Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & Kriminal

Warga Bo’a Kepung Jalan, Air Jadi Amarah

120
×

Warga Bo’a Kepung Jalan, Air Jadi Amarah

Sebarkan artikel ini

ROTE| BUSERKOTA.COM — Ungkap Fakta Hukum dan Kriminal

Di bawah terik matahari Rote yang membakar, warga Desa Bo’a, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, kembali turun ke jalan. Sabtu siang (25/10/2025), mereka berdiri berderet di jalur utama desa — jalan yang biasa dilalui truk tangki pengangkut air menuju PT Bo’a Development. Kali ini, bukan sekadar unjuk rasa. Ini adalah suara yang lahir dari tanah kering, dari sumur-sumur yang mulai menjerit kehausan.

“Air kami bukan untuk dijual, apalagi dijarah,” ujar Maria Tefa, salah satu perempuan Bo’a yang berdiri di garis depan, suaranya tegas menembus desau angin laut. Di tangannya, sehelai kain bertuliskan “Stop Eksploitasi Air Kami” berkibar — bukan hanya simbol, tapi juga peringatan.

Warga menilai perusahaan yang bergerak di sektor pengembangan wisata pantai itu telah mengambil air tanah secara berlebihan untuk kebutuhan operasional, tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan dan hak masyarakat lokal. Akibatnya, beberapa sumur warga dilaporkan mulai mengering, dan aliran air bersih ke rumah-rumah menjadi tak menentu.

“Kami hanya minta keadilan. Kalau perusahaan mau berkembang, silakan. Tapi jangan sampai rakyat jadi korban,” kata Markus Lede, tokoh muda setempat. Ia menegaskan bahwa warga sudah berulang kali menyampaikan keberatan secara baik-baik, namun tidak digubris.

Aksi penutupan jalan ini merupakan yang kedua kalinya dalam dua bulan terakhir. Warga menumpuk batu dan kayu di tengah jalan, menahan setiap kendaraan tangki yang melintas. Polisi sempat turun untuk melakukan mediasi, namun warga bersikeras bahwa aksi akan berlanjut hingga ada kesepakatan nyata antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.

Sementara itu, pihak PT Bo’a Development belum memberikan tanggapan resmi. Namun sejumlah pekerja di lapangan mengaku operasional distribusi air sementara dihentikan menunggu instruksi manajemen.

Aroma debu bercampur asin laut sore itu menjadi saksi bahwa Bo’a bukan sekadar desa di ujung selatan Nusantara — ia adalah cermin dari pergulatan antara pembangunan dan kelestarian hidup.
Di tengah panas yang menyengat, warga masih bertahan, menunggu jawaban:
apakah suara rakyat kecil masih cukup nyaring untuk didengar oleh mereka yang berkuasa atas sumber-sumber air?

“Kami tidak melawan hukum, kami hanya ingin hidup,” tutur Maria lagi, sebelum langkah-langkahnya menghilang di balik barisan drum bekas yang menutup jalan.


BUSERKOTA.COMUngkap Fakta Hukum dan Kriminal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *