KUPANG |BUSERKOTA.Com)-Ruang sidang itu seketika hening.
Deru pendingin ruangan terdengar lebih nyaring dari napas para pengunjung yang menahan emosi. Di tengah ruangan, berdiri seorang prajurit muda dengan seragam sederhana dan tatapan kosong yang dalam.
Namanya Prada Ricard Junimton Bulan.
Suara Ricard bergetar, namun setiap kalimatnya memecah keheningan menjadi luka yang baru. Ia bukan sekadar saksi. Ia adalah korban yang masih hidup dari malam gelap yang menelan nyawa sahabatnya, Prada Lucky Namo.
“Ini bukan lagi soal disiplin militer,” ucap Ricard lirih, menatap kursi hakim. “Ini perlakuan yang sangat berat… dan tidak pantas.”
Kata-kata itu menggema di ruang sidang. Sebagian hadirin menunduk, sebagian lagi terdiam kaku. Di luar gedung, keluarga Prada Lucky menunggu dengan wajah penuh harap — menanti secercah keadilan yang telah lama terasa jauh.
Awal dari Malam Gelap Itu
Tanggal 28 Juli 2025, pukul 00.40 Wita.
Ricard masih berada di dapur barak ketika seorang prajurit, Prada Andre Mahoklory, datang membawa pesan dari Dansi Intel, Serka Thomas Desambris Awi.
“Dia panggil saya. Katanya Dansi Intel mau bicara,” kenang Ricard.
Sesampainya di ruangan, ia diminta menyerahkan ponsel dan menjawab beberapa pertanyaan. Yang semula tampak seperti pemeriksaan ringan berubah menjadi awal dari kekerasan yang tak beralasan.
“Dansi menuduh kami melakukan hal yang tidak benar. Tidak ada bukti, tapi kami dipaksa mengaku.”
Di ruangan tertutup itu, suara bentakan menggantikan dialog. Prada Lucky — rekan seperjuangan, sahabat di medan tugas, dan sosok yang dikenal tenang — ikut dipanggil. Ia mencoba menenangkan Ricard, namun justru ikut diseret dalam lingkaran kekerasan.
Antara Pukul 01.00 hingga 03.00 Wita: Saat Martabat Dihancurkan
Seragam mereka dilepas. Teriakan bercampur suara hantaman terdengar silih berganti. Tubuh Ricard gemetar. Lucky mencoba bertahan dengan wajah memar, menatap sahabatnya tanpa kata.
“Kami tidak hanya dipukul. Kami dipermalukan. Kami kehilangan harga diri kami sebagai prajurit,” ujar Ricard, menahan air mata.
Ketika fajar menjelang, keduanya dipisahkan. Lucky tampak lemah. Ricard masih bisa berdiri, tapi jiwanya runtuh.
Hari yang Tak Pernah Terlupakan: 29 Juli 2025
Sejak pukul 09.00 hingga malam, Ricard dikurung tanpa makanan cukup. Tubuhnya penuh luka, pikirannya berkecamuk. Ia tidak tahu, di ruangan lain, nasib Lucky kian memburuk.
“Hari itu kami tak lagi tahu waktu. Yang ada hanya rasa sakit, dan perintah yang terus datang.”
Beberapa perwira datang dan pergi. Situasi makin tegang. Ada yang sempat melarang kekerasan berlanjut, tapi perintah baru datang lagi.
“Lucky menjerit… tapi tidak ada yang menolong,” ucap Ricard dengan suara parau. “Saya hanya bisa lihat dari jauh. Itu detik terakhir saya melihatnya hidup.”
Ruang sidang kembali senyap. Beberapa orang menutup wajah, menahan air mata. Kesaksian itu bukan sekadar kronologi — tapi potongan tragedi kemanusiaan yang tak semestinya terjadi di institusi yang menjunjung kehormatan.
Pelajaran dari Luka yang Terlalu Dalam
Kisah Prada Lucky bukan sekadar kasus pelanggaran disiplin militer. Ia adalah cermin tentang penyalahgunaan kekuasaan yang menembus batas kemanusiaan.
Nilai-nilai dasar tentara — kehormatan, tanggung jawab, dan kemanusiaan — seolah memudar di malam itu.
“Disiplin seharusnya membentuk, bukan menghancurkan,” ujar seorang pengamat hukum militer yang hadir dalam sidang. “Kekerasan yang melampaui batas adalah pengkhianatan terhadap nilai yang dijaga seragam itu sendiri.”
Harapan yang Masih Menyala
Bagi keluarga Prada Lucky, keadilan bukan sekadar putusan pengadilan.
Keadilan adalah pengakuan bahwa anak mereka meninggal bukan karena kelalaian, tapi karena kesalahan yang nyata — yang harus dipertanggungjawabkan.
Ricard kini menjalani proses pemulihan. Ia masih trauma, namun tekadnya bulat: bersuara untuk sahabatnya yang tak lagi bisa berbicara.
“Saya bersaksi untuk dia,” ucap Ricard pelan. “Supaya tidak ada lagi Lucky-Lucky lain yang mati sia-sia.”
Refleksi: Di Atas Segalanya, Ada Kemanusiaan
- Kekuasaan tanpa moral adalah kekerasan.
- Disiplin tanpa empati adalah penghukuman buta.
- Setiap prajurit, setinggi apa pun pangkatnya, terikat oleh satu nilai yang sama: kemanusiaan.
Keadilan mungkin datang perlahan. Tapi malam kelam itu telah menyalakan satu hal yang tidak bisa padam — suara hati nurani yang menuntut kebenaran.
Dan di ruang sidang yang hening itu, suara Ricard menjadi gema dari seluruh rakyat yang menanti satu hal:
Keadilan untuk Prada Lucky Namo.














