KUPANG |BUSERKOTA.Com — Tengah malam baru saja melewati pukul 00.30 WITA ketika suasana di depan SPBU Liliba, Jalan Piet A. Tallo, Kota Kupang, masih diselimuti keheningan. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, sebuah operasi senyap digelar. Langkah-langkah terukur para petugas akhirnya bermuara pada satu titik: seorang pria berinisial RHM (37), yang diduga selama ini bersembunyi di balik identitas palsu sebagai anggota Polri.
Pelarian pria tersebut berakhir pada Senin (13/7/2026). Tim gabungan Unit Jatanras Satreskrim Polresta Kupang Kota bersama Tim Zero Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak (TPPA) serta Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Polda NTT berhasil menangkapnya tanpa perlawanan.
Kasat Reskrim Polresta Kupang Kota, AKP Jumpatua Simanjorang, membenarkan penangkapan tersebut.
“Benar, tim gabungan di bawah pimpinan Kanit Jatanras IPDA Alfred Bire telah mengamankan seorang pria berinisial RHM. Penangkapan dilakukan berdasarkan laporan polisi yang dibuat korban berinisial PAB,” ujar AKP Jumpatua Simanjorang, mewakili Kapolresta Kupang Kota Kombes Pol Djoko Lestari.
Penyidik mengungkap, kasus ini bermula pada awal Maret 2026. Perkenalan yang semula tampak biasa melalui aplikasi TikTok perlahan berubah menjadi dugaan kejahatan yang memanfaatkan kepercayaan dan kerentanan korban.
RHM diduga menggunakan akun palsu dan memperkenalkan diri sebagai seorang anggota Polri bernama “Fadli”, yang disebut berasal dari Letting 43 dan bertugas di Polsek Rote Barat, Polres Rote Ndao. Untuk memperkuat penyamarannya, ia bahkan menggunakan foto profil milik anggota Polri asli asal Polda Sulawesi Barat, Briptu Muh. Nur Padli.
Di ruang virtual yang sering kali menyamarkan batas antara kenyataan dan kepalsuan, identitas itu tampak meyakinkan. Komunikasi pun berlanjut melalui WhatsApp.
Seiring waktu, hubungan antara pelaku dan korban semakin intens. Hingga pada akhir April 2026, pelaku diduga berhasil membujuk korban untuk mengirimkan foto pribadi tanpa busana dengan alasan foto tersebut akan dijaga kerahasiaannya.
Namun kepercayaan itu diduga berubah menjadi alat tekanan.
Setelah menguasai foto pribadi korban, RHM diduga melakukan pemerasan dengan mengancam akan menyebarluaskan foto-foto tersebut apabila korban tidak memenuhi keinginannya. Dalam situasi tertekan dan merasa menjadi korban tindak pidana, perempuan berinisial PAB akhirnya memilih menempuh jalur hukum dan melaporkan peristiwa itu ke Polresta Kupang Kota.
“Laporan korban menjadi dasar bagi penyidik untuk melakukan serangkaian penyelidikan hingga keberadaan terduga pelaku berhasil dilacak dan diamankan,” demikian penjelasan pihak kepolisian.
Pengungkapan kasus ini sekali lagi menunjukkan bagaimana kejahatan siber kini semakin memanfaatkan kedekatan emosional dan manipulasi identitas. Modus penyamaran sebagai aparat negara menjadi salah satu cara yang kerap digunakan pelaku untuk membangun kepercayaan korban sebelum melakukan eksploitasi.
Secara kontekstual, fenomena ini memperlihatkan perubahan wajah kejahatan di era digital. Relasi yang dibangun melalui media sosial tidak lagi sekadar ruang pertemanan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi tindak penipuan, eksploitasi seksual berbasis elektronik, hingga pemerasan. Kejahatan semacam ini sering kali meninggalkan luka psikologis yang lebih dalam karena korban tidak hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga merasa dikhianati oleh kepercayaan yang telah diberikan.
Saat ini, RHM telah dibawa ke Polresta Kupang Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Penyidik juga masih mendalami kemungkinan adanya korban lain yang mengalami modus serupa.
Polisi mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia maya, tidak mudah mempercayai identitas seseorang hanya berdasarkan foto profil atau pengakuan sepihak, serta menghindari pengiriman data maupun foto pribadi yang berpotensi disalahgunakan.
Di zaman ketika wajah seseorang dapat dipinjam dan identitas dapat dipalsukan hanya melalui layar telepon genggam, kewaspadaan menjadi benteng terakhir yang dimiliki setiap orang. Sebab di balik sebuah akun yang tampak meyakinkan, terkadang tersembunyi topeng yang perlahan menunggu kepercayaan untuk kemudian mengubahnya menjadi ancaman.














