Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalInfo Publik

Penggerebekan Pasangan Selingkuh Cinta Terlarang di Liliba

48
×

Penggerebekan Pasangan Selingkuh Cinta Terlarang di Liliba

Sebarkan artikel ini

 

KUPANG | BUSERKOTA.Com — Siang itu di Liliba,Kota Kupang,Nusa Tenggara Timur, sunyi sebuah rumah mendadak pecah oleh amarah dan pengkhianatan. Bukan sekadar penggerebekan biasa, melainkan peristiwa yang membuka luka paling dalam: ketika kepercayaan dikhianati di ruang yang seharusnya paling aman—rumah sendiri.

Warga Kota Kupang dikejutkan oleh insiden dugaan perselingkuhan pada Jumat, 3 April 2026. Dua oknum pejabat kelurahan digerebek langsung oleh suami sah pihak perempuan—seorang anggota Kepolisian—di kediaman pribadi mereka di Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo.

Peristiwa ini menyeret nama Richardson Zacharias Therik, seorang PNS yang menjabat sebagai Lurah Tode Kisar, bersama Lady Amatae, yang saat ini menjabat sebagai Plt. Lurah Fontein.

Kejadian bermula dari sebuah informasi yang datang tiba-tiba—sebuah kabar yang mengguncang batin seorang suami yang tengah berjuang memulihkan kesehatan akibat stroke ringan. Saat itu, ia sedang menginap di rumah keluarga di kawasan Lasiana, ketika kabar tentang dugaan perselingkuhan istrinya sampai ke telinganya.

Dengan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih, ia tetap memaksakan diri menuju rumahnya di Liliba. Bukan sekadar ingin tahu, tetapi untuk memastikan—apakah kepercayaan yang ia bangun selama ini benar-benar runtuh.

Dan di sanalah semuanya terjawab.

Setibanya di lokasi, ia mendapati istrinya tengah bersama pria lain. Fakta itu tak lagi bisa dibantah. Seketika, emosi pun meledak. Keluarga yang turut hadir di lokasi tersulut amarah, dan situasi berubah menjadi tak terkendali.

Kedua terduga pelaku menjadi sasaran luapan emosi. Tindakan spontan berupa kekerasan tak terhindarkan. Mereka dihajar hingga babak belur, dengan luka serius terutama di bagian wajah—sebuah gambaran pahit dari amarah yang kehilangan kendali.

“Ketika kepercayaan dikhianati, yang runtuh bukan hanya hubungan, tetapi juga harga diri, kehormatan, dan kendali emosi yang paling dalam.”

Situasi yang memanas segera mendapat respons aparat. Tim Zero dari Direktorat Reserse Pelayanan Perempuan dan Anak (Ditres PPA) serta Pelayanan Perempuan dan Orang Terlantar (PPO) Polda NTT bergerak cepat menuju Tempat Kejadian Perkara.

Di dalam rumah, petugas menemukan jejak kekacauan—ceceran kecap dan saus di lantai, menjadi saksi bisu bahwa peristiwa itu berlangsung dalam kepanikan dan kemarahan. Terduga pelaku pria ditemukan dalam kondisi terduduk, berlumuran darah, sementara terduga pelaku perempuan telah lebih dulu dilarikan ke RSB Titus Uly untuk penanganan medis.

Guna meredam situasi dan mencegah amukan yang lebih luas, aparat bersama tim Raimas Ditsabhara Polda NTT segera mengevakuasi Richardson Zacharias Therik ke RS Bhayangkara Kupang. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan serta menghindari tindakan lanjutan dari massa yang masih tersulut emosi.

Di lokasi, polisi juga melakukan olah TKP awal, terutama di dalam kamar yang diduga menjadi tempat terjadinya peristiwa tersebut. Sementara itu, pihak suami diarahkan untuk segera membuat Laporan Polisi resmi sebagai dasar proses hukum lebih lanjut.

Kini, kasus ini tengah ditangani oleh penyidik Ditres PPA dan PPO Polda NTT. Dugaan perselingkuhan yang melibatkan dua oknum abdi negara ini menjadi sorotan publik, bukan hanya karena perbuatannya, tetapi juga karena posisi mereka sebagai figur pelayanan masyarakat.

Secara kontekstual, peristiwa ini menjadi cermin retaknya integritas dalam ruang publik ketika persoalan pribadi tak lagi mampu dijaga. Ketika aparatur yang seharusnya menjadi teladan justru terseret dalam skandal moral, maka kepercayaan masyarakat ikut dipertaruhkan. Lebih dari sekadar kasus perselingkuhan, ini adalah ujian bagi etika, profesionalisme, dan batas antara ranah pribadi dan tanggung jawab publik.

Di balik semua itu, satu hal menjadi nyata—bahwa luka akibat pengkhianatan tak hanya meninggalkan bekas di tubuh, tetapi juga di hati, dan sering kali, yang paling sulit dipulihkan bukanlah fisik, melainkan kepercayaan yang telah hancur.

Penulis: Redaksi BuserkotaEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *