LABUAN BAJO | BUSERKOTA.Com — Sore mulai turun di Labuan Bajo ketika bantuan kemanusiaan bergerak meninggalkan titik keberangkatan. Di tengah kabar bencana yang masih menyelimuti Flores, 10 ton beras dan 10.000 dos mi instan diberangkatkan untuk menjangkau warga terdampak di Manggarai Barat.
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Beni K Harman, turun langsung memastikan bantuan tanggap darurat dari DPP Partai Demokrat bergerak cepat dan tepat sasaran menuju titik-titik lokasi bencana.
“Sore ini di Labuan Bajo, saya turun langsung memastikan bantuan tanggap darurat dari DPP Partai Demokrat bergerak cepat dan tepat sasaran menuju titik-titik lokasi bencana,” kata Beni K Harman.
Bagi Beni, bantuan tersebut bukan sekadar deretan angka dalam daftar logistik. Di balik 10 ton beras dan 10.000 dos mi instan, terdapat kebutuhan paling mendasar warga yang tengah menghadapi situasi darurat: pangan yang harus segera sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Tahap pertama bantuan itu resmi diberangkatkan pada Minggu sore untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Manggarai Barat.
“Tahap pertama hari ini, armada logistik berisi 10 ton beras dan 10.000 dos mi instan resmi kita berangkatkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak saudara-saudari kita di Manggarai Barat,” ujar Beni.
Namun, gerakan tersebut tidak berhenti di Manggarai Barat. Beni menegaskan, “Demokrat Peduli Bencana Flores” akan dilanjutkan dengan menyisir seluruh kabupaten di Flores guna memastikan warga yang terdampak bencana memperoleh bantuan.
“Gerakan ‘Demokrat Peduli Bencana Flores’ ini tidak akan berhenti di sini. Kami akan menyisir semua kabupaten di Flores untuk memastikan warga yang terdampak bencana dapat terbantu,” tegasnya.
Bantuan dan Ujian Solidaritas
Dalam situasi bencana, kecepatan distribusi menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan. Bantuan tidak cukup hanya tersedia; ia harus bergerak dari gudang menuju titik-titik kebutuhan dengan tepat waktu dan tepat sasaran. Karena itu, keterlibatan langsung Beni dalam memastikan keberangkatan logistik menjadi bagian dari upaya memperpendek jarak antara bantuan dan warga yang sedang membutuhkan.
Di Flores, bencana bukan hanya meninggalkan kerusakan yang terlihat mata. Ia juga menghadirkan kecemasan, keterbatasan kebutuhan dasar, dan ketidakpastian bagi masyarakat terdampak. Pada ruang semacam itulah solidaritas menemukan maknanya—ketika bantuan datang bukan sekadar sebagai barang, tetapi sebagai pesan bahwa mereka yang sedang menghadapi bencana tidak berjalan sendirian.
Sore di Labuan Bajo akhirnya menjadi saksi bahwa solidaritas kembali mengambil jalan: dari kepedulian, menjadi bantuan; dari bantuan, menjadi gerak kemanusiaan untuk Flores.














