab medis lainnya.

Dalam perkara kematian yang masih menyisakan ruang kosong, setiap detail sekecil apa pun dapat menjadi penghubung menuju kebenaran. Keterangan saksi, hasil autopsi, bukti ilmiah, hingga jejak aktivitas terakhir korban akan menjadi fondasi utama bagi penyidik untuk menyusun konstruksi peristiwa secara utuh tanpa didasarkan pada dugaan semata.

Di Kamar Nomor 4 itu, waktu memang telah berhenti bagi Yanto Kristo Benu. Namun bagi keluarga, penyidik, dan publik yang menanti kepastian, pencarian belum benar-benar usai. Sebab, di balik setiap misteri yang belum terpecahkan, selalu ada keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Penulis: Redaksi Buserkota.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *