Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPemerintahanPeristiwa

Merah Putih Kembali Berkibar di Baiturrahman

12
×

Merah Putih Kembali Berkibar di Baiturrahman

Sebarkan artikel ini

BANDA ACEH |BUSERKOTA.Com— Merah Putih kembali berkibar di kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (16/8/2026). Di antara jejak ketegangan yang masih terasa setelah kericuhan sehari sebelumnya, sejumlah personel TNI bersama masyarakat memilih menghadirkan pemandangan yang lebih teduh: sebuah bendera kembali ditegakkan menjelang peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia.

Pemasangan dilakukan personel gabungan TNI AD bersama masyarakat setelah bendera Merah Putih yang sebelumnya terpasang di kawasan tersebut dicopot massa dalam aksi yang berujung ricuh saat peringatan Hari Damai Aceh, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan itu dipimpin Kasdim 0101/Kota Banda Aceh Letkol Inf Muhsin, S.Ag., M.A.P. Sejumlah satuan turut terlibat, yakni personel Kodim 0101/KBA, Yonif 112/DJ, Yon Armed 17/Rencong Cakti, dan Yon Zipur 16/Dhika Anoraga.

Mereka datang bukan untuk menambah riuh suasana. Di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Merah Putih kembali dipasang sebagai bagian dari upaya mengembalikan simbol kebangsaan menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Merah Putih di tengah ingatan Aceh

Ada sesuatu yang berbeda ketika Merah Putih kembali berkibar di halaman masjid yang menjadi salah satu ikon sejarah Aceh itu.

Sehari sebelumnya, kawasan tersebut menjadi bagian dari peristiwa yang diwarnai kericuhan. Kini, suasananya bergerak menuju sesuatu yang lebih tenang. Merah Putih kembali mengambil tempat, sementara masyarakat bersiap menyambut hari kemerdekaan.

Pemasangan bendera itu sekaligus berlangsung sehari setelah Aceh memperingati Hari Damai Aceh. Tanggal 15 Agustus merupakan momentum untuk mengenang penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki pada 15 Agustus 2005 yang mengakhiri konflik bersenjata antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka.

Karena itu, peristiwa di sekitar Masjid Raya Baiturrahman tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang Aceh: konflik, perdamaian, identitas, dan kehidupan bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Merah Putih yang kembali berkibar bukan sekadar kain yang dipasang pada tiang. Ia adalah simbol bahwa ruang bersama harus kembali dirawat setelah ketegangan berlalu.”

Di titik itulah pemasangan kembali bendera memiliki makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya pekerjaan teknis menjelang 17 Agustus, tetapi juga pesan visual bahwa suasana damai perlu dijaga bersama.

Ketika simbol menjadi pesan

Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan tempat umat Islam beribadah. Masjid tersebut telah menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Aceh. Setiap peristiwa yang berlangsung di sekitarnya karena itu mudah memperoleh makna sosial yang lebih luas.

Pemasangan Merah Putih oleh personel gabungan TNI bersama masyarakat menjadi semacam penanda kecil bahwa setelah kericuhan, ketenangan harus kembali mendapatkan ruang.

“Di tanah yang pernah panjang mengenal konflik, perdamaian tidak cukup hanya dikenang. Ia harus dijaga dalam tindakan-tindakan kecil, termasuk ketika kita memilih untuk kembali menegakkan simbol kebersamaan.”

Secara kontekstual, momentum ini menunjukkan bahwa Aceh memiliki pengalaman sejarah yang membuat isu identitas dan simbol kebangsaan sangat sensitif. Karena itu, pendekatan yang mengutamakan ketenangan, penghormatan terhadap sejarah, serta ruang dialog menjadi penting agar simbol apa pun tidak berubah menjadi sumber pertentangan baru.

Menjelang 17 Agustus, Merah Putih akhirnya kembali berdiri di kompleks Baiturrahman.

Bukan dengan suara yang keras.

Bukan pula dengan perdebatan yang panjang.

Ia hadir dalam kesunyian sebuah pagi, menjadi warna yang perlahan mengisi ruang setelah sehari sebelumnya dipenuhi ketegangan.

“Barangkali, makna kemerdekaan yang paling sederhana adalah ketika kita masih mampu berdiri bersama, berbeda dalam ingatan, tetapi tidak berbeda dalam menjaga kedamaian.”

Di bawah kibaran Merah Putih itu, Aceh kembali menatap hari esok.

Dan sebuah bendera, yang tampak sederhana dari kejauhan, hari itu membawa pesan yang jauh lebih besar: perdamaian yang telah diperjuangkan tidak boleh kembali kehilangan tempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *