BANJARMASIN |BUSERKOTA.Com — Usai gema doa mereda dan langkah umat meninggalkan bangku-bangku misa, kehangatan Paskah justru menemukan bentuknya yang paling nyata: tangan-tangan yang memberi, senyum yang saling menyapa, dan paket-paket sederhana yang memuat makna persaudaraan.
Di Aula Paroki , Minggu (5/4/2026), suasana berubah menjadi ruang berbagi. Pastor Paroki St.Laurensius De Brindisi Kelumpang,Keuskupan Banjarmasin RP Robertus Bellarminus,OFMCap bersama pastor rekan RP William James Kwere OFM.Cap dan para suster DPP, menggelar aksi pembagian sembako gratis kepada umat—sebuah perayaan yang tak berhenti di altar, tetapi menjelma dalam tindakan kasih.
Beras, minyak goreng, gula, kopi, teh, biskuit hingga mi instan tersusun rapi. Namun yang paling ditunggu bukan sekadar isi paket, melainkan momen ketika umat menggenggam kupon dan menanti nomor keberuntungan mereka dipanggil.
Panitia merancang pembagian dengan sentuhan sederhana namun penuh kegembiraan: nomor 1 berhak atas beras 5 kilogram, nomor 2 mendapatkan minyak goreng 2 liter, nomor 3 memperoleh gula, kopi, dan teh, sementara nomor 4 membawa pulang supermi, biskuit, dan mi wow spageti. Di balik angka-angka itu, terselip tawa, harap, dan rasa cukup yang lahir dari kebersamaan.
Di tengah suasana hangat itu, Pastor Robertus menyampaikan pesan yang melampaui nilai materi.
╔════════════════════════════════════════╗
║ “Hadiah yang diterima umat bukan ║
║ dilihat dari besar dan nilainya, ║
║ tetapi sebagai ikatan persaudaraan ║
║ setelah kita melewati masa puasa ║
║ selama 40 hari menyambut kemenangan ║
║ kebangkitan Yesus Kristus.” ║
╚════════════════════════════════════════╝
Baginya, Paskah bukan sekadar perayaan liturgi, melainkan momentum untuk meneguhkan iman dalam tindakan nyata—bahwa kasih tidak berhenti di kata, tetapi hidup dalam berbagi.
╔════════════════════════════════════════╗
║ “Paskah berarti: Pasti Aku Selamat ║
║ Karena Allahku Hidup.” ║
╚════════════════════════════════════════╝
Analisis kontekstual:
Apa yang terjadi di Kelumpang mencerminkan wajah Gereja yang kontekstual—iman yang membumi di tengah realitas umat. Di saat kebutuhan ekonomi masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat, pendekatan pastoral seperti ini bukan hanya simbolis, tetapi juga relevan. Gereja hadir bukan sebagai menara gading spiritual, melainkan sebagai ruang solidaritas sosial yang mempertemukan iman dan kepedulian dalam satu tarikan napas.
Paskah di Kelumpang akhirnya tidak hanya dikenang sebagai perayaan kebangkitan, tetapi juga sebagai momen ketika kasih menjadi nyata—dibungkus dalam paket sederhana, dibagikan dengan tulus, dan diterima dengan hati yang penuh syukur.














