MEDAN |BUSERKOTA.Com– Riuh tepuk tangan dan semangat persaudaraan memenuhi arena pertandingan ketika mahasiswa Papua dari berbagai perguruan tinggi di Kota Medan berkumpul dalam sebuah turnamen voli dan futsal yang digelar Ikatan Mahasiswa Papua Sumatera Utara (IMP Sumut), Senin (8/6/2026).
Di tengah derasnya arus kehidupan perkotaan, olahraga menjadi jembatan yang menyatukan anak-anak Papua di tanah rantau. Bukan sekadar mengejar kemenangan, turnamen ini menjadi ruang silaturahmi, mempererat kebersamaan sekaligus meneguhkan komitmen bersama untuk menjauh dari kriminalitas dan aksi premanisme.
Mahasiswa Papua senior yang dituakan di Kota Medan, Silvester Kosamah, didampingi Wakil Ketua IMP Sumut Aris Toteles dan anggota IMP Sumut, menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa.
╔════════════════════════════════╗
“Turnamen ini bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga wadah membentuk jiwa-jiwa sportif yang menjunjung perdamaian serta menjauh dari kriminalitas dan premanisme. Menjaga Kamtibmas adalah tanggung jawab kita bersama.”
╚════════════════════════════════╝
IMP Sumut juga menyatakan dukungan penuh kepada Polda Sumatera Utara dalam upaya memberantas kejahatan jalanan dan premanisme. Menurut mereka, langkah-langkah aparat kepolisian selama ini telah berjalan baik dan patut mendapat dukungan masyarakat.
╔════════════════════════════════╗
“Kami mengajak seluruh masyarakat Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, untuk bersama-sama mendukung kepolisian dalam menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif.”
╚════════════════════════════════╝
Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, kegiatan positif seperti olahraga memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kompetisi. Ia menjadi sarana pembinaan karakter, memperkuat solidaritas, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan energi dan kreativitas secara sehat.
Silvester menegaskan, mahasiswa juga memiliki peran moral untuk terus mengingatkan para pelaku kriminalitas dan premanisme agar kembali ke jalan yang benar. Menurutnya, jika pencarian jati diri menjadi alasan, masih banyak ruang positif yang dapat dipilih untuk membangun masa depan.
Di lapangan itu, bola yang bergulir bukan hanya tentang skor dan kemenangan. Ia membawa pesan sederhana namun kuat: persaudaraan yang dirawat dengan semangat positif akan selalu menjadi benteng paling kokoh melawan kekerasan, kriminalitas, dan perpecahan.














