MALAKA |BUSERKOTA.COM) — Di tengah hiruk pikuk pasar tradisional Wanibesak, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur yang riuh oleh suara pedagang dan pembeli, pagi itu muncul sosok mungil yang membuat banyak orang menoleh: seorang anak laki-laki berjalan sendiri, tanpa alas kaki, dengan wajah penuh bingung dan mata yang sembab.
Namanya Viki. Itu satu-satunya jawaban pasti yang bisa ia berikan ketika seorang pedagang menanyakan siapa dirinya. Tak ada penjelasan ke mana tujuannya, atau dengan siapa ia datang. Yang ada hanya tangis tertahan, dan tatapan penuh harap mencari wajah yang ia kenali.
“Saya kira dia hanya anak pedagang, tapi setelah lama mondar-mandir, saya mulai curiga. Dia tampak sangat kebingungan,” cerita Natalia Ade Berek pedagang sayur yang pertama menyapa Viki.
“Waktu saya tanya, dia cuma jawab lirih: ‘Namaku Viki.’”Rabu (23/7/2025)
Di pasar, yang setiap harinya menjadi denyut ekonomi warga sekitar, Viki mendadak jadi pusat perhatian.
Beberapa pedagang membujuknya duduk, memberinya roti dan air minum. Tapi Viki tetap menoleh ke segala arah — seolah menanti seseorang datang menjemput.
Petugas keamanan pasar pun segera turun tangan. Mereka membawanya ke pos jaga dan mengumumkan lewat pengeras suara: “Ditemukan seorang anak laki-laki bernama Viki, diperkirakan usia 6–7 tahun. Bagi keluarga yang merasa kehilangan, mohon segera ke pos keamanan.”
Namun jam demi jam berlalu. Tidak ada yang datang.
Menunggu Pelukan yang Tak Kunjung Tiba
Viki kini duduk tenang setelah diberi makanan. Sesekali ia tersenyum kecil saat diajak berbicara, tapi matanya tetap mencari. Ia belum banyak bicara. Hanya menyebutkan nama depan. Ia tidak tahu nama orang tuanya. Tidak tahu alamat rumah. Hanya satu yang ia bisikkan, “Tadi jalan… terus Mama hilang.”
Warga sekitar menyampaikan keprihatinannya. “Kami sudah edaran fotonya di dimedsos. Untuk sementara, anak ini berada dalam perlindungan kami. Kami pastikan ia aman dan nyaman.”
Daniel juga mengajak masyarakat untuk turut menyebarkan informasi ini, “Barangkali ada keluarga yang mengenali anak ini. Mari bantu, jangan biarkan seorang anak sekecil ini sendirian terlalu lama.”
Sebuah Harapan Kecil dari Wajah Kecil
Di tengah gegap gempita pasar, Viki hanya ingin satu hal: kembali ke pelukan orang tuanya.
Kisah Viki bukan sekadar cerita anak yang tersesat. Ia adalah pengingat bagi kita semua — bahwa di tengah kesibukan dan rutinitas, perhatian dan empati pada sesama tetap harus hidup. Bahwa anak-anak, sekecil apapun mereka, memiliki hak untuk merasa aman, dicintai, dan dilindungi.
Dan hari ini, di Pasar Wanibesak, seorang anak bernama Viki sedang menunggu. Bukan pada angka waktu, tapi pada harapan: bahwa seseorang akan datang, memanggil namanya… dan membawanya pulang.
Viki bilang dia sekolah di SMPN 1 Atambua.














