ATAMBUA |BUSERKOTA.Com — Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika hamparan jagung di Dusun Halibete, Desa Maneikun, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, mulai berbisik tentang kerja keras yang tak pernah sia-sia. Di antara tumpukan hasil panen, tampak sosok berseragam loreng menunduk, tangannya cekatan mengupas jagung—ia adalah Sertu Pedro Mendonsa , yang hari itu memilih larut dalam denyut kehidupan petani.
Senin (23/3/2026) menjadi saksi bagaimana anggota Satgaster Kodim 1605/Belu Pos Halibete 1 Sertu Pedro Mendonsa tidak hanya hadir sebagai aparat negara, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat. Bersama para petani, mereka bergotong royong mengupas hasil panen jagung—sebuah proses sederhana, namun menentukan bagi kelanjutan siklus produksi pangan.
Kehadiran Satgaster Pos Halibete 1 ini menjadi energi tambahan dalam mempercepat masa pascapanen. Jagung yang telah dipanen segera dipipil, lalu dijemur di bawah terik matahari, menyiapkan diri untuk tahap pengeringan berikutnya. Di ladang itu, waktu terasa berharga—setiap detik berarti kualitas, setiap kerja berarti keberlanjutan.
“Peran aktif kami di bidang pertanian merupakan bagian dari upaya sebagai aparat Komando Kewilayahan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat, khususnya para petani, serta menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan mereka,” terang Sertu Pedro Mendonsa.
Apa yang dilakukan bukan sekadar membantu pekerjaan fisik. Ia menanamkan rasa kebersamaan—bahwa negara hadir bukan hanya dalam kebijakan, tetapi juga dalam peluh yang jatuh di ladang-ladang rakyat.
“Kami berharap, dengan keterlibatan ini, kesejahteraan para petani dapat terus meningkat dari tahun ke tahun.”
Secara kontekstual, keterlibatan Satgaster dalam aktivitas pertanian mencerminkan pendekatan teritorial TNI yang semakin adaptif terhadap kebutuhan riil masyarakat. Di wilayah perbatasan seperti Belu, di mana sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi, kehadiran aparat tidak hanya berfungsi menjaga kedaulatan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan mempererat ikatan sosial antara negara dan rakyatnya.
Di ladang Halibete, jagung-jagung yang dipipil hari itu bukan hanya hasil panen—ia adalah simbol harapan. Dan di antara tangan petani dan serdadu yang bekerja berdampingan, tersirat satu makna sederhana namun mendalam: kesejahteraan tumbuh ketika kebersamaan ditanam dan dirawat dengan ketulusan.














