Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaInfo PublikPemerintahan

Membaca Sebelum Membangun: Langkah Sunyi Pemkab Mimika Menyelamatkan Generasi dari Kampung

57
×

Membaca Sebelum Membangun: Langkah Sunyi Pemkab Mimika Menyelamatkan Generasi dari Kampung

Sebarkan artikel ini

JAKARTA |BUSERKOTA.Com — Di tengah riuh pembangunan yang kerap diukur dari panjang jalan dan tinggi gedung, Pemerintah Kabupaten Mimika memilih memulai dari sesuatu yang jauh lebih sunyi namun menentukan: kemampuan seorang anak mengeja kata demi kata.

Bagi Bupati Mimika Johannes Rettob, pembangunan tidak cukup berhenti pada beton dan infrastruktur. Ada pekerjaan yang lebih mendasar, lebih panjang napasnya, sekaligus lebih menentukan masa depan—memastikan anak-anak di kampung mampu membuka halaman buku dan memahami dunia melalui bacaan.

Kesadaran itulah yang membawa Pemkab Mimika menjajaki kerja sama dengan akademisi diaspora Indonesia, Prof Elwin Tobing, dalam bidang penguatan literasi membaca. Audiensi yang berlangsung di Jakarta, Rabu (17/6/2026), menjadi titik awal sebuah ikhtiar pendidikan yang diarahkan untuk menjawab persoalan mendasar di wilayah tersebut.

“Fokus kami adalah bagaimana meningkatkan literasi membaca. Kita akui masih banyak anak-anak, bahkan hingga kelas 5 SD, yang belum bisa membaca,” ujar Johannes.

Pernyataan itu bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan gambaran nyata tentang tantangan pendidikan yang masih dihadapi, terutama di wilayah pedalaman Mimika. Di usia ketika anak semestinya mulai membaca dunia, sebagian masih berjuang mengenali huruf.

Johannes menilai pengalaman dan berbagai program pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki Prof Elwin Tobing—yang saat ini mengajar di Amerika Serikat—berpotensi diadaptasi untuk menjawab kebutuhan pendidikan di Mimika.

Kerja sama yang dijajaki tidak berhenti pada konsep. Pemerintah daerah membuka peluang menghadirkan pendampingan intensif bagi siswa dengan melibatkan tenaga lokal yang direkrut untuk mendampingi proses belajar membaca di kampung-kampung. Dinas Pendidikan juga akan dilibatkan agar program berjalan secara sistematis dan terintegrasi.

Sebagai pijakan awal, Pemkab Mimika akan melakukan pendataan menyeluruh terhadap siswa yang belum memiliki kemampuan membaca. Pendataan dilakukan berbasis nama dan sekolah agar setiap intervensi benar-benar menjangkau anak yang membutuhkan.

“Setelah data terkumpul, baru kita tindak lanjuti dengan kerja sama resmi melalui MoU dan perjanjian kerja sama,” jelas Johannes.

Langkah tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan pembangunan pendidikan: bukan sekadar menambah fasilitas, tetapi membaca persoalan hingga ke tingkat individu—siapa yang tertinggal, di mana mereka berada, dan bagaimana negara hadir secara lebih presisi.

Di saat yang sama, peningkatan literasi menjadi bagian dari agenda yang lebih luas. Selain membaca, Pemkab Mimika juga memperkuat kemampuan berhitung melalui kerja sama dengan Prof Yohannes Surya yang sebelumnya telah diformalkan.

Johannes menegaskan arah pembangunan daerahnya tidak hanya bertumpu pada proyek fisik, tetapi pada penguatan kualitas manusia, terutama masyarakat kampung.

“Kita membangun dari kampung ke kota. Jadi yang kita dorong bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat, termasuk pendidikan dan kesehatan,” ujarnya.

Secara kontekstual, langkah Mimika menunjukkan pergeseran penting dalam cara pemerintah daerah memaknai kemajuan. Ketika banyak wilayah berlomba menghadirkan simbol pembangunan yang terlihat, Mimika justru mulai menata fondasi yang tak selalu kasatmata: kemampuan membaca, kemampuan memahami, dan kemampuan bertumbuh.

Sebab pada akhirnya, sebuah daerah tidak hanya dikenang dari jalan yang dibangun, melainkan dari generasi yang berhasil dibukakan jalan pikirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *