Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPeristiwa

Pagi Yang Tergantung di Bukit Cinta: Identitas Korban terkuak, Sunyi Menyelimuti Kota Kupang

245
×

Pagi Yang Tergantung di Bukit Cinta: Identitas Korban terkuak, Sunyi Menyelimuti Kota Kupang

Sebarkan artikel ini

KUPANG |BUSERKOTA.Com — Fajar yang biasanya membawa harapan, Jumat pagi itu justru menyisakan duka yang menggantung di lereng . Di antara cahaya yang baru merekah, sebuah tubuh ditemukan tak lagi bernyawa—diam, tergantung, seakan menyimpan cerita yang tak sempat terucap.

Perlahan, tabir misteri mulai terbuka. Korban teridentifikasi sebagai YF (52), seorang petani, warga , Kecamatan Oebobo, Kota .

Ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sekitar pukul 06.40 Wita, tergantung di sebuah pohon di kawasan yang selama ini dikenal sebagai tempat orang mencari ketenangan—ironis, ketika ketenangan itu justru berubah menjadi saksi bisu sebuah akhir kehidupan.

Peristiwa itu pertama kali disaksikan oleh Ilmasyah Mustafa (15), seorang pelajar asal , Kecamatan Kelapa Lima. Pagi itu, sekitar pukul 06.10 Wita, ia bersama beberapa temannya datang ke Bukit Cinta untuk mengabadikan momen.

Namun yang mereka temukan bukan lanskap indah, melainkan kenyataan yang mengguncang.

“Saat berada sekitar 20 meter dari lokasi, saksi melihat sosok pria tergantung di pohon.”

Ketakutan seketika memecah suasana. Tanpa banyak kata, mereka bergegas meninggalkan tempat itu—meninggalkan jejak langkah yang berubah dari riang menjadi panik—lalu melaporkannya ke Pos Shelter Bundaran Burung.

Kapolsek Maulafa, AKP Fery Nur Alamsyah, S.H., membenarkan kejadian tersebut dan memastikan bahwa lokasi peristiwa berada dalam wilayah hukum Polsek Maulafa.

“Peristiwa tersebut terjadi di wilayah hukum Polsek Maulafa,” ujarnya singkat, menegaskan otoritas penanganan kasus ini.

Analisis Kontekstual
Peristiwa di Bukit Cinta kembali mengingatkan bahwa ruang-ruang publik yang tampak damai sekalipun dapat menyimpan sisi gelap kehidupan manusia. Dugaan bunuh diri bukan sekadar peristiwa hukum, tetapi juga fenomena sosial yang kerap berakar pada tekanan ekonomi, psikologis, dan kesepian yang tak terjangkau oleh sistem pendukung. Dalam konteks ini, kehadiran negara dan masyarakat tidak cukup hanya pada penanganan pascakejadian, tetapi juga pada upaya pencegahan melalui perhatian terhadap kesehatan mental dan kondisi sosial warga.

Di Bukit Cinta, pagi itu, bukan hanya satu nyawa yang berhenti—tetapi juga sebuah pertanyaan panjang yang menggantung di udara: berapa banyak kesedihan yang luput kita dengar, sebelum akhirnya berubah menjadi sunyi yang abadi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *