Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPeristiwa

Abu di Nambai: Ketika Api Melahap Ingatan Kampung

12
×

Abu di Nambai: Ketika Api Melahap Ingatan Kampung

Sebarkan artikel ini

MAPPI |BUSERKOTA.Com– Di tengah heningnya Minggu (16/8/2026), keheningan Kampung Linggua di Distrik Nambai, Mappi, pecah oleh deru api yang rakus. Bukan sekadar kobaran biasa, melainkan amukan “si jago merah” yang lahir dari kekeringan ekstrem, melompat dari semak belukar liar di area belakang bangunan kantor kampung yang telah lama terbengkalai. Dalam hitungan menit, atap dan plafon kayu yang kering kerontang menjadi santapan empuk, mengubah sisa-sisa memori administrasi desa itu menjadi gumpalan asap hitam yang mengepul ke langit Papua.

Kapolsek Nambai, Iptu Hasan Humanahu, tiba di lokasi dengan napas terengah, membawa serta urgensi yang mendesak. Tanpa menunggu bantuan berat, ia dan personelnya langsung terjun ke garis depan, berjuang memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, realitas lapangan berbicara lebih keras daripada niat baik. “Kami sudah berupaya memadamkan api, namun keterbatasan alat dan sumber air yang jauh—ditambah musim kemarau yang sedang mencekam Nambai—membuat upaya awal kurang maksimal,” aku Hasan dalam nada suara yang tersaring lelah melalui sambungan telepon. Pengakuan itu bukan alasan, melainkan cerminan jujur dari keterbatasan infrastruktur di wilayah terpencil.

Tak patah arang, insting kepemimpinan Hasan mengambil alih. Ia memerintahkan tim untuk kembali ke markas, mengambil tangki profil air yang dilengkapi mesin pompa, sebuah senjata terakhir melawan si jago merah. Dengan kegigihan yang patut dihormati, mereka kembali menerjang panasnya bara. Tetes demi tetes air yang disemprotkan akhirnya berhasil menjinakkan nyala api sebelum sempat melahap struktur lain di sekitarnya. Investigasi awal mengonfirmasi apa yang sudah terlihat oleh mata telanjang: kelalaian dalam menjaga kebersihan vegetasi di sekitar bangunan kosong telah menjadi sumbu pendek bagi bencana ini. “Bangunan yang lama tidak digunakan membuat vegetasi sekitar tumbuh liar dan kering, sehingga api mudah merembet,” tegas Hasan, menyoroti akar masalah yang sering diabaikan.

Di balik reruntuhan hangus Kantor Kampung Linggua, tersimpan sebuah analisis kontekstual yang menyayat hati. Insiden ini bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan gejala kronis dari absennya perawatan fasilitas publik di daerah otonomi baru seperti Mappi. Ketika sebuah bangunan dibiarkan kosong tanpa pengawasan rutin, ia berubah dari aset negara menjadi beban ekologis yang rentan terhadap bahaya kebakaran lahan. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang larangan membakar lahan, ditambah dengan minimnya kepedulian aparat kampung terhadap sanitasi lingkungan, menciptakan bom waktu yang suatu hari pasti meledak, persis seperti yang terjadi di Linggua hari itu.

Hingga kini, total kerugian material belum dapat dipastikan, mengingat bangunan tersebut memang sudah lama tak berpenghuni. Namun, nilai yang hilang mungkin lebih dari sekadar kayu dan seng; itu adalah simbol kehadiran negara yang perlahan pudar dimakan waktu dan lalai. Peristiwa di Nambai ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua: bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya soal estetika, melainkan bentuk paling dasar dari rasa cinta dan tanggung jawab terhadap tanah tempat kita berpijak. Karena abu yang tersisa hari ini adalah pengingat pahit bahwa kelalaian kecil bisa menghapus jejak sejarah besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *