UGIMBA |LINTASTIMOR.ID-Di Distrik Ugimba, Intan Jaya, tanah yang pernah menjadi sunyi oleh bayang-bayang konflik, Merah Putih kembali dikibarkan dengan tegak pada Senin, 17 Agustus 2026. Satgas TNI Habema menggelar upacara peringatan HUT ke-81 RI di bekas markas Organisasi Papua Merdeka, lokasi yang sebelumnya ditempati OPM Kodap VIII/Kemabu pimpinan Sabinus Walker.
Upacara itu berlangsung di bawah kendali Kogabwilhan III dan dihadiri Bupati Intan Jaya Aner Maisini serta anggota DPRD Intan Jaya Titus Kobogau.
Hadirnya para pejabat daerah memberi penegasan bahwa momen pengibaran bendera bukan sekadar seremoni, melainkan penanda hadirnya negara di titik yang selama ini menyimpan jejak ketegangan.
“Satgas TNI Habema di bawah kendali Kogabwilhan III menggelar upacara bendera di bekas markas OPM Kodap VIII/Kemabu pimpinan Sabinus Walker,” kata Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).
Sebelum upacara digelar, Lucky lebih dulu meninjau bekas markas yang selama sepekan terakhir telah dikuasai TNI. Di lokasi itu, negara seolah menegaskan kehadirannya kembali, bukan lewat gema senjata, melainkan lewat barisan upacara dan kibaran bendera di tanah yang pernah dirundung kecemasan.
“Terlebih dahulu memeriksa markas milik Sabinus Walker yang dikenal sangat bengis terhadap siapa pun, termasuk masyarakat asli Papua, sebelum menggelar upacara bendera peringatan HUT RI,” ujarnya.
Kelompok yang dikaitkan dengan Sabinus Walker, yang menamakan diri Kemabu, disebut memiliki pecahan-pecahan kecil dan aktif melakukan berbagai aksi kekerasan selama periode April hingga Oktober 2020. Dalam periode itu, sedikitnya lima orang meninggal dunia, enam mengalami luka, dan dua warga asli Papua dinyatakan hilang setelah serangan mendadak ke sejumlah permukiman penduduk di Papua Pegunungan.
“Sedikitnya 5 orang meninggal dunia, 6 menderita luka, dan 2 warga asli Papua dinyatakan hilang pascaserangan mendadak yang dilakukan oleh kelompok Sabinus Walker ke sejumlah pemukiman penduduk di Papua Pegunungan,” kata Lucky.
Ia juga mengimbau masyarakat agar kembali tinggal di Distrik Ugimba. Menurut dia, TNI menjamin keamanan dan ketenangan wilayah yang kini telah dikuasai dan diduduki Satgas TNI Habema di bawah kendali Kogabwilhan III.
Dalam konteks Papua, upacara di bekas markas kelompok bersenjata bukan hanya peristiwa militer, melainkan juga simbol politik, sosial, dan psikologis: tanda bahwa ruang yang lama diperebutkan ingin dipulihkan menjadi ruang hidup warga. Di titik itulah, bendera tidak sekadar kain, melainkan isyarat bahwa negara tengah berusaha kembali menambatkan harapan di tanah yang lama letih oleh ketakutan.
Pada akhirnya, di Ugimba, Merah Putih bukan hanya berkibar di tiang upacara, tetapi juga mencoba menegakkan kembali rasa percaya yang pernah goyah.














