Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Parang di Pagi Hari: Nyawa Melayang di Kompleks Pelabuhan Kayu Kepi

171
×

Parang di Pagi Hari: Nyawa Melayang di Kompleks Pelabuhan Kayu Kepi

Sebarkan artikel ini

MAPPI | BUSERKOTA.COM
Pagi itu seharusnya berjalan biasa di Kompleks Pelabuhan Kayu Kepi. Kios-kios kecil baru saja membuka pintu, aroma kayu basah bercampur angin sungai. Namun dalam hitungan menit, ruang yang akrab bagi warga itu berubah menjadi saksi bisu tragedi berdarah.

Seorang pria berinisial MH (42) meregang nyawa setelah tubuhnya disayat parang dan ditusuk senjata tajam. Darah mengalir di antara papan-papan pelabuhan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Peristiwa itu terjadi Rabu pagi (21/01/2026).

Menurut keterangan kepolisian, tragedi bermula saat korban menjaga kios miliknya. Dua pria datang, bukan sebagai pembeli, melainkan dengan niat mengambil paksa barang dagangan. Di tangan mereka tergenggam parang dan pisau—alat yang kemudian menjadi penentu hidup dan mati.

“Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Korban sempat berusaha menghalangi, namun pelaku menyerang secara membabi buta,”
ujar Kasat Reskrim Polres Mappi, Iptu Aditama Tantowi, M.K., S.Tr.K,
mewakili Kapolres Mappi Kompol Suparmin, S.IP., M.H.

Korban mengalami luka bacok dan tikaman di sejumlah bagian vital tubuh. Dalam kondisi kritis, warga berusaha menyelamatkan nyawa MH dengan melarikannya ke RSUD Mappi. Sayang, pendarahan hebat membuat usaha itu tak berbuah harapan. Pukul 09.00 WIT, dokter menyatakan MH meninggal dunia.

Polisi segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), memasang garis polisi, dan mengamankan rekaman CCTV yang merekam detik-detik kejahatan. Identitas kedua terduga pelaku telah dikantongi, dan pengejaran masih berlangsung.

“Motif sementara diduga karena emosi pelaku saat korban menghalangi pengambilan barang dagangan. Namun semua masih kami dalami,”
tegas Iptu Aditama.

Jenazah korban telah menjalani visum dan diserahkan kepada keluarga untuk proses pemakaman. Di sisi lain, peristiwa ini kembali menyisakan pertanyaan besar tentang keamanan ruang-ruang publik, terutama di kawasan ekonomi rakyat seperti pelabuhan dan pasar.

Tragedi Kayu Kepi bukan sekadar catatan kriminal. Ia menjadi alarm keras bagi semua pihak—bahwa kehadiran aparat, pencahayaan, kamera pengawas, dan kewaspadaan kolektif warga bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Di antara hiruk-pikuk pelabuhan, satu nyawa telah pergi. Yang tersisa adalah duka, dan harapan agar hukum bekerja cepat—agar parang tak lagi menjadi bahasa kekerasan di pagi hari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *