Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Jejak Gelap di Perbatasan: TNI Gagalkan Penyelundupan 15 Karung Ball Press dari Timor Leste

204
×

Jejak Gelap di Perbatasan: TNI Gagalkan Penyelundupan 15 Karung Ball Press dari Timor Leste

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA | BUSERKOTA.Com — Dini hari yang seharusnya sunyi di perbatasan itu justru menyimpan gerak-gerak mencurigakan. Dalam remang yang nyaris tak bersuara, langkah-langkah kecil membawa beban besar—barang selundupan yang diam-diam hendak menyeberang batas negara.

Namun malam itu, negara tak tidur.

TNI Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad kembali menunjukkan ketegasannya. Upaya penyelundupan 15 karung pakaian bekas atau ball press dari Timor Leste menuju Indonesia berhasil digagalkan dalam operasi senyap namun presisi.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu dini hari, 15 Maret 2026, di Dusun Kotafoun B, Desa Tohe, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu—sebuah wilayah yang selama ini menjadi garis tipis antara dua negara, sekaligus ruang rawan bagi aktivitas ilegal.

Keberhasilan ini tidak lahir dari kebetulan.

Ia berawal dari kepercayaan.

Pendekatan humanis yang dibangun TNI kepada masyarakat setempat berbuah informasi penting. Danpos Nunura, Letda Arm David Partogi Sagala, menerima kabar tentang aktivitas mencurigakan: sekelompok orang membawa barang dari arah Timor Leste dan mengumpulkannya di salah satu rumah warga.

Informasi itu menjadi pijakan gerak cepat.

Tanpa menunggu lama, personel Pos Nunura Kompi 1 bergerak melakukan patroli. Di lapangan, dua karung ball press berhasil diamankan dari seorang tukang ojek barang yang menggunakan sepeda motor. Penyisiran berlanjut—dan membuka fakta yang lebih besar.

Di sebuah rumah warga, tersimpan 13 karung lainnya.

Total: 15 karung.

╔════════════════════════════════════╗
“Kami bergerak berdasarkan informasi masyarakat. Ini bukti bahwa sinergi dengan warga menjadi kunci menjaga perbatasan.”
╚════════════════════════════════════╝

Dari keterangan tukang ojek, terungkap bahwa seluruh barang tersebut milik seorang pemain penyelundupan bernama Jefri. Rencananya, ball press itu akan dibawa ke Atambua untuk diperjualbelikan—masuk ke pasar tanpa izin, tanpa pengawasan, dan tanpa jejak resmi.

Dalam operasi tersebut, personel Satgas tetap mengedepankan profesionalisme. Setiap langkah dilakukan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku, tanpa mengabaikan pendekatan persuasif kepada masyarakat.

Dansatgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, Letkol Arm Dr. Erlan Wijatmoko, S.H., M.Han., menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja sama yang terbangun kuat antara TNI dan masyarakat di wilayah perbatasan.

╔════════════════════════════════════╗
“Keberhasilan ini adalah hasil dari kerja sama yang baik antara Satgas dan masyarakat di perbatasan.”
╚════════════════════════════════════╝

Analisis Kontekstual
Kasus penyelundupan ball press di wilayah perbatasan bukanlah fenomena baru. Tingginya disparitas ekonomi dan kebutuhan pasar domestik terhadap barang murah seringkali menjadi pemicu utama. Di sisi lain, keterbatasan pengawasan di jalur-jalur tikus memperbesar peluang praktik ilegal ini terus berulang. Namun, pendekatan humanis yang dilakukan aparat terbukti menjadi strategi efektif—membangun kepercayaan sebagai benteng pertama, sebelum hukum berbicara sebagai benteng terakhir.

Di perbatasan, garis negara bukan sekadar batas geografis.

Ia adalah garis kehormatan.

Dan ketika upaya-upaya gelap mencoba melintasinya dalam diam, selalu ada mereka yang berdiri tegak—menjaga, mengawasi, dan memastikan bahwa kedaulatan tidak pernah diselundupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *