Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Murid Tendang Guru, Martabat Pendidikan Dipertaruhkan

298
×

Murid Tendang Guru, Martabat Pendidikan Dipertaruhkan

Sebarkan artikel ini

(Student Kicks Teacher, The Dignity of Education at Stake)

KUPANG| BUSERKOTA.Com)-

“Bukan saya yang takut, tapi kepala sekolah yang tidak berani mengambil tindakan tegas. Ini bukan soal pribadi, tapi soal penegakan aturan.” – RLL Guru Komputer SMA Negeri 1 Kupang

Di balik tembok sekolah yang semestinya menjadi taman ilmu, sebuah insiden memilukan justru mencoreng wajah pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Seorang murid berinisial VS, dari SMA Negeri 1 Kupang, diduga melakukan tindakan kekerasan dengan menendang gurunya sendiri, RLL, pada 12 September 2025.

Alih-alih dikeluarkan dari sekolah, VS hanya menerima sanksi skorsing selama satu minggu. Keputusan ini memantik gelombang kekecewaan, bukan hanya dari sang guru, tapi juga dari kalangan pendidik dan organisasi profesi.


✒️ Luka di Ruang Kelas

“VS berulang kali tidak menghargai saya di kelas, berdandan saat pelajaran, dan mengabaikan teguran. Saya sudah berupaya melakukan pendekatan edukatif… namun tidak ada perubahan,” tutur Rini, dengan nada getir.

Puncak masalah itu terjadi saat ujian. VS menolak memberi salam, kembali berdandan, dan mengancam gurunya.

Ketika ditegur, ia justru melawan. Kertas ujian disobek, teguran diberikan, lalu datanglah tendangan murid kepada guru—sebuah peristiwa yang membuat ruang kelas mendadak membeku.

⚖️ Skorsing yang Dipertanyakan

Rini melaporkan kasus ini kepada pimpinan sekolah. Awalnya, muncul kesepakatan untuk mengeluarkan VS. Namun, keputusan berubah: hanya skorsing singkat.

“Bukan efek jera yang lahir, tapi justru ketakutan bagi guru lain. Murid-murid lain kini ikut acuh. Kepala sekolah seperti menutup mata,” tegas Rini.

Ironisnya, orang tua VS malah disebut ikut memperkeruh suasana. Dengan nada merendahkan, ibu VS menuding profesi Rini hanya sebatas guru PPPK, bahkan disertai ancaman melapor ke kepolisian.

📢 PGRI Angkat Suara

Ketua PGRI NTT, Dr. Semuel Haning, S.H., M.H., tak bisa menutupi kekecewaannya.

“Perilaku seperti itu tidak benar. Aturan harus ditegakkan. Guru adalah pahlawan, jangan coba-coba ada yang ganggu. Saya lawan!” tegasnya lantang.

Haning meminta agar Gubernur NTT turut turun tangan, memanggil orang tua siswa, dan membina mereka. Ia juga menekankan bahwa VS seharusnya dikeluarkan dari sekolah sesuai regulasi pelanggaran.

🌱 Solusi untuk Bangsa

Kisah ini bukan sekadar kriminalitas di ruang kelas, melainkan sinyal darurat bagi dunia pendidikan. Semua pihak punya peran:

  1. Guru – Perlu dukungan penuh, bukan hanya dalam mengajar, tapi juga perlindungan hukum dan psikis agar tetap dihormati.
  2. Orang Tua – Harus menjadi teladan, bukan justru mengancam. Anak belajar bukan dari kata-kata, tapi dari sikap.
  3. Pemerintah – Wajib menegakkan aturan disiplin di sekolah tanpa kompromi, serta memperkuat regulasi perlindungan profesi guru.
  4. Penegak Hukum – Tidak boleh ragu memproses ancaman atau kekerasan terhadap guru, karena ini menyangkut harkat negara.

🌍 English Version

“It’s not me who is afraid, but the principal who dares not act firmly. This is not personal, this is about enforcing the rules.” – Rini Laba Lawa, Computer Teacher, SMA Negeri 1 Kupang

What should have been a sanctuary of knowledge turned into a stage of disgrace. A student, identified as VS, allegedly kicked his teacher on September 12, 2025.

Instead of being expelled, the student was merely suspended for one week—a decision that sparked outrage.

“Rules are meant to be obeyed. Teachers are the light in darkness. Whoever dares to disrespect them, I will fight,” declared Dr. Semuel Haning, Chairman of PGRI NTT.

This incident highlights a pressing question: Is our education system strong enough to protect its teachers?

🛠️ Proposed Solutions:

  • Teachers need legal and psychological safeguards.
  • Parents must model respect and discipline.
  • Government should enforce strict policies on school violence.
  • Law enforcers must act decisively against threats and assaults.

Education, after all, is the soul of a nation. If teachers are humiliated, then the dignity of the nation itself is at stake.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *